Custom Search

2012-07-08

PROFESI DAN CITA-CITA

                  Hampir tujuh tahun lalu, saya menulis artikel dengan judul Andaikan Saya Seorang Guru. Tulisan yang lebih didasarkan atas kewajiban mengumpulkan tugas akhir dari dosen pengampu mata kuliah pengantar pendidikan dibandingkan pengandaian atas cita-cita. Saat itu tidak terbersit dalam benak saya untuk menjadi seorang guru, walaupun senyatanya saya adalah mahasiswa program studi kependidikan. Tentu saja pemilihan ini bukan kehendak saya, jika tidak, tak mungkin saya tidak memiliki keinginan menjadi seorang guru.
                  Proses menjadi calon guru, tidak mudah bagi saya. Saya harus belajar keras untuk bisa tampil mengajar dalam praktek peer-teaching. Walaupun hasil akhirnya saya harus puas dengan nilai C. Saya mencoba belajar menjadi tutor, baru satu bulan saya menerima pemberitahuan bahwa orang tua memberhentikan sebab tidak setuju dengan metode pengajaran yang saya berikan. Bahkan pada akhir praktik mengajar di sekolah, saya banyak mendapat kritik dari siswa sebagai guru yang judes, sinis, tidak pernah tersenyum, suara terlalu pelan, dan terlalu memaksakan metode pembelajaran. Bukan hanya itu, seorang teman yang mengikuti saya di kelas merasa terkejut dengan sikap keras saya yang jauh dari sikap keseharian. Alasan itu membuat saya semakin percaya bahwa saya tidak bisa menjadi guru. Guru membuat saya tidak menjadi diri sendiri dan berpura-pura akting di depan kelas.
                  Akhir kuliah saya mendapat tawaran mengajar dari almamater saya sebelumnya. Keputusan simalakama karena saya tidak ingin jadi guru, sedangkan di sisi lain saya sudah berjanji untuk kembali ke almamater segera setelah kuliah. Setelah melalui pertimbangan yang sulit, saya memutuskan membantu almamater. Sekedar untuk menuntaskan janji yang pernah saya ikrarkan.
                  Berawal dari niat membantu, saya tidak begitu mempedulikan sosok guru yang seharusnya saya geluti. Berbeda dengan kasus-kasus sebelumnya. Saat saya berusaha keras untuk tampil seperti guru dalam pikiran saya. Saat itu, saya memposisikan diri sebagai kakak kelas bukan guru. Tetapi disinilah saya akhirmya bisa belajar menjadi guru. Terlebih lagi satu semester kemudian saya harus berpamitan sebab pindah tugas menjadi guru negeri. Saya terenyuh dengan sikap mereka yang tidak menghendaki kepindahan saya. Tangis beberapa siswa dari setiap kelas yang saya ajar begitu membekas, dan pada saat itu saya yakin bahwa saya mencintai mereka. Mereka yang menerima saya apa adanya, mereka yang mengajarkan untuk tetap menjadi diri sendiri. Apapun peran yang saya jalani.
                  Menjadi guru negeri tidak serta membuat saya mencintai profesi guru. Saya masih berat hati menjalani profesi ini. Keterpaksaan lingkungan dan tugas yang sudah menjadi kewajiban membuat saya tetap mengemban kata guru. Akan tetapi, waktu membuat saya terus belajar dan pada akhirnya sampai pada satu kesimpulan bahwa inilah jalan hidup saya. Sekeras apapun saya menentang dan menolak pada muaranya yang terjadi adalah keputusan sang pemilik hidup, Allah SWT.
                 Tiga tahun saya berpikir untuk menjadi guru, guru sebagai pilihan profesi hidup bukan karena keterpaksaan. Semakin saya berpikir, semakin saya mencintai lingkungan ini. Siswa-siswa yang selalu membuat saya kagum, tertawa, senang, marah, jengkel, dan kecewa pada saat yang bersamaan. Ulah kekanakan dan sok dewasa tak jarang juga membuat saya terpingkal dan terharu. Kini saya yakin bahwa saya mencintai siswa-siswa saya, saya ingin memberikan yang terbaik pada mereka. Saya bahagia dengan kebahagian yang mereka dapatkan, dan saya bersedih tatkala air mata mereka menetes karena kesedihan. 
 
                 Sekarang saya baru bisa mengatakan saya mencintai profesi guru. Saya memang tidak bercita-cita jadi guru, dan tidak akan pernah bercita-cita menjadi guru, karena guru adalah jiwa saya dan sampai kapan pun saya akan menjaga lentera itu agar tidak pernah padam.


BT, 080712, 05:00 PM     

Artikel Terkait
123456789101112131415