Custom Search

2007-08-15

MEDIA MASSA SEBAGAI ALAT KOMUNIKASI PERBANKAN SYARIAH DI NUSANTARA

Komunikasi (dari Latin "Comunicare") biasanya diartikan sebagai suatu proses penyampaian lambang-lambang antara dua atau lebih orang (atau sistem) yang dapat diberi makna tertentu oleh kedua belah pihak (encoded-decoded) dan biasanya menghasilkan umpan balik (feedback). Adapun Harold D. Lasswell secara sederhana mendefinisikan komunikasi adalah siapa mengatakan apa, melalui saluran apa, kepada siapa dan apa akibatnya.

Sumber : www.justme.ws
Pakar komunikasi Rogers dan Shoemaker menyatakan bahwa komunikasi adalah proses pesan yang disampaikan dari sumber kepada penerima. Sedangkan Koncaid dan Schramn menyatakan komunikasi sebagai suatu proses, artinya komunikasi merupakan proses berbagi/menggunakan sebuah informasi secara bersama dan pertalian antara peserta dalam proses informasi tersebut dinamakan komunikasi. Ciri adanya proses komunikasi menurutnya adalah : harus ada dua pihak atau lebih, dan ada proses berbagi informasi, sehingga harus selektif dalam memilih alat komunikasi dan memilih pola yang sesuai untuk menggambarkan pikiran. Lebih jauh dia menyampaikan bahwa langkah-langkah dalam sebuah proses komunikasi adalah menciptakan informasi, menyampaikan informasi tersebut, memperdalam perhatian, menafsirkannya, memahaminya lalu melaksanakan, serta timbulnya pengertian bersama.

Komunikasi melalui berbagai medianya di suatu masyarakat, dapat menciptakan kesenjangan perilaku sosial yang berubah dengan kaidah-kaidah kultural yang normatif (culture lag). Komunikasi yang intensif dan efektif akan menciptakan pengaruh dan perubahan sikap, pendapat bahkan perilaku masyarakat. Masyarakat tidak lagi mau menggunakan pranata sosial yang ada, akibatnya terjadi perubahan mindset pada masyarakat yang dihasilkan dari proses komunikasi. Dalam keadaan seperti ini berarti komunikasi mampu memerankan fungsinya sebagai salah satu alat bagi perubahan masyarakat (social change). Secara lebih rinci, para praktisi komunikasi, menjelaskan fungsi komunikasi sbb :

  1. Menciptakan kesadaran (awareness) terhadap gagasan/ pemilik gagasan (merek/brand)
  2. Mengubah persepsi
  3. Mengubah keyakinan
  4. Mengubah pensikapan (misal : tadinya menolak menjadi menerima)
  5. Remainder (mengingatkan kembali)
  6. Memperkuat sikap
  7. Mendapatkan respon langsung
  8. Membangun citra
Adapun Efektif tidaknya dan berhasil tidaknya komunikasi dilakukan, sangat ditentukan oleh empat faktor, yakni : (1) Kejelasan tujuan dan target, (2) Kejelasan target audience, (3) Strategi pesan, dan (4) Strategi media.

1. Tujuan dan Target
Tujuan komunikasi yang jelas dan semakin spesifik , akan menghasilkan komunikasi yang semakin baik. Mengapa? Karena semakin spesifik tujuan dari aktivitas komunikasi, maka akan semakin fokus. Misal tujuan dan target perbankan syariah adalah masyarakat menengah ke bawah atau masyarakat pedesaan. Maka komunikasi yang dilakukan harus difokuskan pada masyarakat tersebut.
 
2. Target Audience
Secara prinsip, semakin jelas target audience yang ingin disasar, maka efek komunikasi akan semakin optimal dan tepat sasaran. Institusi dalam hal ini BNI Syariah harus menyusun dan membuat klasifikasi target audience. Dari mereka yang tidak tahu sama sekali tentang perbankan syariah hingga mereka yang tahu, mendukung dan mau terlibat. Inilah yang disebut dengan segmentasi. 

3. Strategi Pesan
Aktivitas komunikasi dikatakan berhasil jika pesan yang disampaikan oleh pengirim pesan dapat dipahami secara benar oleh target atau sasaran. Untuk itu, paling tidak ada dua hal yang harus dipersiapkan secara matang dalam melakukan pengkomunikasian. (1) Fokus pesan (what to say) dan (2) Cara atau pendekatan dalam menyampaikannya (how to say). 

Semakin sederhana dan simpel pesan yang disampaikan—meski yang disampaikan kompleks, maka semakin besar kemungkinan audience memahaminya. Bukan sebaliknya. Pesan tidak melulu verbal, bisa juga tulisan, tanda (gambar), bahkan penampilan seseorang . Inilah yang oleh Alex Sobur dalam Semiotika Komunikasi disebut semiotika.
 
4. Strategi Media
Strategi media merupakan bagian akhir dari proses informasi dan komunikasi yang akan dilakukan. Pemilihan media juga sangat menentukan keberhasilan, efektifitas dan efisiensi komunikasi yang dilakukan.
Setelah kejelasan tujuan dan target, kejelasan target audience, dan strategi pesan di susun maka langkah terakhir adalah pemilihan media. Dan media yang yang cukup mengena untuk mengkomunikasikan perbankan syariah di masyarakat adalah dengan menggunakan media massa. 

Mengapa harus media massa?

Karena media massa merupakan alat komunikasi yang mempunyai potensi besar dalam merubah sikap dan perilaku masyarakat. Perubahan sikap dan perilaku itu dikarenakan media massa mempunyai fungsi komunikasi yang bersifat sosiolagis dan psikologis. 

Fungsi sosiologis media massa antara lain sebagai pengawasan lingkungan, korelasi antar bagian di dalam masyarakat untuk menanggapi lingkungannya, sosialisasi atau pewarisan nilai-nilai dan hiburan. Sedangkan fungsi yang bersifat psikologis adalah pengawasan atau pencarian informasi, mengembangkan konsep diri, fasilitasi dalam hubungan sosial, substitusi dalam hubungan sosial, membantu melegakan emosi, sarana pelarian dari ketegangan dan keterasingan dan bagian dari kehidupan rutin atau ritualisasi. 

Fungsi-fungsi di atas sangat berperan dalam merubah sikap dan perilaku masyarakat. Walaupun fungsi tersebut tidak mutlak ada dalam satu media massa namun adanya berbagai macam media massa menjadikan fungsi sosiologis dan psikologis media massa terpenuhi. Seperti lima jenis media massa yang di kenal sebagai "The big five of mass media" yaitu televisi, film, radio, majalah dan koran, lima jenis media massa ini saling melengkapi dalam memerankan media massa yang mempunyai fungsi sosiologis dan psikologis.
 
Sumber : www.justme.ws
Dalam masyarakat abad ini adanya media massa tidak lagi menjadi barang yang langka. Bahkan dalam sebagian masyarakat adanya media massa telah menjadi kebutuhan primer. Di Indonesia sendiri dalam satu desa atau kampung minimal mempunyai salah satu dari "The big five of mass media", baik koran, majalah, radio, film maupun televisi. Sehingga penyampaian pesan melalui media massa tentunya memiliki nilai yang lebih dibandingkan dengan mengadakan seminar ataupun penyuluhan yang semua masyarakat belum tentu mengikutinya. 

Terutama televisi, sebagai media massa televisi mempunyai sifat yang lebih istimewa dibandingkan dengan media massa lainnya. Gabungan antara media dengar dan gambar hidup (gerak/life) menjadikan tontonan televisi seolah-olah dialami sendiri oleh penontonnya. Kekuatan televisi yang bisa menyulap sikap dan perilaku masyarakat ini pun dapat kita manfaatkan. Seperti seluk beluk mengenai perbankan syariah yang selama ini hanya kalangan tertentu saja yang mengetahui. Sedangkan yang lain tidak tahu, apa yang dimaksud dengan perbankan syariah, bagaimana hukumnya dalam Islam, apakah perbankan ini hanya khusus umat Islam, dll. 

Melalui televisi permasalahan tersebut dapat dikupas secara tuntas, baik oleh para pakar perbankan syariah maupun pengalaman dari beberapa nasabah perbankan syariah. Media massa (radio, televisi dan koran) daerah pun dapat dimaksimalkan keberadaanya. Dengan menggunakan bahasa daerah dan dituturkan oleh tokoh masyarakat atau tokoh agama setempat, maka penyampaian seluk beluk tentang perbankan syariah dapat lebih didengarkan dan dimengerti. Sebab beberapa istilah teknis seperti al-ijarah (sewa beli), al-qardh (pinjaman kredit), al-sharf (jual beli mata uang), murabahah (jual beli), musyarakah (pembiayaan), dll. yang terlampau Arab agaknya mengganggu sosialisasi produk syariah. Apalagi bagi masyarakat awam yang lebih sering menggunakan bahasa daerah dalam kesehariannya.

Keberhasilan diperhatikan dan dilaksanakan oleh masyarakat juga ditentukan oleh kekontinuan penyampaian komunikasi itu sendiri. Jika komunikasi hanya disampaikan satu kali tanpa ada tindak lanjut maka kemungkinan besar tidak diperhatikan oleh masyarakat. Bagaimana bisa dilaksanakan jika pesannya sendiri tidak diperhatikan. Oleh karena itu penyampaian pesan yang mengkomunikasikan perbankan syariah, khususnya BNI Syariah kepada masyarakat harus dilaksanakan secara kontinu. 

Dengan kekontinuan diharapkan pesan itu diingat dan pada akhirnya dilaksanakan. Penyampaian komunikasi secara kontinu dapat dilakukan melalui media massa terutama televisi. Televisi yang mempunyai jam tayang 24 jam tentunya memiliki frekuensi yang lebih besar untuk menyampaikan pesan secara kontinu. Terlebih lagi dalam masyarakat kita menonton televisi di anggap sebagai suatu rutinitas. Sehingga mayoritas masyarakat mempunyai waktu untuk menonton televisi setiap harinya.

Bukan hanya itu, pengkomunikasian tentang adanya BNI Syariah juga harus dibarengi dengan dibukanya cabang BNI Syariah di tempat tersebut. Sehingga masyarakat tidak berpikir hanya sekedar iklan belaka dan komunikasi mampu memerankan fungsinya sebagai salah satu alat untuk mendapatkan respon langsung dari masyarakat.

Dengan menggunakan media massa khususnya media massa daerah sebagai alat komunikasi untuk mengembangkan perbankan syariah di masyarakat, diharapkan tujuan yang ingin dicapai oleh BNI Syariah maupun pemerintah dapat tercapai. Tidak hanya pada kalangan tertentu dan di daerah tertentu saja tetapi ke seluruh lapisan masyarakat di pelosok Nusantara.
Artikel Terkait
123456789101112131415