Custom Search

2018-06-10

PERCAKAPAN KURIR DAN PELANGGAN YANG BISA MEMBATALKAN PUASA

Maraknya bisnis online membuat jasa pengiriman semakin populer. Apalagi saat ini jasa pengiriman tidak terbatas pada POS yang merupakan jasa pengiriman milik pemerintah. Ada banyak jasa pengiriman swasta yang menjadi favorit para konsumen, sebut saja JNE, Tiki, Wahana, J&T, Pandu, dan lain sebagainya.
 
Sumber : dreamstime.com

Bagaimana pengalaman dengan kurir setiap jasa pengiriman. Pastinya berbeda-beda. Ada yang ramah, acuh, jutek, hingga tak berwajah. Saya katakan tak berwajah karena tidak tahu siapa kurirnya, sebab paket diletakkan begitu saja di depan rumah. Hehehe.


Berikut pengalaman saya dengan kurir salah satu jasa layanan pengiriman beberapa hari lalu.

Saya memesan sebuah barang dari sebuah marketplace dan memilih jasa NAM (bukan nama sebenarnya, dimaklumi ya, hehehe) sebagai jasa pengiriman. Setelah melakukan pembayaran, terdapat notifikasi barang sudah dikirim dengan resi AAA111. Estimasi kedatangan barang sekitar 3-4 hari.

Pada hari ketujuh barang belum juga sampai. Saya akhirnya melacak barang lewat web online. Setelah resi diinput ada keterangan barang sudah sampai di kota saya sejak 5 hari lalu. Saya mencoba menghubungi NAM dan pihak operator NAM memberi tahu bahwa barang telah dioper pada jasa pengiriman MAN di daerah tempat saya tinggal.

Selama ini saya hanya mengetahui bahwa jika barang tidak bisa diantar, pihak jasa pengiriman akan menghubungi pelanggan dan meminta barang diambil di kantor. Apa mungkin ada kebijakan baru tentang oper barang kiriman? *bingung*   

Saya diberi resi pengiriman baru dan hasil pelacakan online menunjukkan barang sudah sampai kantor MAN sejak 3 hari. Saya tidak segera menghubungi MAN karena menganggap kurir akan mengirimkan pada hari itu. Namun hingga sore hari barang belum juga sampai. Saya pun memutuskan untuk ke kantor MAN dan mengambil barang langsung.

Kantor MAN terlihat penuh pelanggan. Ada yang mengirim barang dan ada juga yang mengambil barang. Hanya ada satu orang admin yang sedang bertugas. Saya segera menyampaikan tujuan dan menyerahkan resi kiriman. Petugas admin meminta saya menunggu.

Sekitar 10 menit kemudian, seorang pemuda berkemeja batik membuka pintu kantor. Rupanya ia adalah salah satu kurir MAN. Petugas admin meminta kurir A tersebut untuk mencari barang saya di gudang. Tidak beberapa lama, kurir A keluar dari gudang dan meminta resi pengiriman kembali. Kurir A mengecek ulang informasi di komputer dan kembali masuk gudang. Kira-kira 15 menit kemudian ia keluar.

Kurir A            : barangnya gak ada mbak, sudah dibawa kurir.
Pelanggan        : barusan saya hubungi rumah, katanya belum ada kurir yang antar barang.
Kurir A            : kurirnya keluar sejak pagi mbak, jadi barangnya pasti sudah dibawa.
Pelanggan        : saya bisa minta kontak kurirnya untuk memastikan?
Kurir A            : kurir B, 08111111111.

Pelanggan berterima kasih lalu pamit keluar. Sebelum pulang, pelanggan menghubungi kurir B namun tidak diangkat. Pelanggan kemudian mengirim sms untuk mencari keberadaan paket. Beberapa detik kemudian, hp pelanggan bergetar. Layar hp menunjukkan nomor kurir B.

Pelanggan        : halo, ini kurir B dari MAN? Saya mau menanyakan barang, kata pihak barang sudah dibawa kurir.
Kurir B            : alamatnya mana mbak?
Pelanggan        : kecamatan GDN atas nama FFFFF.
Kurir B            : itu bukan wilayah saya mbak, saya gak bawa barangnya. Mbak salah kurir.
Pelanggan        : H%$#*&. boleh minta info kurir yang benar?
Kurir B            : kurir C.

Pelanggan masuk kembali ke kantor dan memberi tahu kurir A.

Pelanggan        : mas, kurir B tidak bawa barangnya. Dia bilang petugasnya kurir C.
Kurir A            : alamatnya mana mbak?
Pelanggan        : kecamatan GDN
Kurir A            : oh, saya kira kecamatan GDM, tadi bacanya gak jelas (senyum-senyum).
Pelanggan        : %$#*&%$#*&
Kurir A            : Kurir C hpnya 08222222222.

Pelanggan segera keluar kantor dan menghubungi kurir C, namun tidak diangkat. Seperti sebelumnya, pelanggan mengirim sms untuk mencari keberadaan paket. Belum sempat memutar balik kendaraan, ada pesan yang masuk. Pesan dari provider yang menyatakan sms gagal terkirim. %$#*&%$#*&%$#*&

Pelanggan masuk kembali ke kantor dan menginformasikan bahwa nomor kurir C tidak bisa dihubungi. Kurir A kemudian memberikan kontak lain dari gawainya. Setelah mengucapkan terima kasih, pelanggan keluar kantor dan kembali menghubungi kurir C.

Kurir C            : halo?
Pelanggan        : halo, kurir C dari MAN? Saya mau tanya paket.
Kurir C            : alamatnya mana mbak?
Pelanggan        : kecamatan GDN atas nama FFFFF.
Kurir C            : itu bukan bagian saya. Mbak salah kurir.
Pelanggan        : %$#*&%$#*&%$#*&%$#*&. Saya ada di kantor. Kata kantor, kurir
  kecamatan GDN ya kurir C.
Kurir C            : salah mbak, kurir kecamatan GDN bukan saya tapi kurir D.
Pelanggan        : boleh minta no kurir D? (dalam hati %$#*&%$#*&%$#*&%$#*&)
Kurir C            : saya masih dijalan antar barang. Gak bisa kirim nomor.
  Kurir D sekarang ke kecamatan NNN dan MMM.
Pelanggan        : %$#*&%$#*&%$#*&%$#*&%$#*&%$#*&

Pelanggan masuk kembali ke kantor dan menginformasikan kesalahan kurir untuk ketiga kalinya. Tiba-tiba muncul kurir E dari gudang dengan membolak-balik sebuah bungkusan.

Kurir E            : barangnya ini ya mbak? Namanya FFFFF. Tetapi barangnya dua.
Pelanggan        : %$#*&%$#*&%$#*&%$#*&%$#*&%$#*&%$#*&
  iya, ini barang saya. Tadi saya sudah bilang kalau barang saya ada dua.
Kurir E            : Oooh, saya gak tahu (senyum tanpa dosa).
Pelanggan        : %$#*&%$#*&%$#*&%$#*&%$#*&%$#*&%$#*&%$#*&
Kurir E            : rumah mbak sebelah mana?
Pelanggan        : depan kantor BBB.
Kurir E            : saya titip barang buat UUU, rumahnya juga depan kantor BBB.
Pelanggan        : %$#*&%$#*&%$#*&%$#*&%$#*&%$#*&%$#*&%$#*&%$#*&
                          (menghirup nafas panjang) iya, asal saya diberi tas plastik.
Kurir E            : iya, iya (sigap mencari tas plastik)
Pelanggan        : kenapa barang saya tidak diantar sampai 3 hari?
Kurir E            : kurirnya libur. Saya pengganti.
Pelanggan        : (tadi ke kecamatan lain, sekarang libur)
                         %$#*%$#*&%$#*&%$#*&%$#*&%$#*&%$#*&%$#*&%$#*&$#*&
Pelanggan melongok ke dalam gudang, ada kurir A sedang mencari barang.

Pelanggan        : mas, barang saya masih di kantor lho belum dibawa kurir. (menunjukkan barang)
Kurir A            : tadi saya mencari di kecamatan YYY dan barangnya tidak ada.
Pelanggan        : (tadi jelas diberi tahu kecamatan GDN, kenapa jadi kecamatan YYY)
 $#*&%$#*&%$#*&%$#*&%$#*&%$#*&%$#*&%&%$#*&%$#*%$#*

Saat keluar kantor, saya ingin sekali mampir di toko kue sebelah dan melahap kue tart yang ada di etalase toko walaupun jam berbuka puasa masih 30 menit lagi. 

%&$#!&%$#*%$#&%$#*%$#&%$#*%$#&%$#*%$#&%$#*%$#&%$#*%$#&%$#*%

Itulah kisah percakapan kurir dengan saya sebagai pelanggan yang cukup membuat saya hampir membatalkan puasa di detik-detik terakhir. Hahaha.
 

Catatan buat diri sendiri : ternyata sigap dan cepat saja tidak cukup, harus ada ketelitian agar tidak salah mengambil keputusan. Terutama jika berkaitan dengan orang lain.




       
Artikel Terkait
123456789101112131415