Custom Search

2018-11-25

MEDIA SOSIAL MENYEBABKAN DEPRESI BAGI REMAJA, FAKTA ATAU HOAX?

Kemarin saat membuka akun twitter, saya menjumpai tweet berupa pertanyaan 

pernah berpikir untuk uninstall instagram karena depresi?”

Reply tweet ini mencapai 300-an. Awalnya saya berpikir mayoritas reply mengatakan tidak. Ternyata salah. Hanya 12 komentar yang mengatakan tidak dari 50 reply teratas yang saya baca, sedangkan 31 komentar lainnya mengatakan pernah uninstall instagram dan berbagai media sosial lain karena merasa depresi. Jadi, media sosial bisa menyebabkan depresi bagi remaja merupakan fakta atau hoax?  

media sosial menyebabkan depresi
Sumber : familyandmedia.eu

Depresi memiliki gejala antara lain sedih, galau, hilang semangat, merasa gagal dan sendirian, hingga yang paling parah adanya pikiran untuk bunuh diri.hellosehat.com

Biasanya yang rentan diserang depresi karena media sosial adalah artis, atlit dan para tokoh publik. Sebab, segala tingkah lakunya sering menjadi sorotan sehingga memancing komentar warganet di media sosial. Komentar yang bersifat negatif rentan menjadi sumber depresi.  

Lantas, jika bukan termasuk golongan artis, atlit, atau tokoh publik, mengapa masih bisa terserang depresi karena media sosial? Diluar depresi karena stalking akun mantan (ups), ternyata citra kehidupan yang ditampilkan dalam media sosial bisa menjadi penyebab seseorang terserang depresi. Terutama bagi para remaja.

Banyak orang kini menjadikan konten-konten media sosial sebagai standar nilai sosial, khususnya yang berkaitan dengan penampilan. Standar-standar yang muncul dari media sosial sering kali menimbulkan tekanan pada remaja untuk menampilkan diri mereka sedemikian rupa sesuai dengan apa yang ia lihat di media sosial, dan membuat mereka kehilangan kepercayaan diri jika tidak mampu memenuhi standar tersebut.- Prof. Siswanto Agus Wilopo (Media Sosial jadi Pemicu Depresi pada Remaja, ugm.ac.id).

Masa remaja merupakan masa pencarian jati diri. Adanya media sosial sebenarnya menguntungkan bagi para remaja masa kini. Mereka dapat dengan mudah mencari berbagai macam informasi untuk mendukung pengembangkan diri.

Bandingkan dengan kehidupan masa lalu. Untuk bisa menjadi penulis, kita harus mengirimkan tulisan pada media dan menunggu dengan harap-harap cemas. Sekarang, tinggal buka blog, wattpad, storial, atau kompasiana. Ketik-ketik cantik dan ketika tulisan tersebut tayang, kita sudah bisa dianggap sebagai menjadi seorang penulis, mudah kan? Hehehe.   

Namun, kecepatan arus informasi dapat bernilai negatif jika tidak diimbangi dengan kemampuan dalam menyaring informasi. Salah satu kemampuan menyaring informasi adalah mampu bersikap kritis terhadap konten media sosial. Apakah konten tersebut berupa nilai-nilai yang harus diikuti atau hanya berupa kreativitas semata dari pembuat konten?    

Hasil penelitian menunjukkan mereka yang depresi menganggap potret kehidupan orang-orang yang ada di media sosial lebih baik dari dirinya. - Anthony Robinson, a Psychology student at Texas University (Empat Perilaku Ber-Medsos ini Jadi Tanda Seseorang Alami Depresi, lifestyle.kompas.com).

Media sosial adalah sarana untuk menjalin komunikasi tanpa batas. Fungsi tersebut menjadikan media sosial sebagai target pasar yang menguntungkan bagi para pelaku bisnis. Aneka konten berbasis produk pun dibuat menarik. Tidak hanya menampilkan para selebritis sebagai pengguna melainkan juga menggandeng para teman, kerabat, atau mungkin tetangga si remaja sebagai pelaku iklan. Tidak heran jika kemudian para remaja menganggap tampilan konten media sosial sebagai standar yang harus diikuti. Terlebih lagi jika para remaja menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial.  

Jurnal berjudul The Dark Side of Social Media yang ditulis Ajith Sundaram menyatakan remaja yang pola pikirnya masih dalam tahap perkembangan belum mampu melindungi diri dari konten media sosial. Padahal mereka beraktivitas sehari-hari dengan status, pesan, facebook, twitter, youtube, dll. Bahkan komputer dan smartphone tidak lepas dari tangan mereka sehingga seringkali tidak memiliki memiliki kesempatan untuk beraktivitas di dunia nyata.

Para remaja kemudia menjadi orang yang sosial di dunia maya tetapi kesepian di dunia nyata. Alhasil ketika tulisan atau foto yang diupload di media sosial tidak mendapat like, retweet, atau komentar dari orang lain akan membuat seseorang merasa sedih. Sebab kehidupan media sosial seringkali terfokus pada like, komentar, dan pengikut.

Kesedihan akan terus berlanjut ketika melihat kiriman orang lain mendapat perlakuan berbeda. Belum lagi, momen-momen yang dikirimkan bersifat menarik dan terasa membahagiakan. Berbeda dengan kehidupan sehari-hari yang dialami mereka di dunia nyata.

Momen terbaik orang lain dalam sosial media adalah menggembirakan, tetapi sebagian lain, momen tersebut bisa menyedihkan.- Brian Primack, MD, PhD penulis dan profesor dari University of Pittsburgh (Ini Tanda-tanda Depresi karena Media Sosial, Sriwijaya Post).

Tidak adanya kemampuan dalam menyaring informasi ditambah kurangnya interaksi di dunia nyata membuat serangan depresi lebih mudah hinggap di dalam diri remaja.

Dalam sebuah survei yang melibatkan 1.787 orang dewasa muda berusia 19 hingga 32 tahun, para peneliti menemukan, jumlah pengguna sosial media aktif yang terkena depresi secara signifikan meningkat, ketimbang pengguna yang kurang aktif.-Ini Tanda-tanda Depresi karena Media Sosial, Sriwijaya Post.

Remaja yang menghabiskan waktu >8 jam sehari di media sosial juga rentan terkena depresi dibandingkan remaja yang menghabiskan waktu lebih sedikit di media sosial.
 
media sosial menyebabkan depresi
Sumber: scarymommy.com


Beberapa reply tweet yang saya baca mengaku uninstall media sosial karena merasa tertekan hingga depresi. Awalnya mereka yang saat itu masih berusia remaja merasa sedih, iri, dan cemburu terhadap konten yang ada di media sosial. Kesenjangan antara kehidupan nyata dan potret kehidupan maya membuat mereka merasa hidupnya gagal. Gagal karena tidak mampu hidup seperti standar kehidupan yang ada di media sosial.

Sebenarnya hal yang wajar ketika merasa iri atau cemburu dengan posting yang ada di media sosial. Hanya saja jangan sampai rasa iri dan cemburu itu menjadi berlebihan. Apalagi sampai merubah tingkah laku. Sebab tidak semua yang ada di media sosial adalah fakta atau nilai sosial yang harus dipercaya. Beberapa konten media sosial ada yang memang dibuat sedemikian rupa sebagai bagian dari kreativitas hingga iklan semata. Terutama jika menyangkut kehidupan para seleb sosial media yang memang diharuskan untuk tampil menawan dan bahagia.

Depresi bisa diawali dari rasa iri dan cemburu yang berlebihan. Oleh karena itu, ketika rasa iri dan cemburu secara berlebihan mulai menjangkiti hati hanya karena sebuah post di media, tak ada salahnya mulai menjauh dari media sosial untuk sementara. Raih pergaulan di dunia nyata. Belajar menyaring informasi dan menemukan toleransi diri. Lalu, kembali lah ke media sosial dengan pandangan yang berbeda.

Seperti yang diceritakan dalam jawaban tweet di atas. Mayoritas yang melakukan unistall sudah kembali aktif bermedia sosial. Namun, mereka telah memiliki pandangan yang berbeda terhadap post yang ada di media. Mereka sudah paham dengan filter informasi di media sosial sehingga apa yang ada di media tidak lagi menyebabkan tekanan yang berakhir depresi.

Jadi, berdasarkan beberapa sumber yang saya baca ternyata pernyataan media sosial menyebabkan depresi bagi remaja adalah fakta yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Bagi para orang tua, mari belajar untuk mengenalkan interaksi sosial secara nyata kepada para remaja. Agar mereka dapat bermedia sosial dengan bahagia.

Media sosial dapat menjadi hal yang bersifat informatif dan menyenangkan, tetapi pengguna lah yang bertanggung jawab untuk mengetahui level ketidakpastiannya.

- Ajith Sundaram.


Dari berbagai sumber.

Artikel Terkait
123456789101112131415