Custom Search

2015-09-22

TULISAN PERTAMA DI RADAR BROMO

Bulan lalu, tepatnya Minggu tanggal 09 Agustus 2015, tulisan saya terpampang di kolom puisi Radar Bromo. Rasanya... sueneng puol. Hehehe. Maklum saja, beberapa kali mengirim tulisan ke media, baru satu itu yang bisa nongol. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana senangnya hati ini.

Saya mengirim lima judul puisi pada hari senin, minggu sebelumnya. Setelah itu, saya kembali mengirim empat judul puisi pada hari kamis. Tidak disangka, satu minggu kemudian empat judul puisi yang dikirim pada tahap pertama bisa duduk manis di halaman kolom puisi.


Sebenarnya saya sangat yakin kalau puisi saya dapat dimuat dengan segera. Kenapa? Sebab minggu sebelumnya, kolom puisi di Radar Bromo kosong. Nah, bisa jadi kekosongan itu karena tidak ada yang mengirim puisi. Ini saya simpulkan setelah beberapa kali menganalisis kolom puisi hari minggu di Radar Bromo. Pemikiran ini membuat saya memutuskan mengirim puisi pertama pada hari senin. Kenapa hari senin? Alasannya, hari senin adalah awal pekan. Kemungkinan untuk dibaca dan dimuat memiliki peluang yang lebih besar dibandingkan mengirim pada hari jumat atau sabtu.

Pengiriman kedua, saya layangkan beberapa hari setelahnya. Pengiriman kedua, ketiga, dan seterusnya penting dilakukan untuk menjaga komitmen bahwa kita benar-benar menginginkan tulisan dimuat. Selain itu, untuk menunjukkan bahwa kita tidak putus asa jika tulisan belum dimuat, dan mau terus berusaha untuk menulis.

Ngomong-ngomong tentang komitmen, bulan ini saya belum mengirim tulisan ke media. Padahal niat awalnya, setiap bulan akan mengirim tulisan untuk dimuat di media. Semoga beberapa hari ke depan, saya dapat segera menunaikan niat tersebut. Aamiin.

Berikut puisi-puisi yang nongkrong cantik di kolom puisi Radar Bromo pada hari minggu, 09 Agustus 2015.



KANTONG PLASTIK

Sudah berulang aku katakan, ini bukan tempatku!
Tanah hitam di pojok kota, dimana pusat pemerintahan
Raja cacing dan presiden lalat berada

Aku hanya benalu bagi mereka
Enggan dilahap hingga berkali-kali tahta berganti rupa

Beban semakin berat
Cahaya pergi berganti gelap

Aku tertimbun dalam keacuhan
Kepala-kepala tanpa telinga

Oh! Sungguh malang menahan derita berulang masa
Untuk sebuah kematian
Yang kau buat sengsara di bangsal TPA


Sukapura, 2015


DAUN-DAUN KERING

Masa senja kami adalah
Saat tubuh melayang menuju sauh
Dermaga yang engkau sebut dengan tanah

Menjejak bersama angin yang terkadang
Membiarkan urat nadi menggeram pada ketinggian

Kepada tanah kami berpesan
Beri ruang tamu-tamu pemakan
Untuk mengembalikan kami pada sang akar
Dimana kami bergelung manja hingga masa tunas datang,
dan usia kembali dimulai


Sukapura, 2015


MERUJUK KENANGAN

Ada wajahmu. Tersenyum manis. Menempel
Di kulit pipiku. Malam ini

Sebatang mawar merah. Tergeletak
Cantik. Di atas ranjangku. Malam ini

Seekor cicak tiba-tiba berada di atas kepalaku
Malam ini. Mengusir wajahmu dalam sekuntum mawar

Menyisakan detak jantung yang memburu detik jarum jam
dari kumpulan kenangan di ruang lalu. Malam ini


Sukapura, 2015


WAJAH

Kau yang bersembunyi dibalik mataku. Pergilah
Diam-diam lewat teralis malam
Tepat ketika bulan bercumbu dengan awan
Pelan-pelan. Jangan sampai kelopakku melongok
Mencari telinga untuk mengejar
Suara langkah kakimu yang menjejak angin. Pergilah
Kau!



Sukapura, 2015


Berniat mengirimkan tulisan di Radar Bromo? Langsung saja tulis email dan kirim ke ruangpublik_radarbromo@yahoo.com. Radar bromo minggu menyediakan kolom cerpen, puisi, dan opini dengan panjang maksimal tulisan 1000 kata. Jangan lupa sertakan foto diri, alamat lengkap, nomor telepon, nomor rekening, dan nama bank rekeningnya.
Artikel Terkait
123456789101112131415