Custom Search

2010-12-27

NININ DI RANUAGUNG

“Mbak yakin dengan keputusan ini?” aku menatap lekat wanita didepanku.
“Yakin dik, aku dan Kang Ode sudah membicarakannya semalam.”
“Kasihan Ninin mbak, apa tidak bisa ditunda 4-5 bulan lagi sampai Ninin lulus SMP. sayang kalau Ninin putus sekolah dikelas 3.”

“Aku maunya ya gitu, nunggu Ninin punya ijazah SMP. Biar bisa cari kerja yang enak, ndak seperti aku dan Kang Ode kalau cari kerja susah. Kalau dapat kerja, ya ndak jauh-jauh dari pembantu dan kuli. Tapi aku dan Kang Ode ini takut dik, sekarang ini jamannya wes ndak karuan. Di TV banyak anak perempuan yang wes ndak perawan, katanya pengen tau karena sering lihat pilm begituan.” Cerita Mbak Sumi dengan logat jawa yang masih kental.


“Kalau jamanku dulu sulit cari pilm begituan, sekarang udah banyak. Wong katanya yang maen artis itu udah bisa dilihat di HP. Kemarin Kang Darmo cerita di warung Yu Sani. Dia sudah lihat pilmnya. Hot, bisa tambah napsu sama istri bilangnya Kang Darmo gitu. Lha, kalau yang lihat anak-anak seperti Ninin gimana? Apa ndak kepengen juga, anak-anak juga manungso, ya seneng sama yang begituan.”
Aku tersenyum mendengar perkataan terakhir Mbak Sumi.
“Kok ketawa tho dik, ada apa?” tanya Mbak Sumi heran.
“Itu tadi yang mbak bilang, anak-anak juga manusia, seneng sama yang begituan” jawabku masih sambil tersenyum.
“Bener tho, adik juga pengen ngerasain kan? Ayo di jawab jujur” tanya Mbak Sumi menggodaku.
“Iya mbak, tapi nanti kalau sudah waktunya”
“Ya itu, kalau adik masih bisa nahan. Kalau anak-anak seperti Ninin, susah nahannya. Anak-anak itu kan maunya ya seneng-seneng, ndak mikir yang lain. Aku wes takut ninin jadi seperti itu.”
“Aku yakin Ninin anak baik dan pintar mbak, bisa di ajari. Yang penting mbak kasih perhatian dan kepercayaan ke Ninin.”
“Kalau pinter aku yo tau dik, bapak ibunya kan juga pinter, disekolah juara 1, cuma nasib aja, belum beruntung.”
Aku lagi-lagi ketawa mendengar perkataan Mbak Sumi. Wanita yang usianya 3 tahun di atasku ini hanya bisa menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Dasar. Kemudian merantau ke kota surabaya ikut saudaranya untuk mencari pekerjaan, yang didapat justru bukan pekerjaan tetapi jodoh. Mbak Sumi akhirnya menikah dengan Kang Ode yang saat itu bekerja sebagai kuli di Pelabuhan Ujung. Setelah orang tua Kang Ode meninggal, Kang Ode diminta pulang untuk mengurus perkebunan kopi milik orang tuanya. Mbak Sumi dengan setia ikut Kang Ode dengan membawa Ninin yang masih berusia 3 tahun. Menurut Mbak Sumi awalnya kesulitan membaur dengan masyarakat sini. Bahasa yang jauh berbeda menjadi alasan kuat, tapi lama-kelamaan ia terbiasa. Mbak sumi asli Kudus, kental dengan budaya jawa. Sampai sekarang logatnya masih kental sekalipun berbicara menggunakan bahasa Madura, bahasa sehari-hari di desa ini. Karena itu, Mbak Sumi senang aku tugas di sini, ada saudara orang jawa, ujarnya waktu ku ceritakan daerah asalku, Blitar. Sejak itu Mbak Sumi sering berkunjung padaku, membawa penganan atau sekedar bercerita tentang Ninin. Putri sulungnya yang menginjak usia 15 tahun.
“Kalau tahu Ninin anak pinter, Mbak kenapa takut?”
“Aku dan Kang Ode kan ndak bisa jaga Ninin tiap jam. Apalagi sekarang Ninin sudah tunangan. Sebentar-sebentar minta ijin, katanya di ajak jalan-jalan sama Atur, tunangannya. Aku dan Kang Ode takut kalau sampai Ninin dan Atur kebablasan. Setan itu kan ada dimana-mana.”
“Mbak coba bilang sama Atur, jangan terlalu sering ngajak jalan Ninin.”
“Yo ndak enak kalau ndak di kasih ijin. Wong Atur itu tunangannya. Nanti dikira aku ini tukang ngatur-ngatur, mertua yang cerewet.”
“Ya, kalau mbak sungkan sama Atur, bilangnya sama Ninin.”
“Itu juga dik, Ninin itu wes tresno sama Atur. Dikit-dikit maunya sama Atur. Ya, ke sekolah, ke pasar, jalan-jalan. Makanya itu aku mikir mendingan Ninin cepet-cepet kawin aja. Biar aku dan Kang Ode ini ndak kwatir terus.”
“Nininnya setuju?” tanyaku ingin tau.
“Ninin ndak mau, tapi aku bilang sama Ninin, kalau mau sama Atur terus, ya harus cepat kawin. Takut kebablasan, dosa sama Gusti Allah. Setelah aku bilang seperti itu, Ninin setuju.”
Mbak Sumi diam sejenak.
“Mau gimana lagi dik, ya memang harus seperti itu.”
Aku menarik nafas panjang. Memang harus seperti itu, ucapku dalam hati. Mengulang-ulang perkataan Mbak Sumi.
“Rencananya kapan mbak kawinannya?’ tanyaku memecah keheningan diantara aku dan Mbak Sumi.
“Dua minggu lagi, hari minggu. Katanya itu hari baik buat kawinan. Tadi Kang Ode juga sudah ke Lek Parjo nawarin sapinya buat biaya selamatan. Nanti dik Gian juga harus datang ya, Ninin itu kan dekat sama adik. Aku juga sudah anggap adik ini saudara.”
“Iya mbak, saya usahakan datang.”
“Biar cepet nyusul Ninin juga dik, kalau terlalu lama nanti ndak laku katanya.” ujar mbak sumi tertawa.
“Ah, mbak bisa aja” jawabku sambil tersenyum.
“Ya udah dik, aku pulang dulu. Masih mau ke sumber, ambil air.”
“Iya mbak, makasih juga pisang gorengannya.”
“Sama-sama dik, Assalamuaikum”
“Waalaikum salam.”
Aku memandang kepergian Mbak Sumi sampai sosoknya hilang dipertigaan jalan. Jam menunjukkan jam 09.15 WIB. Aku segera mempercepat pekerjaanku. Membuat laporan bulanan keuangan PUSKESMAS. Tak ku hiraukan sepiring pisang goreng pemberian Mbak Sumi. Tanggung. Nanti saja setelah laporan ini selesai.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam”
Aku mengalihkan pandangan dari tumpukan laporan. Di depan pintu berdiri Madi dan Tuni yang menggendong Puja, balita berusia 2 tahun.
“Masuk Kang, ada apa dengan Puja?” aku mempersilahkan masuk dan menatap Puja yang lemah digendongan Tuni.
“Anu Bu Bidan, Puja panas, nangis terus.” jawab Madi dengan wajah khawatir.
Aku meraba badan Puja. Badannya cukup panas. Aku mengajak mereka ke kamar praktek dan segera memeriksa Puja.
“Sejak kapan panasnya?”
“Tadi malam.”
“Puja cuma demam biasa” kataku pada Madi dan Tuni yang terlihat cemas.
“Tak sarah bu bidan?” tanya Tuni meminta kepastian.
“Ndak mbak, mbak kompres aja, nanti obatnya diminum 3 kali sehari.” jawabku sambil menghaluskan ramuan obat Puja.
“Alhamdulillah” ujar Madi senang, wajahnya sudah berangsur-angsur cerah.
“Ini obatnya” aku menyerahkan bungkusan obat Puja pada Tuni.
“Berapa bu?” tanya Madi seraya merogoh saku celananya.
“Ndak usah kang, buat puja saja uangnya” jawabku tersenyum.
“Gratis bu?” tanya mbak tuni.
“Iya mbak.”
“Kaso’on, bu” jawab Madi dan Tuni bersamaan.
“Sama-sama mbak, kang, semoga puja cepat sembuh.” Aku mengelus kepala Puja digendongan Tuni.
“Iya, Bu. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Aku menatap kepergian pasangan muda itu. Madi berusia 17 tahun dan Tuni 15 tahun, tapi mereka sudah harus menjadi orang tua. Tak heran jika mereka terlihat begitu khawatir melihat kondisi Puja sebab usia yang masih begitu muda. Bukan hanya Madi dan Tuni, ada Rum, Maga, Dewi, dan banyak lagi anak-anak yang sudah menjadi orang tua di usia dini. Sedangkan diperkotaan anak seusia mereka masih asyik belajar, sekolah, jalan-jalan. Sebentar lagi Ninin juga menyusul mereka. Padahal Ninin termasuk anak yang pintar disekolah. Bu retno, salah satu guru Ninin pernah bercerita kepadaku.
Aku kembali duduk memandang laporan yang belum terselesaikan. Sepotong pisang goreng dari Mbak Sumi memberi energi baru. Segera ku alihkan semua konsentrasiku pada kolom-kolom angka yang harus terisi. Hingga sampai kolom terakhir bersamaan dengan kumandang adzan dhuhur dari masjid diseberang Polindes. Aku memeriksa kembali seluruh laporan. Setelah yakin tidak ada yang tercecer, aku bergegas mandi. Air hujan yang ku tampung di bak cukup dingin menyentuh kulit. Disini air sulit didapat. Masyarakat menggunakan tampungan air hujan untuk keperluan sehari-hari kecuali minum. Air minum didapatkan dari sumber yang jauh berada di dekat danau, tak lebih dari 3 km berjalan kaki dengan medan yang menanjak. Belum selesai bersiap, Adeng sudah memanggil dari depan rumah.
“Ya, sebentar” jawabku dari dalam.
Adeng adalah langganan ojek selama aku tinggal di Ranuagung. Tidak ada angkutan dari Ranuagung ke ibukota kecamatan Tiris. Medan yang menanjak dan berkelok, serta masyarakat yang tidak begitu banyak menjadi penghalang adanya angkutan umum. Sehari-hari masyarakat menuju ibu kota kecamatan menggunakan ojek atau berjalan kaki melintasi perkebunan kopi.
“Ayo berangkat” ajakku pada Adeng yang asyik merokok memandang Semeru. Dari Polindes tempatku tinggal, semeru tampak terlihat tinggi, dan dekat. Aku juga sering berlama-lama menatapnya ketika pikiran sedang kalut.
“Eh, iya bu.”
Pelan-pelan aku dan Adeng meninggalkan Polindes. Melewati perkebunan kopi hingga sampai pada jalan di tepian danau. Terlihat air danau memantulkan warna langit, biru dengan hiasan beberapa getek yang digunakan untuk mencari ikan. Sekeliling danau sebagian tanah datar dengan hiasan rumput hijau, sebagian lain merupakan tebing vertikal, tegak menjulang. Beralih ke atas tebing dan dataran rumput, pohon-pohon tumbuh subur, berkawan dengan semak perdu yang tinggi. Tak jauh di atas danau mengalir sumber air yang sangat jernih, melewati batu-batu hitam yang menancap kokoh pada bumi. Jalan menuju danau hanya berupa jalan setapak, meliuk diantara hijaunya rumput dan semak. Terlihat begitu indah dari atas, tempatku menoleh. Sekedar melepaskan penat.
Pikiranku melayang ke satu tahun lalu. Pertama kali menginjakkan kaki di desa ini sebagai bidan desa. Mulanya mama dan papa kahawatir aku berada disini, bagaimana tidak, Ranuagung jauh dari keramaian, 40 km arah tenggara dari Kota Probolinggo. Sebuah desa kecil yang berada di jajaran pegunungan lamongan, bertetangga dengan Semeru. Desa yang masih alami, belum tersentuh oleh pembangunan. Jalan utama desa berupa jalan berbatu, listrik belum ada, air juga sulit di dapat. Masyarakat mengandalkan air hujan, sumur dan sumber yang berada tak jauh dari danau. Jauh berbeda dengan kehidupanku di Kota Blitar.
Polindes yang disediakan untukku pun hanya berupa bangunan kayu dengan alas tanah. Terdiri dari dua kamar. Satu kamar praktek dan satu kamar buatku. Ruang tamu kecil yang langsung berhadapan dengan dapur. Dibelakang dapur terdapat ruangan berdinding gedhek tanpa atap khusus untuk mandi. Sedangkan untuk buang air besar berada agak jauh dibelakang dapur, di tengah-tengah perkebunan kopi. Terbuat dari lubang sedalam 3 meter dan ditutupi kayu di atasnya, diberi penghalang dari kayu dan bambu agar tak terlihat jika buang air besar.
Namun disini aku mendapat ketenangan. Suasana pegunungan yang indah dan masyarakat yang masih kental dengan nilai-nilai tradisional membuatku senang menjadi bagian dari Ranuagung. Desa yang tak akan pernah ku lupakan.
“Sudah sampai bu” Adeng mengejutkan lamunanku.
Ternyata aku sudah di depan Puskesmas. Aku segera turun dari motor dan menyerahkan selembar 5 ribuan. Adeng lalu pamit menuju pangkalannya. Aku melangkah memasuki puskesmas.
Jam 8 malam aku baru bisa bersantai. Dari siang pekerjaan menumpuk, dari laporan hingga pasien yang datang silih berganti. Aku melangkah menuju beranda Puskesmas, meregangkan kaki sambil menatap langit malam yang bertabur bintang.
“Gian, aku duluan.”
“Ya mbak” sahutku pada Mbak Rani, bidan desa Tancak yang hendak pulang.
Malam ini aku tak bisa kembali ke Ranuagung karena mendapat giliran jaga. Ingatanku kembali pada Ninin. Saat pertama kali menginjakkan kaki di Ranuagung Ninin masih kelas 2 SMP, setiap berangkat sekolah Ninin tak lupa mampir ke tempatku untuk menyapa atau berlama-lama mengamati peralatan medis di ruang praktek. Pernah ku tanyakan suatu hari kenapa dia senang berada di ruang praktek. Dia tersenyum dan bilang kalau setelah besar dia ingin sepertiku.
“Dulu Yu Sali waktu melahirkan Nana keluar darah banyak, disini belum ada bidan. Waktu mau dibawa ke Rumah Sakit Yu Sali meninggal. Ninin kasihan lihat Yu Suli, sekarang Nana tak punya Ibu” cerita Ninin padaku.
Yu Sali adalah Saudara sepupu Ninin. Rumahnya bersebelahan. Nana akhirnya dirawat Mbak Sumi, sebagai adik angkat Ninin.
“Jadi karena itu Ninin ingin jadi bidan?”
“Ya, biar bisa bantu orang melahirkan, dan membantu Bu Bidan” ujar Ninin sambil tertawa.
“Kalau gitu, Ninin harus rajin belajar dan rajin berdoa. Nanti Tuhan pasti mengabulkan” Aku tersenyum sambil mengelus rambut Ninin.
“Iya bu, Ninin mau rajin belajar. Sekarang, Ninin berangkat dulu” Ninin mencium tanganku.
“Assalamuaikum.”
“Waalaikum salam” Ku lambaikan tangan melepasnya ke sekolah
Aku tersenyum mengingatnya. Ah, Ninin seandainya kamu bisa melanjutkan sekolah, tentu kamu bisa menggantikan tugasku disini. Mengabdi pada masyarakatmu dan keluargamu. Udara dingin pegunungan mulai menusuk kulit. Aku merapatkan jaket dan bergegas masuk ke puskesmas.
Jam 06.00 pagi Adeng sudah menunggu di depan puskesmas. Aku segera berkemas untuk kembali ke Ranuagung, apalagi badanku sudah lelah dan rasa kantuk mulai terasa. Lima belas menit kemudian aku sudah berada di atas kasur. Melampiaskan waktu tidur yang tersita sejak kemarin. Baru sebentar aku terlelap, terdengar suara orang berteriak dan menggedor pintu depan. Dengan rasa kantuk yang masih bergelayut, aku bangun dan membuka pintu.
“Bu, tolong bu, lopi semalam melahirkan dibantu mbok Ginah, bayinya selamat tapi sampai sekarang Lopi keluar darah.” Kang Trimo terlihat pias didepanku.
Rasa kantukku langsung hilang, Lopi harus segera diselamatkan sebelum terlambat. Aku langsung mengambil peralatan medis dan naik ke boncengan Kang Trimo. Sesampai di rumah lopi, beberapa orang sudah berkumpul. Wajah-wajah mereka diselimuti kekhawatiran. Sekilas aku melihat Ninin diantara kerumunan orang Aku cepat-cepat masuk diikuti Kang Trimo.
“Mere..mere…bedeh Bu Bidan” Kang Trimo meminta jalan pada orang-orang yang berkumpul melihat Lopi.
Lopi terbaring lemah di dipan kayu. Wajahnya pucat dan kelelahan. Ibu lopi berada di sebelahnya, matanya bengkak karena menangis, mulutnya komat kamit berdoa sambil sesekali menghapus keringat di wajah lopi. Mbok Ginah memberikan tempat padaku untuk memeriksa lopi. Detak jantung dan nadinya lemah sedangkan darah masih terus mengalir.
“Anak saya gimana bu?” tanya ibu Lopi sesenggukan.
“Lopi harus dibawa ke rumah sakit” kataku tegas pada ibu Lopi dan Kang Trimo. “Kang Trimo cari mobil, Lopi harus dibawa secepatnya, agar bisa diselamatkan” perintahku pada Kang Trimo.
“Iya, bu” jawab Kang Trimo sambil bergegas keluar dari kerumunan orang.
“Kang!” aku mengejar Kang Trimo, Kang Trimo berhenti mendengar panggilanku. “Coba ke Kang Timin, tadi aku melihat mobilnya ndak keluar. Bisa kita pinjam buat bawa Lopi ke Rumah Sakit.”
Belum lagi Kang Trimo beranjak pergi, ibu Lopi berteriak memanggil-manggil Kang Trimo dari dalam. Kang Trimo langsung menerobos masuk, aku mengikuti dari belakang.
Terlihat ibu lopi merangkul Lopi sambil menangis. Mbok Ginah merangkul ibu Lopi, memberiku kesempatan buat memeriksa. Segera ku periksa detak jantung dan nadinya. Berkali-kali kuulangi tapi hasilnya tetap sama. Jantungnya sudah tak berdetak. Tak sanggup aku mengatakan pada ibu Lopi yang meraung di sebelahku. Kang trimo memandangku harap, aku menggeleng lemah. Kang Trimo langsung memeluk Lopi dan menangis memanggil-manggil namanya. Tak kuasa kuasa ditinggal istri tercinta. Ibu Lopi pun tak sadarkan diri. Orang-orang membopongnya ke kursi. Mbok Ginah mengelus-ngelus kepala Kang Trimo memberikan kekuatan. Aku beringsut menjauh dari Lopi, menahan airmata yang akan membanjir. Orang orang semakin ramai berdatangan. Tanpa sadar tanganku digenggam seseorang. Aku menoleh.
“Ninin…” ucapku lirih.
“Ibu…” Ninin menghambur ke pelukanku, “Ninin takut” suaranya terdengar lemah disela-sela tangisnya.
Ku rengkuh dia, berdoa semoga Ninin nanti tak bernasib sama dengan Lopi.









Keterangan :
Manungso : Manusia
Tresno : Cinta
Tak sarah, Bu Bidan : Tidak parah, Bu Bidan
Kaso’on : Terima kasih
Getek : Bambu yang diikat sejajar digunakan sebagai perahu
untuk mencari ikan
Gedhek : Anyaman dinding dari bambu
Mere..mere…bedeh Bu Bidan: Minggir..minggir..ada Bu Bidan


Artikel Terkait
123456789101112131415