Custom Search

2011-03-18

KEMATIAN YANG TAK KUNJUNG DATANG

Manusia hanya bisa berusaha tanpa bisa menentukan namun selalu ada kesempatan baru untuk memperbaiki hidup agar lebih sempurna. Begitu pula yang terjadi padaku. Sebuah episode hitam sempat hadir dan menghilangkan kesempatan dalam menempuh pendidikan. Peristiwa itu terjadi saat aku duduk di kelas 3 SMP. Aku merasa lelah, jenuh, dan bosan sehingga menginginkan kematian dan mencoba dengan cara bunuh diri. Perasaan yang awalnya timbul karena kondisi fisik yang lemah.
Sejak lahir fisikku lemah dan rentan penyakit. Aku tidak seperti teman-teman yang bisa seenaknya main hujan atau bermain sepuasnya karena hanya akan menyebabkan badan tergeletak di tempat tidur berhari-hari. Walaupun fisikku lemah tetapi pada usia 5 tahun, aku sudah duduk di bangku kelas 1 SD.
Usia sekolah yang belum cukup dan fisik yang lemah ternyata hanya memperparah keadaan. Aku selalu sakit jika menjelang ujian. Itu berjalan dari awal masuk sekolah dasar hingga lulus. Di bangku SMP, kebiasaanku bukannya berkurang malah bertambah parah yaitu bukan menjelang ujian tapi tepat saat ujian berlangsung. Tak heran aku selalu menjadi penghuni ujian susulan. Hal ini membuatku lelah dan jenuh dengan keadaan.
Saat duduk di kelas 3 SMP, perasaan jenuh mulai berkurang karena rasa senang akan lulus dan memiliki seorang adik perempuan. Ya, sudah lama aku menginginkan seorang adik dan iri pada teman-temanku yang bisa bercanda tawa dengan adiknya. Tapi ternyata kesenangan itu tak berlangsung lama. Usia 4 bulan adikku wafat karena hepatitis B. Pukulan berat buatku. Seseorang yang selama ini ku nantikan tiba-tiba harus pergi. Aku sangat kehilangan. Perasaan jenuh pun mulai datang kembali. Aku berusaha keras untuk melawannya dengan konsentrasi belajar. Tapi lagi-lagi penyakitku kambuh. Aku sakit sehari menjelang ujian cawu 2 dimulai. Penyakitku lebih parah dari sebelumnya. Dokter meminta untuk beristirahat demi kesembuhanku. Aku tergolek lemah selama hampir 2 minggu. Ujian pun selesai. Aku kembali dibayangi dengan ujian susulan. Ujian susulan yang selama ini menemaniku dari kelas 1 SMP. Aku bosan, jenuh, lelah, marah, dan kecewa dengan kondisiku. Belum lagi kehilangan yang masih terasa karena kepergian adik. Akhirnya aku memutuskan tidak kembali ke sekolah.
Orangtuaku marah dan memaksa kembali ke sekolah. Aku berontak. Aku ingin istirahat dan menjalani hari tanpa perasaan takut sakit. Orangtuaku tak mau tahu, mereka tetap memaksa. Membuatku semakin kecewa dengan keadaan dan memacu rasa ingin mati. Aku ingin Tuhan mengambilku sebagaimana dia mengambil adikku. Setiap hari aku berdoa dan memohon, tapi kematian itu tak kunjung datang.
Ujian akhir sekolah menjelang. Dua orang guru datang menjenguk dan meminta agar mengikuti ujian sekolah. Aku tidak bersedia karena sudah memutuskan tidak bersekolah. Tetapi mereka memaksa, begitu pula dengan orangtuaku. Keadaan semakin membuatku tertekan. Apalagi keinginan untuk mati tak jua datang. Akhirnya aku mencoba bunuh diri dengan memotong nadi pergelangan tangan. Tapi usaha itu tak berhasil karena aku merasa kesakitan saat melukai pergelangan tangan. Aku pun tak jadi bunuh diri tapi aku juga tak ikut ujian. Aku hanya berdiam diri di rumah. Merenung dan selalu bertanya-tanya kapan hari kematian itu menjemput.
Tahun ajaran baru tiba. Orangtuaku kembali meminta untuk kembali sekolah. Aku tak segera mengiyakan. Ada perasaan takut untuk kembali berstatus sakit dan mengikuti ujian susulan. Orangtuaku terus membujuk setiap hari. Aku tak sampai hati melihatnya. Apalagi penantian tentang kematian tak ada hasilnya. Suatu hari ku katakan bahwa aku akan kembali sekolah tapi tidak di sekolah lama. Aku ingin pindah sekolah dan merasakan suasana baru. Namun orangtuaku keberatan dan menginginkan untuk kembali ke sekolah lama.
Aku menolak dan bersikeras untuk pindah. Orangtuaku tak kehabisan akal. Seorang teman baiknya didatangkan dan menasehatiku panjang lebar. Akhinya aku pun mengiyakan. Bukan karena nasehat, tapi karena aku tak tahan dengan nasehatnya yang tak berkesudahan.
Aku kembali ke sekolah lama. Beruntung sekolah masih mau menerima setelah membolos selama 5 bulan. Ini adalah kesempatan kedua yang masih ku dapat untuk tetap melanjutkan pendidikan. Aku pun berjanji untuk tidak mengulangi dan mengecewakan kedua orangtua lagi. Awalnya sulit, rasa penyesalan dan traumatis selalu menghantui, tetapi aku berusaha melawan rasa itu dengan berkonsentrasi belajar dan membuat prestasi..
Sekarang baru aku sadari, bahwa apa yang terjadi dulu semata-mata adalah kehendak Tuhan untuk tetap menjagaku pada alur hidup yang ditetapkanNya. Walaupun rasa trauma itu baru bisa hilang setelah duduk di bangku kuliah, tapi aku tahu, tanpa tahun kejenuhan itu tak mungkin aku bisa mendapat anugerah seperti yang ku rasakan saat ini. Terima kasih Tuhan atas kejenuhan dan kesempatan kedua yang telah Kau berikan.




Qudsi, 2011
Artikel Terkait
123456789101112131415