Custom Search

2018-08-02

CERITA GARUDA WISNU KENCANA DALAM PERTUNJUKAN TARI KECAK


Pernah mendengar GWK alias Garuda Wisnu Kencana? Itu lho patung raksasa Dewa Wisnu dan tunggangannya yang menjadi maskot pulau Bali. Nah, bulan lalu saya berkunjung ke GWK dan memiliki kesempatan untuk menonton pertunjukan tari Kecak di Amphitheatre. Pertujukan tari Kecak yang ditampilkan berjudul cerita Garuda Wisnu Kencana. Oh ya, katanya nih cerita Garuda Wisnu Kencana ini menginspirasi digunakannya burung Garuda sebagai lambang negara Indonesia. Wow, keren!     

Tari kecak Garuda Wisnu Kencana



Bagaimana cerita Garuda Wisnu Kencana dalam bentuk pertunjukan tari kecak?

Prolog menyebutkan bahwa Garuda Wisnu Kencana menceritakan tentang Garuda yang mencari Tirta Amertha untuk menolong ibunya dari perbudakan. Demi sang ibu, Garuda rela menjadi tunggangan Dewa Wisnu hanya untuk mendapatkan Tirta Amertha. Bakti anak kepada ibu yang tiada duanya kan? Gara-gara prolog yang menyentuh ini, saya jadi fokus menonton pertunjukan tari kecak. Hehehe.

Panggung tari kecak

Pertunjukan di buka dengan kedatangan para penari kecak. Tentang para penari kecak ini, saya salut kepada masyarakat Bali. Mereka mampu melestarikan budaya dan menjadikannya daya tarik bagi para wisatawan. Saya katakan demikian karena melihat usia para penari kecak yang bergradasi dari paling tua (sekitar usia 50-an) hingga para remaja yang saya taksir masih usia SMA. Memang para remaja tersebut masih belum fokus ketika menari, sering cengengesan dan melirik kanan kiri, namun usaha mereka untuk tampil melestarikan budaya menari patut diapresiasi.

Para penari keluar dari balik panggung

Tari kecak

Setelah para penari masuk, musik mulai dimainkan. Para penari segera unjuk kebolehan. Beberapa menit kemudian tarian berhenti. Seorang tetua adat masuk dan memercikkan air pada para penari sebagai tanda akan dimulainya pertunjukan.

Prosesi sebelum cerita Garuda Wisnu Kencana dimulai

Kisah Garuda Wisnu Kencana dimulai dari Winata, ibu sang Garuda yang menjadi budak dari para naga. Saat itu saya bingung, mengapa Winata menjadi budak para naga. Maklum, saya fokus dokumentasi dan tidak begitu mendengarkan suara narator. Ups, hehehe.

Menyambut kedatangan ibu Garuda

Ibu Garuda menjadi budak para naga

Ternyata cerita sebenarnya adalah 


Winata merupakan istri dari Resi Kasyapa, seorang resi yang baik dan bijaksana. Selain Winata, sang Resi juga memiliki istri bernama Kadru.  Keduanya masing-masing memiliki anak dari Resi yakni burung Garuda dari Winata dan Naga dari Kadru. 

Resi berusaha memperlakukan kedua istrinya dengan adil, namun Kadru tetap menaruh iri pada Winata dan selalu melancarkan niat jahat untuk mengeluarkan Winata dari lingkaran keluarga.
Satu waktu, para dewa mencari air suci Amertha Sari dengan mengaduk samudera. Air suci ini diyakini akan membawa keabadian bagi makhluk yang meminumnya. Bersamaan dengan peristiwa tersebut, muncullah kuda yang bernama Ucaihsrawa.

Rasa dengki dan iri yang ada pada Kadru membuat ia menantang Winata untuk bertaruh menebak warna kuda yang akan keluar dari samudera. Taruhannya, pihak yang kalah harus menjadi budak dari pihak yang menang selama hidupnya. Winata menyetujui. Kadru kemudian menebak kuda yang muncul berwarna hitam, dan Winata menebak kuda tersebut berwarna putih.

Sebelum kuda muncul, ternyata naga mendengar informasi bahwa kuda itu berwarna putih. Ia melaporkan pada ibunya. Mengetahui tebakannya salah, Kadru kemudian meminta naga menyemburkan racun pada tubuh kuda sehingga terlihat kehitaman. Benar saja, saat keluar warna kuda yang terlihat adalah hitam. Merasa dirinya kalah, Winata pun bersedia menjadi budak Kadru selama hidupnya.

Garuda yang mengetahui kelicikan Kadru mulai bertarung dengan para naga untuk membebaskan ibunya. Namun, kekuatan keduanya yang seimbang, membuat pertarungan tak kunjung usai dan Winata tetap menjadi budak dari para naga. Melihat hasil ini, para naga kemudian memberikan syarat untuk kebebasan Winata, yakni membawa Tirta Amertha.



Sang ibu meminta bantuan Garuda untuk mencari Tirta Amertha

Garuda bersedia mencari Tirta Amertha

Rasa bakti kepada ibunya, membuat Garuda berusaha keras mencari Tirtha Amerta. Garuda berkeliling dan bertarung habis-habisan demi membebaskan ibunya dari perbudakan. Ia kemudian mendengar informasi bahwa Tirta Amertha ada pada dewa Wisnu. Garuda pun segera berkunjung ke dewa Wisnu.

Garuda berangkat mencari Tirta Amertha

Menyambut para bidadari

Sebelum bertemu dewa Wisnu, Garuda menjumpai para bidadari. Ia menceritakan maksud kedatangannya kepada para bidadari dan meminta tolong mereka untuk mempertemukannya dengan dewa Wisnu.

Bidadari

Garuda mengutarakan niatnya kepada para bidadari

Para bidadari melaporkan kedatangan Garuda kepada pengawal. Dua orang pengawal datang dan mengadu ketangkasan dengan Garuda. Kekuatan mereka tidak seimbang dan garuda memenangkan pertarungan.

Pengawal

Menyambut kedatangan patih

Pengawal kemudian melaporkan kedatangan Garuda kepada patih. Patih datang menemui Garuda. Garuda menceritakan maksud kedatangannya untuk mencari Tirta Amertha. Sang patih tidak berkenan mempertemukan Garuda dengan dewa Wisnu. Mereka kemudian bertarung dan Garuda menjadi pemenang.  


Garuda menceritakan maksud kedatangannya kepada patih

Garuda bertarung dengan patih

Keseriusan dan kegigihan Garuda didengar oleh dewa Wisnu. Ia kemudian datang menemui Garuda. Garuda menceritakan niatnya untuk mendapatkan Tirta Amertha demi membebaskan sang ibu. Dewa Wisnu jatuh iba pada Garuda lalu menyetujui untuk memberikan Tirta Amertha dengan syarat Garuda mau menjadi tunggangannya. 

Menyambut kedatangan dewa Wisnu

Garuda bercerita kepada dewa Wisnu
 
Garuda tak berpikir lama, ia segera menyetujui syarat yang diberikan. Garuda berharap sang ibu dapat segera bebas dari perbudakan para naga. Sejak saat itu, garuda resmi menjadi tunggangan dewa Wisnu dan dikenal dengan nama Garuda Wisnu Kencana. Artinya kereta garuda dewa Wisnu.


Garuda bersedia menjadi tunggangan dewa Wisnu

Apa hubungan Garuda Wisnu Kencana dengan lambang negara Indonesia?

Katanya nih, kegigihan garuda dalam membebaskan sang ibu dari perbudakan menjadi inspirasi untuk menceritakan dan menumbuhkan kegigihan kepada anak bangsa untuk dapat membebaskan ibu pertiwi dari penjajahan. Hm, maknanya bisa bikin jantung siap untuk berperang melawan penjajah. Merdeka!

Penasaran dengan tari kecak Garuda Wisnu Kencana? Silakan berkunjung ke Garuda Wisnu Kencana di daerah Bali Selatan. Tari kecak akan dimainkan pada sore hari sekitar pukul 18.30 – 19.30 WITA di ruang Amphitheatre. Yuk, segera berlibur ke Bali.
Artikel Terkait
123456789101112131415