Custom Search

2015-05-23

KONSTRUKTIVISME PENDIDIKAN (PERAN DAN DINAMIKANYA)

Peran guru dan Siswa
Guru dalam aliran konstruktivisme tidak lagi menduduki tempat sebagai satu-satunya sumber belajar. Namun guru lebih diposisikan sebagai fasilitator yang memfasilitasi siswa untuk dapat belajar dan mengkonstruksi pengetahuannya sendiri (Hudojo, 1998:5-6). Sebagai fasilitator guru bertanggung jawab terhadap kegiatan pembelajaran di kelas. Diantara tanggung jawab guru dalam pembelajaran adalah menstimulasi dan memotivasi siswa. Mendiagnosis dan mengatasi kesulitan siswa serta menyediakan pengalaman untuk menumbuhkan pemahaman siswa (Suherman dkk, 2001:76). Oleh karena itu, guru harus menyediakan dan memberikan kesempatan sebanyak mungkin kepada siswa untuk belajar secara aktif. Sedemikian rupa sehingga para siswa dapat menciptakan, membangun, mendiskusikan, membandingkan, bekerja sama, dan melakukan eksperimentasi dalam kegiatan belajarnya (Setyosari, 1997: 53). Berdasarkan konstruktivisme, akibatnya orientasi pembelajaran bergeser dari berpusat pada guru mengajar ke pembelajaran berpusat pada siswa (student centered instruction).

Sumber : blogspot.com

Secara rinci dalam modul pembelajaran sains kanak-kanak malaysia disebutkan peran guru dan siswa dalam pembelajaran konstruktivisme sebagai berikut.
1.    Guru berperanan sebagai penyelidik. Dengan cara ini, guru akan lebih memahami bagaimana siswa menemukan konsep atau pengetahuan.
2.    Memancing siswa untuk menerangkan ide mereka serta menghargai pandangan mereka.
3.    Bertanggung jawab membimbing dan membantu murid mempelajari sesuatu pelajaran dengan bermakna.
4.    Membantu siswa menghubungkan materi pebelajaran dengan kehidupan sehari-hari
5.    Menugaskan siswa dengan bentuk tugas berupa penyelesaian, menganalisis, meramal, menerka dan membuat hipotesis.
6.    Memberi waktu yang cukup kepada siswa untuk membuat kaitan antara ide-ide yang telah ditemukan.
7.    Melaksanakan pembelajaran koperatif dalam menjalankan tugasan tertentu.
8.    Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan murid bertanggung jawab dalam membuat rancangan, proses, dan penelitian.
9.        Siswa mempunyai peranan dalam menentukan apa yang akan mereka pelajari. Mereka perlu berinisiatif mengemukakan isu persoalan, kemudian secara individu membuat analisis
10.    Siswa menganggap guru sebagai salah satu sumber pengetahuan dan bukan sebagai seorang yang tahu segalanya.
11.    Siswa bertanggungjawab terhadap diri sendiri untuk menggunakan berbagai cara dalam menyelesaikan masalah.
12.    Siswa selalu berdiskusi dengan guru dan sesama mereka. Perbincangan itu akan dapat membantu menguatkan atau mengubah ide mereka.
13.    Siswa menjabarkan hipotesis yang telah dibuat untuk di uji.
14.    Siswa menggunakan data dan bahan-bahan konkret untuk membantu mendapatkan pengetahuan.
Secara matriks peran guru dan siswa dalam pembelajaran konstruktivisme dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

Peran Guru dan Siswa dalam Pembelajaran menurut Konstruktivisme
No.
Peran Siswa
Peranan Guru
1.
Berinisiatif mengemukakan masalah dan pokok pikiran, kemudian menganalisis dan menjawabannya sendiri.
Mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri dan keterlibatan aktif dalam kegiatan belajar.
2.
Bertanggung jawab sendiri terhadap kegiatan belajarnya atau penyelesaian suatu masalah.
Memusatkan perhatian kepada proses berpikir atau proses mental siswa, bukan kepada kebenaran jawaban siswa saja.
3.
Secara aktif bersama dengan teman sekelasnya mendiskusikan penyelesaian masalah atau pokok pikiran yang mereka munculkan, dan apabila dirasa perlu dapat menanyakannya kepada guru.
Guru perlu fleksibel dalam merespons jawaban atau pemikiran siswa. Menghargai pemikiran siswa dan meghindari perkataan “Ini satu-satunya jawaban benar”
4.
Atas inisiatif sendiri dan mandiri berupaya memperoleh pemahaman yang mendalam (deep understanding) terhadap suatu topik masalah belajar.
Guru perlu menyediakan pengalaman belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sehingga belajar sebagai proses konstruksi pengetahuan dapat terwujud.
5.
Secara aktif mengajukan dan menggunakan berbagai hipotesis (kemungkinan jawaban) dalam memecahkan suatu masalah.
Memaklumi akan adanya perbedaan individual, termasuk dalam hal perkembangan kognitif siswa.
6.
Secara aktif mengajukan berbagai data atau informasi pendukung dalam penyelesaian suatu masalah atau pokok pikiran yang dimunculkan sendiri atau yang telah dimunculkan oleh teman sekelas.
Guru perlu menyampaikan tujuan pembelajaran dan apa yang akan dipelajari di awal kegiatan belajar. Hal ini akan mempengaruhi keaktifan siswa, karena ia tahu apa yang akan di pelajari dan untuk apa ia terlibat dalam pembelajaran.
7.
Secara kreatif dan imajinatif mengaitkan antara gagasan yang telah dimiliki dengan informasi baru yang diterima.
Guru perlu banyak berinteraksi dengan siswa untuk dapat mengetahui apa yang telah mereka ketahui dan apa yang mereka pikirkan.
Sumber : sainsmatika.blogspot.com

Dinamika Pembelajaran Konstruktivisme
Adapun prinsip-prinsip konstruktivisme yang diterapkan dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut:
1)   Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri.
2)   Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke murid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar.
3)   Murid aktif megkonstruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah.
4)   Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancar.
5)   Struktur pembelajaran seputar konsep diutamakan pada pentingnya sebuah pertanyaan.
6)   Mencari dan menilai pendapat siswa.
7)   Menyesuaikan bahan pengajaran untuk menanggapi anggapan siswa.
Wheatley (1991: 12) mengajukan dua prinsip utama berkaitan dengan pembelajaran konstrukltivisme. Pertama, pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif, tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa. Kedua, fungsi kognisi bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiliki anak. Hanbury (1996:3) juga mengemukakan sejumlah aspek dalam kaitannya dengan pembelajaran, yaitu (1) siswa mengkonstruksi pengetahuan dengan cara mengintegrasikan ide yang mereka miliki, (2) pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa mengerti, (3) strategi siswa lebih bernilai, dan (4) siswa mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan temannya. Sedangkan Widodo (2004) menyimpulkan terdapat lima unsur penting dalam lingkungan pembelajaran yang konstruktivis, yaitu:
a. Memperhatikan dan memanfaatkan pengetahuan awal siswa
b. Pengalaman belajar yang otentik dan bermakna
c. Adanya lingkungan sosial yang kondusif.
d. Adanya dorongan agar siswa bisa mandiri
e. Adanya usaha untuk mengenalkan siswa tentang dunia ilmiah

Artikel Terkait
123456789101112131415