Custom Search

2019-01-26

DIALOG RUMINASI

Dia memandang titik jauh. Gulita membayang di retinanya. Namun, pandangannya tak bergeming. Masih terpaku pada langit yang bergelung dengan kegelapan.

“Kau menungguku gadis kecil?” suara serak terdengar. Satu sosok lelaki tua muncul. Wajahnya putih pucat dan langkah kakinya ringkih tanpa tenaga.

“Aku bukan gadis kecil lagi,” jawab Dia tertawa.

Lelaki tua tak menjawab. Ia meletakkan badannya pelan-pelan di atas batu hitam. Berhadapan dengan Dia yang berdiri menatap ujung langit malam. 


Baca edisi sebelumnya DIALOG SEMU

“Mengapa kau kembali, anakku?” tanya lelaki tua dengan lembut.

Dia hanya mengangkat bahu sambil tersenyum. Pandangannya tertuju pada ujung kaki yang mengais-ngais tanah. Menimbulkan cerukan kecil di sekeliling kaki kanan Dia.

“Kau ingin mengambilnya kembali?” kembali lelaki tua bertanya.

Dia menggeleng. Wajahnya menampilkan senyum yang terkembang, “Aku sudah meninggalkannya di sini. Aku membuka tanganku dan meminta angin untuk membawanya pergi.”

“Kau memang melepasnya saat itu. Seiring waktu kau raih bintang-bintang yang kau inginkan. Tetapi, kau juga membuat mimpimu menjadi sebuah rumah. Rumah yang selalu kau buka pintunya setiap kali kau kehilangan bintang-bintangmu.”

Dia menutup mata alih-alih menjawab ucapan lelaki tua. Membiarkan angin mengalir pada permukaan wajahnya yang mulai memucat. Lelaki tua membiarkan Dia bermain dengan pemikirannya sendiri.

RUMINASI ADALAH
mengingat hal yang membuat stres secara berulang-ulang dan terus-menerus

“Anakku... “ Lelaki tua memanggil Dia pelan. Dia membuka mata dan menatap lelaki tua dengan sayu. 

“Apa yang kau rasakan saat ini?” pandangan lelaki tua menghujam mata Dia.

“Aku nyaman bersama mimpiku,” Jawab Dia tertawa sambil nanar menatap langit. “Kau benar, dia seperti rumah bagiku. Tempatku pulang saat letih dan memerlukan bantuan.”

“Kau tidak benar-benar melepasnya, anakku,” tegas lelaki tua pada Dia.

Dia menghela nafas dan menghembusnya dengan pelan. “Aku sudah meminta bantuan waktu untuk melepasnya. Aku sudah meminta bantuan angin untuk meniupnya dari genggaman tangan. Aku sudah melangkah jauh dan meletakkan bintang-bintang di langit harapan.”

“Lalu?”

“Ada kalanya aku merasa sendiri,” suara Dia melemah.

“Lalu, kau kembali pada mimpimu dan menungguku di tempat ini,” cibir lelaki tua.   

Dia tertawa lepas. “Aku tidak menunggumu, sungguh. Aku kesini hanya ingin mencari jawaban.”
“Aku adalah jawabanmu?” Lelaki tua terbahak mendengar jawaban Dia. Setetes air muncul di ujung kelopak matanya akibat tawa yang keras dan tak kunjung berhenti. Dia hanya tersenyum merespon tawa sang lelaki tua.

“Anakku,” lelaki tua menatap Dia lembut. “Jawaban apa yang kau inginkan?”

Dia tak menjawab, hanya balas tertawa mendengar pertanyaan lelaki tua.

“Ini sudah kalender kesepuluh sejak kau meninggalkan tempat ini. Jangan bermain-main lagi. Belajarlah membuat keputusan dan segera melakukannya.”

Dia mengangguk.

“Kau tahu tentang pilihanmu?” desak lelaki tua pada Dia.

“Ya, aku tahu. Aku harus memilih, membuat mimpiku menjadi rumah yang sesungguhnya atau menutup pintu itu selamanya, begitu kan?” Dia memastikan pemikirannya pada lelaki tua.

Lelaki tua mengangguk dan tersenyum. “Jangan membuang-buang waktu.”

“Apa kembali pada mimpiku adalah kesalahan?” tanya Dia tiba-tiba.

“Kau benar-benar ingin kembali? Membuat mimpimu menjadi rumah yang sesungguhnya?” lelaki tua memastikan pertanyaan Dia.

Dia tertawa. “Aku tidak tahu. Aku akan berusaha pergi dan melangkah lagi. Tetapi jika nanti, aku masih menginginkan mimpi itu. Apa yang harus aku lakukan?”

“Bertanyalah pada hatimu, anakku. Bukan kembali ke tempat ini atau menunggu jawaban dariku,” ucap lelaki tua tegas.

“Baiklah,” jawab Dia tersenyum pada lelaki tua.

“Kau tahu, kenapa aku melarangmu kembali ke tempat ini?” Dia menggeleng. “Karena kenangan adalah ilusi. Bayangan semu. Kau akan kecewa jika memutuskan hanya berdasarkan kenangan.” Lelaki tua menggeleng-gelengkan kepalanya pada Dia.

“Jangan membuat kesalahan dengan membuka kenangan dan menginginkannya kembali. Sekalipun kenangan itu bersifat manis bagimu. Teruslah berjalan. Tetapi, menggapai mimpi lamamu bukanlah kesalahan. Jika itu adalah mimpi yang benar-benar kau inginkan, raihlah dengan hati. Bukan dengan mendatangi kenanganmu.” lanjut lelaki tua.    

Senyum Dia mengembang, langkahnya ringan mendatangi lelaki tua. “Terima kasih sudah mendatangiku kembali di sini,” kata Dia pada lelaki tua.

“Bertanyalah pada hatimu. Apakah benar-benar mimpimu atau hanya penawar hati karena kau merasa sepi dan sendiri.” Lelaki tua memandang Dia yang berjongkok dihadapannya.

Dia tertawa mendengar ucapan terakhir lelaki tua. “Ya, kau benar. Aku harus segera memastikan dan mengakui apa yang benar-benar aku inginkan. Lalu, menerima apa yang sudah ditetapkan. Jadi, sekarang aku pamit untuk pergi.” Dia menangkupkan kedua tangan di dada dan menundukkan kepala.

“Pergilah, anakku. Lepaskan beban dan temukan kebahagianmu.” Perintah lelaki tua pada Dia.

Dia berdiri. Sebelum berbalik, Dia kembali tersenyum mengangguk pada lelaki tua. Setelah itu, Dia melangkah pergi. Sosoknya perlahan menghilang dalam kegelapan. Meninggalkan lelaki tua bersama alam.
Artikel Terkait
123456789101112131415

10 comments:

  1. Terkadang ruminasi ini datang dan pergi sesuka hati dan bikin stress dan bingung cara menghilangkan pikiran tsb bagaimana ya kak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akhirnya bisa baca komentarnya, hehehe. Kemarin-kemarin muncul tetapi gak bisa dibaca.

      Iya mbak, betul. Menumpuk dengan kenangan baru yang lebih bahagia, katanya begitu mbak, hehehe.

      Delete
  2. Cerita pendek yang memikat ...
    Keren.
    Terus berkarya, kak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, kak. Terus berkarya juga buat kak Himawan, Semangat!!

      Delete
  3. Namun kadang kenangan meski ilusi menjadi bagian kebahagian kita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Komentar yang yahud bang, hehehe. Menjadi menusia dengan kenangannya karena kehampaan sebenarnya adalah ketika tidak memiliki kenangan.

      Delete
  4. Tidak ada cara untuk melupakan kenangan pahit, mencoba lupa justru semakin sakit. Peluklah, terima semua kenangan yang ada dan jadikan semuanya menjadi perjalanan menuju kedewasaan kita. Cerita yang memukau mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju. Menolak kenangan pahit justru membuat kita akan semakin sakit. Lebih baik jika bisa menerima dan berdamai dengan masa lalu, hehehe. Terima kasih..

      Delete

Terima kasih atas kunjungannya, :-)

~~falkhi~~