Custom Search

2018-04-14

MEMASUKI ERA DIGITAL, SAYA BELAJAR MENJADI KONSUMEN CERDAS

 “Tahun 2000 kerja serba mesin
Berjalan berlari menggunakan mesin
Manusia tidur berkawan mesin
Makan dan minum dilayani mesin
(sungguh mengagumkan tahun 2000, namun demikian penuh tantangan)”
Tempat belanja era digital (sumber : www.123RF.com)
 
Ada yang tahu lirik lagu di atas? Lirik tersebut merupakan petikan dari lagu Qasidah berjudul tahun 2000. Lagu populer yang dinyanyikan oleh Nasida Ria pada tahun 90-an. Saat itu, saya  masih anak-anak dan berpikir mesin adalah robot berjalan seperti para pahlawan dan monster dalam film animasi. Sebut saja Ultraman, Satria Baja Hitam, atau Power Rangers. Hiii, takut kan kalau harus tidur dengan makhluk-makhluk tersebut. Jadi, saya simpulkan tidak mungkin lirik lagu Tahun 2000 menjadi kenyataan.  


Belasan tahun berlalu, ternyata lirik lagu Tahun 2000 menjadi fakta yang lumrah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Kita berjalan dan berlari menggunakan kendaraan, tidur bersebelahan dengan gawai, dan makan minum dilayani oleh aplikasi-aplikasi online. Belanja tidak perlu lagi berdesakan, cukup ambil gawai, buka aplikasi online, pilih barang, konfirmasi pemesanan, buka e-banking, transfer, konfirmasi pemesanan dan keesokan harinya barang sudah bisa kita genggam. Cukup mudah bukan?

Sayangnya kemudahan itu terkadang merugikan karena bisa membuat kantong bocor. Berlaku bagi saya lho, kenapa? Sebab mata saya tidak bisa dikontrol kalau melihat barang unik, menarik, antik ditambah murah. Maunya selalu klik tulisan “masuk keranjang” pada setiap aplikasi online. Padahal tidak semua barang tersebut saya butuhkan. Bahkan mungkin saya tidak tahu fungsi aslinya karena lebih memilih tampilan dan keunikan barang saat membeli. Parah kan?

Kerugian saya tidak hanya finansial yang bocor tetapi juga melimpahnya barang yang tidak digunakan. Hanya diletakkan dan selanjutnya rusak karena usia. Jika hanya satu atau dua barang tidak bermasalah, tetapi kalau banyak? Bisa-bisa rumah beralih fungsi menjadi gudang sampah daripada sebagai tempat tinggal. Betul? Betuuul *teriak sendiri, hehehe*  

Tumpukan barang yang tidak digunakan ini membuat saya sadar bahwa tidak selamanya iklan harus dibeli. Sah-sah saja produsen mengiklankan barangnya sebagai ajang promosi, tetapi sebagai konsumen saya harus cerdas dalam membeli. Apalagi dalam era digital, sponsor pasti tampil rutin di media sosial. Sungguh membuat saya prihatin karena selalu tergiur. Hahaha.

Tekad untuk menjadi konsumen cerdas di era digital membuat saya mengatur langkah dalam berbelanja. Ada 3 langkah yang saya terapkan, yaitu belanja sesuai kebutuhan, memilih toko atau produsen yang terpercaya, dan selalu kepo dengan produk yang akan saya beli.   


Belanja sesuai kebutuhan menjadi langkah pertama yang harus saya terapkan. Jangan lagi tergoda iklan apalagi bonus atau diskon. Saya harus pintar memilih antara barang yang dibutuhkan dan barang yang diinginkan. Jika barang yang dibutuhkan masih bisa didaur ulang dari barang yang dimiliki, maka tidak perlu membeli barang baru. Semoga komitmen ini bisa terlaksana dan hasrat belanja tidak muncul tiba-tiba. Hehehe.

Langkah kedua adalah memilih toko atau produsen yang dipercaya. Untuk langkah kedua saya biasanya memulai dengan toko atau produsen yang sudah dikenal. Misalkan toko milik teman atau saudara. Jika tidak ada teman atau saudara yang terjun di bisnis barang yang saya inginkan, saya akan mencari barang di market place. Jika ada banyak pilihan, saya akan memilih toko yang memiliki nilai tinggi, lokasi dekat dengan tempat tinggal, dan harga yang murah. 

Saya juga sering melihat ulasan pembeli lain sebelum bertanya-tanya tentang barang yang akan dibeli. Bagi saya, ulasan dan pemberi ulasan menjadi faktor penentu dalam memilih toko yang terpercaya di market place. Sebab ulasan lebih jujur dibandingkan promosi iklan yang diberikan pemilik toko. 

Setelah menentukan toko tujuan, langkah selanjutnya adalah mencari informasi mendetail tentang produk yang akan kita beli. Misalkan saya akan membeli jilbab, maka saya harus tahu bahan yang digunakan, warna yang tersedia hingga ukuran jilbab. Kenapa demikian? Agar nantinya barang yang saya beli sesuai dengan keinginan. 

Saya punya pengalaman membeli jilbab secara online. Ternyata bahan dan ukuran jilbab tidak sesuai dengan yang saya inginkan. Saya tidak protes karena sebelumnya memang tidak bertanya lebih detail tentang jilbab yang akan dibeli. 

Andaikan sebelumnya saya bertindak sebagai konsumen cerdas, saya tidak akan mengalami kekecewaan. Saya juga bisa konfirmasi dan meminta pergantian barang. Sayangnya, saya baru belajar menjadi konsumen cerdas setelah mengalami beberapa kali kekecewaan seperti barang tidak sama dengan iklan atau barang terlambat datang. Oleh sebab itu, agar tidak ada yang mengalami nasib seperti saya maka kita harus belajar menjadi konsumen yang cerdas. Terutama jika terkait dengan makanan, minuman, obat dan kosmetik. Karena barang-barang tersebut memiliki tanggal kadaluarsa yang dapat membahayakan jika digunakan setelah memasuki masa kadaluarsa.


Bagaimana jika kita terlanjur membeli barang kadaluarsa? Kita bisa konfirmasi pada pihak penjual atau pembuatnya. Jika tidak bisa, kita bisa lapor pada Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM). Tidak perlu takut, karena sebagai konsumen kita memiliki hak yang harus dipenuhi oleh penjual.

Nah, 3 langkah di atas adalah cara saya dalam belajar menjadi konsumen yang cerdas di era digital. Bagaimana dengan para pembaca? Apakah memiliki tips khusus dalam menjadi konsumen yang cerdas di era digital? Boleh share nih agar saya semakin mantap menjadi konsumen yang cerdas. Hehehe.

http://harkonas.id/koncer.php
Pesan Kancil : Jadilah konsumen cerdas

Selamat menyambut hari HARKONAS 2018



Artikel Terkait
123456789101112131415