Custom Search

2014-08-28

SEMARANG OH SEMARANG

Semarang, salah satu kota yang tak pernah ada dalam benak saya. Begitu pun saat pertama kali menjejakkan kaki di Semarang. Omelan akan cuaca panas yang memang menjadi khas kota Semarang tidak pernah berhenti dari mulut saya. Oh! Betapa saya tidak menginginkan tinggal di kota ini.

Apalah daya, perjalanan hidup kita tidak pernah benar-benar dapat direncanakan. Pengumuman seleksi beasiswa menempatkan nama saya pada daftar calon mahasiswa di Universitas Negeri Semarang. Artinya? Suka atau tidak saya harus tinggal di Kota Semarang maksimal selama dua tahun. Terkecuali saya menolak beasiswa tersebut, yang sama artinya dengan mencoret mimpi saya untuk melanjutkan studi S2. Tentu ini bukan pilihan bijak kan?

Saya akhirnya memilih menerima beasiswa dan bersiap-siap menikmati kota Semarang. Tanggal 28 Agustus 2012 saya berkemas ke Jakarta dalam rangka menghadiri undangan registrasi ulang dan selanjutnya menuju Kota Semarang untuk mengawali perkuliahan pada tanggal 03 Sepetember 2012.

Tugu muda maskot Kota Semarang (http://ds-lands.com)

Bulan September, cuaca Kota Semarang begitu tidak bersahabat. Panas dan terik. Terlebih lagi lokasi kampus yang berada di perbukitan. Oh! Saya harus belajar untuk berhenti mengomel akan hal ini. Benar-benar belajar, sebab saya hampir tidak tahan untuk tidak mengomel. Bagaimana tidak? tanpa membawa transportasi pribadi, saya harus berjalan naik turun bukit untuk kuliah saat matahari sedang tertawa riang. Kenangan yang tidak akan pernah saya lupakan.

Ternyata selain adaptasi cuaca, Kota Semarang juga menginginkan saya untuk beradaptasi dengan perubahan pola pikir. Ya! Pola pikir logika eksak yang saya awali dari tingkat SMA harus berganti dengan pola pikir sosial. Sesuai dengan program studi yang saya ambil, dan inilah adaptasi tersulit pada awal-awal saya tinggal di Kota Semarang.

Saya bersyukur memiliki teman-teman kuliah yang selalu siap membantu. Siap berjuang bersama. Membuat saya perlahan-lahan dapat beradaptasi dengan cuaca dan perubahan pola pikir. Mbak Noe, Mbak Indri, Mbak Rosi, Bu Tutik, Bu Veri, Mbak Eli, Mbak Ifa, Bu Yayuk, Mbak Tika, Bu Wiwik, Pak Mudji, Pak Katib, Pak Irfan, Pak Syahid, Pak Jun, Pak Jurotun, Pak Eko, Pak Faidhani, Pak Heri, Pak Ruwi, Pak Busro, Pak Rus, Pak Made, Pak Dayat, Pak Wawan, Prov. Sugi, Abah Munawar, dan teman-teman Kepengawasan Unnes 2012 yang tidak sempat saya sebutkan satu persatu. Terima kasih atas hari-hari kebersamaan di Kota Semarang. Hari-hari yang membuat saya belajar untuk lebih dewasa dalam menghadapi tantangan, lebih bersemangat dalam mengejar impian, dan lebih bijaksana dalam menjalani hidup.

KKL Kepengawasan Unnes di Inspektorat Jenderal Kemendiknas (Sumber: koleksi rekan-rekan Unnes)
Setelah mampu beradaptasi, awal-awal tahun 2013 saya mencoba bergabung di salah satu komunitas penulis. Ya! Sejak bertekad untuk belajar menulis pada tahun 2005, saya selalu mencoba bergabung dengan komunitas penulis di setiap kota yang saya tinggali. Walaupun hingga saat ini saya belum bisa menulis dengan baik dan menjadi penulis profesional, namun bergabung dengan komunitas penulis dapat menjadi obor semangat saya untuk tidak pernah berhenti menulis. Itu juga yang menjadi tujuan saya bergabung dengan komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN) Semarang yang dikoordinir oleh Mbak Dewi “Dedew” Rieka, penulis Anak Kos Dodol.

Bergabung dengan IIDN Semarang membuat saya selalu berdecak kagum. Ibu-ibu yang lebih sering menyebut dirinya emak-emak ini adalah ibu-ibu rumah tangga yang tidak pernah lelah untuk belajar menulis. Memimpikan menjadi penulis profesional diantara kesibukan rumah tangga dan mengasuh anak. Bahkan pertemuan yang diagendakan setiap bulan tidak pernah sepi dari celoteh riang anak-anak yang menemani sang bunda untuk belajar.

Bincang-bincang IIDN Semarang dengan Editor Tiga Serangkai
Setelah saya sadari, IIDN Semarang tidak hanya mengajarkan saya untuk berlatih menulis tetapi juga berlatih mengatur waktu untuk menulis dan memenuhi kewajiban. Untuk menjadi perempuan yang mampu mencapai impian dan memperhatikan keluarga. Untuk menjadi perempuan yang mandiri dalam belajar dan berbagi peran sebagai diri sendiri, istri, dan ibu. Untuk menjadi perempuan yang bermanfaat bagi kawan, keluarga, dan lingkungannya. Oleh sebab itu, saya mengucapkan terima kasih kepada keluarga besar IIDN, khususnya IIDN Semarang. Buat teh Indari Mastuti (pendiri IIDN), Mbak Dedew Rieka, Mbak Wuri, Mbak Uniek, Mbak Rahmi, Mbak Wati, Mbak Winda, Lestari, Mbak Dian Nafi, Mbak Fenty, Mbak Feny, Mbak Inung, Mbak Aan, Mbak Ade, Mbak Okta, Mbak Nurma Avicenna, Mbak Hapsari, Mbak Ninik, Mbak Marita, dan mbak-emak lain yang tidak sempat saya sebutkan satu persatu.

Ternyata Kota Semarang memberikan warna yang berbeda dalam hidup saya. Teman-teman baru, keluarga baru, dan tempat-tempat eksotik yang baru. Membuat saya pada akhirnya merasa berat hati untuk meninggalkan Kota Semarang. Ah ya! Terima kasih saya sampaikan kepada seorang sahabat yang membantu dan menemani saya saat pertama kali berkunjung ke Kota Semarang hingga beberapa waktu kemudian. Terima kasih Jenderal Soepeno.

Kini Semarang hanyalah kenangan. Dua tahun telah saya lalui dan saat ini saya kembali ke tanah kelahiran, sebuah daerah di sekitar pegunungan Argopuro, Kabupaten Probolinggo. Love you, Semarang!




Paiton, 280814, 12:00 PM
Artikel Terkait
123456789101112131415