Custom Search

2019-11-01

JARAK BUKAN ALASAN KARENA JARAK BERSIFAT RELATIF

Untuk suatu hal tertentu, terkadang kita mengatakan jarak sebagai alasan. Contoh, tidak dapat hadir di suatu acara, alasannya karena jarak yang jauh. Tidak dapat bertatap muka, alasannya jarak yang menghalangi. Bahkan mungkin tidak memberi kabar kepada keluarga dengan alasan kita dan keluarga sedang terpisah oleh jarak. Duh, jarak menjadi alasan padahal jarak itu relatif.



Misal bagi saya jarak 50 km itu dekat. Saya anggap dekat karena setiap hari harus melakukan perjalanan sekitar 150 km. Wajar kan kalau jarak sepertiga dari perjalanan saya itu saya anggap dekat? Tetapi bagi orang yang setiap harinya melakukan perjalanan sekitar 10 km maka jarak 50 km itu sangat jauh. Relatif kan?


Saya jadi ingat konsep relativitas dalam fisika. Jarak yang masuk keluarga besaran panjang dinyatakan memiliki fenomena dengan nama kontraksi panjang. Kontraksi panjang adalah fenomena penyusutan ukuran benda karena pengamat yang mengukur benda tersebut sedang bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya. Sebagai info, cahaya bergerak dengan kecepatan mendekati 300 juta km per detik. Jangan dibayangkan bagaimana kecepatannya, nanti bisa pusing, hehehe.

Mengapa panjang benda bisa berubah? sebab sang pengamat sedang bergerak dengan arah yang sejajar. Pergerakan ini membuat panjang bisa berkontraksi. Berubah lebih pendek dari ukuran dari yang asli.

Sama halnya dengan konsep kontraksi panjang, begitulah adanya jarak bagi saya. Kita mengatakan dekat karena kita sedang bergerak sejajar dengan tujuan kita. Sedangkan bagi yang mengatakan jarak itu jauh, mungkin karena kita sedang diam atau pergerakan kita berlawanan arah dengan tujuan yang dimaksud.

Sebab saat ini pun, jarak ribuan kilo bisa ditempuh hanya dalam waktu beberapa detik. Kok bisa? Lewat perkembangan teknologi, kita bahkan bisa melakukan video call dengan teman yang berada di bumi belahan lain. See? Jarak tidak sejauh yang ada dipikiranmu.

Perkembangan teknologi juga mengingatkan saya bahwa konsep fisika klasik tentang listrik tidak lagi bisa diterapkan. Hukum Coulomb menyatakan semakin lebar jarak maka gaya interaksi akan semakin besar, begitu pun sebaliknya. Namun hari ini kita bisa melihat bahwa jarak bukanlah alasan adanya interaksi. Toh, orang yang sedang duduk berdua alias secara klasik bisa dikatakan gaya interaksinya sangat besar, bisa saja tidak ada interaksi. Tidak saling menyapa selama berjam-jam karena keduanya sibuk main hp. Dia yang jauh semakin dekat dan aku yang dekat semakin jauh. Ups, hehehe.

Dengan demikian, fisika klasik untuk dimensi abad ini hampir tak berarti sebab konsep fisika modern yang memegang kendali. Seperti halnya jarak yang kini sudah bersifat relatif berbeda dengan sebelumnya yang bersifat statis. Jarak bisa dianggap dekat dan bisa juga jauh, tergantung dari pergerakan tubuh dan pikiran kita dari tujuan yang dimaksud. Jika pergerakannya sejajar, jarak bisa dekat namun jika pergerakannya berlawanan arah maka kata jauh yang menjadi alasan

Berdasarkan uneg-uneg jarak, maka saya menyarankan agar tak lagi menjadikan jarak sebagai sebuah alasan dalam suatu permasalahan. Apalagi alasan untuk pembenaran. Jadikan jarak sebagai kambing putih bukan kambing hitam, hehehe.

Salam hangat dari jarak yang tak menjadi alasan.
Artikel Terkait
123456789101112131415

3 comments:

  1. Jika A dan B terpisah 150 km, berapa peluang C menikung pacar si A?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak ada peluang bang, karena A dan B pasangan setia, hahaha.

      Delete
  2. hehehehhehehheee lucu2 baca comentya hahahahhaaa....bener kak jarak mau segimanapun ga harus jadi alasan yaaaa.. untuk ga setia

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungannya, :-)

~~falkhi~~