Terhitung sudah dua tahun
saya menjalankan tugas ganda sebagai guru BK pengganti. Bukan, bukan karena
saya kekurangan pekerjaan, kelebihan iya, hehehe. Tetapi karena tugas guru BK
berhimpitan dengan tugas tambahan saya yang lain. Sebelumnya, guru BK meninggal
dunia dan belum ada pengganti guru BK sampai saat ini. Maka, jadilah saya
menjelma sebagai guru BK sementara, khususnya yang berkaitan dengan
pengembangan karier.
![]() |
| Dibuat oleh AI |
Apa yang saya pelajari setelah menjadi guru BK?
Belajar mendengarkan. Ya, setelah detik demi detik tugas guru BK tak kunjung berpindah, saya kemudian mempelajari satu hal yang harus dimiliki oleh guru BK. Yaitu belajar mendengarkan keluhan dan keinginan dari siswa. Apalagi jika berkaitan dengan karier. Jangan sampai keinginan dan mimpi siswa meredup hanya karena perkataan dan saran yang saya berikan. Tidak masalah apabila saran dan perkataan itu bisa membuat mereka bahagia. Namun, bila yang terjadi sebaliknya? Menjauhkan siswa dari kebahagiaan hidup dan mimpi yang ingin dicapai, huwaaaa.. hiks. Sungguh, saya akan sangat merasa bersalah.
Apakah mendengarkan itu
mudah? Tentu tidak. Bagi saya yang tidak bercita-cita sebagai psikolog, mendengarkan
tanpa menginterupsi dan menyimak semua cerita dengan penuh perhatian itu
membutuhkan energi, kesabaran dan pengalaman.
Membutuhkan energi sebab
mendengarkan pasti memerlukan waktu yang tidak sebentar. Oleh sebab itu, energi
saya harus penuh. Secara fisik maupun psikis. Tidak lucu kan kalau di
tengah-tengah sesi curhat tiba-tiba perut saya berdendang karena kelaparan,
hehehe.
Membutuhkan kesabaran. Pasti!
menunggu kisah yang belum tentu ada akhirnya itu bisa jadi membosankan. Karenanya
harus menyediakan stok sabar yang luar biasa. Agar kisah yang diceritakan
memiliki akhir yang sempurna bagi siswa.
Membutuhkan pengalaman. Betul!
Pertama kali bertugas sebagai guru BK, saya masih tidak bisa menyimak dengan
baik. Saat mendengarkan, pada waktu-waktu tertentu, pikiran saya mengembara ke
tempat lain. Sebelum akhirnya menyadari bahwa saya berada dalam kegiatan
mendengarkan.
Seiring waktu, fokus untuk
mendengarkan semakin terlatih. Saya mulai belajar untuk sabar mendengarkan,
menyiasati agar energi tetap terjaga penuh dan menghindari kebosanan ketika
mendengarkan. Pun akhirnya dalam sesi kehidupan yang lain, saya juga mulai belajar
mendengarkan. Agar nantinya seirama dengan tugas ganda yang sementara saya
emban. Entah sampai kapan, hehehe.
Dua tahun bukan waktu yang
singkat untuk mengemban tugas ganda. Kendati demikian mendengarkan kisah siswa
dalam merangkai cita-cita, membuat saya banyak belajar. Belajar mendengarkan,
belajar memberikan ketenangan ketika menemukan kegagalan hingga belajar
memberikan wawasan. Agar mimpi yang diinginkan siswa tetap dapat tercapai
dengan berbagai macam langkah dan rencana yang matang.
Dari siswa, saya juga belajar
bahwa kadangkala mereka tidak membutuhkan jawaban panjang. Mereka hanya butuh
seseorang yang mau mendengarkan tanpa terburu-buru menghakimi. Sebab, dari
cerita yang didengarkan dengan tulus, mungkin nantinya lahir keberanian untuk
mencoba kembali, bangkit dari kegagalan, dan melanjutkan perjalanan menuju
cita-cita. Semangat!
Posted by 

Masa sekarang dimana pembelajaran mendalam meminta para guru mengintegrasikan disiplin ilmu nya dengan program sekolah atau konteks nyata di lingkungan sekitar, saya melihat disiplin ilmu yang ibu ampu juga dapat diintegrasikan dengan tugas tambahan yang saat ini ibu ceritakan, Fisika Kuantum semisal 😁 di integrasikan dengan disiplin ilmu Bimbingan dan konseling, namun alangkah baiknya jika suatu ketika datang guru BK agar Energi yang dikeluarkan untuk mendengar lebih efisien 🙏 Wallahu a lam
ReplyDeleteLuar biasa, love Bu is
ReplyDelete