Custom Search

2015-05-10

MAKNA GLOBALISASI DALAM PENDIDIKAN


Globalisasi mulai banyak diperbincangkan sejalan dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat. Terutama teknologi informasi, dimana semua orang bebas berkomunikasi dan berinteraksi tidak hanya antar kota, atau provinsi melainkan juga antar negara. Menghapuskan batas geografis, bahkan juga ras dan etnis. Akibatnya terjadi perubahan dan pergeseran di berbagai aspek. Ekonomi, politik, sosial, budaya dan pendidikan.
Sumber : www.shydgm.com
Memasuki globalisasi sama halnya dengan memasuki dunia yang penuh persaingan dalam berbagai segi kehidupan. Persaingan memunculkan pemahaman daya saing bangsa. Berkaitan dengan itu, Hatten dan Resenthal (2000:5) menyatakan bahwa penguasan bidang ilmu dan teknologi dalam kadar yang memadai sangat diperlukan agar masyarakat dapat meningkatkan kemampuan kreativitas, pengembangan, dan penerapan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) sebagai tuntutan yang mutlak dalam kehidupan global.


Globalisasi dapat dimaknai sebagai sebuah penyeragaman seluruh aspek kehidupan manusia di seluruh dunia (Martono, 2010:108). Sehingga perubahan dan pergeseran aspek ekonomi, politik, sosial, budaya dan pendidikan mengikuti budaya global yang akhirnya menimbulkan persaingan untuk bisa berkiprah dalam budaya global. Dalam dunia pendidikan pergeseran terjadi pada kualitas dan orientasi tujuan yang diproyeksikan untuk memenuhi kebutuhan pasar global di tingkat internasional.  

Masyarakat berkualitas yang sadar akan fungsi dan peranannya dalam masyarakat dunia yang terbuka dan penuh persaingan hanya dapat dihasilkan oleh suatu sistem pendidikan yang berkualitas pula. Yakni sistem pendidikan yang berwawasan global sebagai transformasi untuk menjawab tuntutan baru dalam globalisasi. 

Zamroni (2003) menuliskan pendidikan di era globalisasi atau pendidikan berwawasan global dapat dikaji berdasarkan dua perspektif, kurikuler dan reformasi. Berdasarkan perspektif kurikuler, pengembangan pendidikan berwawasan global memiliki implikasi ke arah perombakan kurikulum pendidikan. Mata pelajaran dan mata kuliah yang dikembangkan tidak lagi bersifat monolitik melainkan lebih banyak yang bersifat integratif. Lebih ditekankan pada kajian yang bersifat multidispliner, interdisipliner dan transdisipliner. Sependapat dengan Aronowitz (2000) tentang tren globalisasi yang melahirkan hybrid science. Artinya pengotakan ilmu pengetahuan telah terbongkar sehingga pandangan keilmuwan seseorang tidak terbatas pada perspektif disiplinnya yang sempit tetapi juga adanya cross fertilization antar ilmu.     

Berdasarkan perspektif reformasi, pendidikan berwawasan global menuntut kebijakan pendidikan tidak semata sebagai kebijakan sosial, melainkan suatu kebijakan yang berada di antara kebijakan sosial dan kebijakan yang mendasarkan mekanisme pasar. Oleh karena itu, pendidikan harus memiliki kebebasan dan bersifat demokratis, fleksibel dan adaptif. 

Hal ini juga dinyatakan oleh Edison A. Jamli (2005) bahwa globalisasi memiliki dampak yang besar bagi perubahan pendidikan, baik secara system maupun kurikulum yang diajarkan, sehingga penting menciptakan sistem pendidikan yang lebih komprehensif dan fleksibel, sehingga para lulusan dapat berfungsi secara efektif dalam kehidupan masyarakat global demokratis. Pendidikan harus dirancang sedemikian rupa yang memungkinkan para siswa mengembangkan potensi yang dimiliki secara alami dan kreatif dalam suasana penuh kebebasan, kebersamaan dan tanggung jawab. Di samping itu, pendidikan dalam era globalisasi harus menghasilkan lulusan yang dapat memahami masyarakatnya dengan segala faktor yang dapat mendukung mencapai sukses ataupun penghalang yang menyebabkan kegagalan dalam kehidupan bermasyarakat.



Rujukan



Hatten, K.J. & Rosenthal, S.R. 2001. Reaching for the Knowledge Edge. New York: Amrican Management Association.

Martono, Nanang. 2010. Pendidikan Bukan tanpa Masalah: Mengungkap Problematika Pendidikan dari Perspektif Sosiologi. Yogyakarta: Gava Media

Zamroni. 2003. Paradigma Pendidikan Masa Depan. Jakarta: Bag. Proyek Perluasan dan Peningkatan Mutu SMU.

Aronowitz, Stanley. 2000. The Knowledge Factory, Dismantling the Corporate University and Creating True Higher Learning. Boston: Beacon Press

Jamli, Edison, dkk. 2005. Kewarganegaraan. Jakarta: Bumi Akasara

 
Artikel Terkait
123456789101112131415