Custom Search

2013-12-30

TERNYATA SUAMIKU...


Ruang praktek dokter kandungan:
“Suami ibu menunggu diluar?” tanya dokter seraya memandangi kertas hasil pemeriksaan.
“Saya sendiri, dok. Suami masih dikantor.”
“Ya. Ya. Hasil pemeriksaannya ini....bla..bla..bla..” Aku mendengarkan keterangan dokter sambil melirik pasien sebelah yang sedang bercengkrama dengan suaminya.
Toko perlengkapan bayi:
Aku asyik memilih beberapa pakaian bayi. Seorang pelayan menghampiriku.
“Ini baru datang kemarin bu. Model baru,” tunjuknya pada deretan pakaian yang terdisplay di rak paling atas.
Aku mengikuti sarannya. Mengambil pakaian di rak paling atas. Modelnya sederhana, tapi lucu dengan gambar-gambar kartun dibagian depan.
“Ibu kok sendiri saja. Bapaknya ndak ikut?”
“Bapaknya masih kerja, mbak.” Aku tersenyum dan menyerahkan dua setel pakaian bayi untuk dibawa ke kasir.
Toko pakaian wanita:
Aku berdiri di deretan baju khusus ibu hamil.
“Ini bagus nggak, mbak?” tanyaku pada pelayan yang berdiri mengamati pengunjung toko. Tepat disebelah kanan deretan baju khusus ibu hamil.
“Bagus. Cocok dengan ibu.”
“Dibandingkan dengan baju ini, lebih bagus mana?” Aku menunjukkan baju yang lain.
“Mmm... lebih cocok yang ini, bu.” Pelayan itu menunjuk baju pertama. Aku mengambil kedua baju dikedua tangan. Membandingkan dengan teliti. Walaupun akhirnya tetap bingung akan memilih yang mana. Dua-duanya membuatku tertarik. Tapi aku harus memilih salah satu. Budgetnya nggak cukup sih. Hehehe.
“Coba ibu datang sama suami, mungkin bisa lebih mudah memilih,” kata pelayan tersenyum. Aku ikut tersenyum.
“Suami saya sedang bekerja mbak.”
Warung Gudeg Langganan:
Aku memilih duduk dikursi pojok. Dekat jendela. Seorang pelayan datang menghampiri.
“Mau langsung pesan atau masih menunggu bapak, bu?” tanya pelayan ramah.
“Langsung pesan, mbak. Bapak masih dikantor.”
“Oh, Maaf.” Pelayan menyerahkan daftar menu padaku. “Biasanya ibu hamil jarang jalan sendiri,” lanjutnya kemudian sambil tersenyum. Aku menoleh dan membalas senyumannya.

Ayaaaaaaah!!! Ingin aku berteriak sekeras mungkin memanggil suami. Benar-benar deh hari ini bikin bete. Empat orang ditempat berbeda menanyakan dimana suamiku. Merasa heran. Aku berjalan sendiri dengan tubuh seperti balon.
Aku memang tidak seperti istri-istri yang lain. Kemana-mana bergandengan tangan dengan suami. Sedangkan aku? Lebih sering sendiri. Lha, mau bagaimana lagi. Suamiku punya pekerjaan yang bertumpuk dari pagi hingga sore. Bahkan mungkin mengalahkan ketingggian gunung Merapi. Hehehe.
Setiap bulan suamiku juga tidak pernah absen keluar kota. Dari kota di ujung barat Indonesia hingga ujung timur. Semuanya pernah dikunjungi. Bahkan hidangan oleh-oleh khas bermacam-macam daerah hampir selalu ada di meja tamu rumah kami. Maklum sebelum hidangan tersebut habis, suamiku sudah berangkat lagi ke kota yang lain. Benar-benar seorang yang sibuk.
Kadang sempat juga kesal dengan kesibukaannya. Dengan atasannya. Dengan teman-temannya. Lho? kok jadi kemana-mana ya. Hehehe. Alasannya suamiku adalah orang pertama yang sering diminta bantuan oleh semua teman dan atasan dikantornya. Membantu melobi, membantu mengerjakan tugas, bahkan membantu membuat laporan yang harus dikerjakan diluar kota. Anehnya, suamiku merasa senang-senang saja diminta bantuan. Sebal banget. Sekali-kali menolak kan bisa tho? Mereka juga jarang bantu pekerjaan ayah. Protesku pada suami. Suamiku hanya tersenyum. Lalu berkata pelan. Tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah. Aku hanya bisa berwajah manyun.
Itulah suamiku. Ringan tangan. Bukan untuk hal buruk lho. Jadi kalau nanti dijalan melihat ada wanita dengan perut balon hanya berjalan sendirian, nggak usah heran. Bisa jadi itu aku. Tolong jangan ditanya ya. Dimana suami ibu. Karena bisa bikin aku menjadi super woman, trus menjotos wajah si penanya. Hehehe. Becanda ding!
Hari sudah menjelang sore. Aku berangkat ke Semarang. Kota tempat aku belajar. Walaupun perutku seperti balon, tapi aku tidak pernah putus semangat untuk belajar lagi. Kata-kata yang aku ingat adalah belajarlah sampai ke liang lahat. Jadi, tidak ada larangan bagi orang yang sudah tua untuk belajar lagi. Ups. Kok jadi mengaku ya kalau aku sudah tua. Hihihi.
Jam 09.00 malam. Aku sampai dikos. Lalu tidak sengaja melihat kalender. Lho? besok hari ulang tahunku ternyata. Yah, sayangnya aku sedang sendiri. Tidak bersama keluarga. Aku pandangi layar handphone ditangan. Suami dan dua orang anakku sedang tersenyum ceria disana. Eh, jadi buka kartu lagi deh. Kalau ternyata balonku kali ini bukan kali pertama. Hehehe.
Capek dalam perjalanan, membuatku tertidur sebelum jam 12 malam. Keesokan paginya, aku segera membuka handphone. Semangatku langsung meluncur turun ke dasar jurang. Kok nggak ada ucapan dari suami ya? Apa suamiku lupa kalau hari ini ulang tahunku? Aku menarik napas panjang. Kecewa.
Pukul 07.00 wib. Tok. Tok. Tok. Suara dari pintu kamar.
“Masuk saja,” ucapku bermalas-malasan sambil duduk menghadap notebook di meja belajar.
Happy birthday, mbak.” Seorang adik kosku membuka kamar sambil membawa tart ulang tahun berwarna coklat. “Ini titipan dari suami mbak. Kemarin kirim pesan untuk minta tolong membelikan coklat. Khusus buat hari ulang tahun mbak,” jelasnya menyodorkan tart dihadapanku.
Aku melongo. Suamiku ternyata tidak lupa. Ayaaaaaaah!!! I Love you. Ingin aku berteriak dan memeluk suamiku. Mengucapkan terima kasih. Sayangnya yang ada dihadapanku adalah seorang makhluk cantik. Bisa berabe kan kalau aku peluk trus teriak-teriak histeris seperti itu. Hihihi.
“Terima kasih ya, dik.” Aku menerima tart tersebut dan meletakkannya di atas meja belajar. Tiba-tiba, brrrtttt. Bunyi handphone bergetar di atas meja. Menandakan ada pesan masuk. Aku meraih handphone. Ternyata... ucapan selamat ulang tahun dari suami. Sekaligus permintaan maaf karena hanya bisa mengirimkan tart coklat. Mataku berkaca-kaca. Terharu.
Ayah memang bukan suami siaga. Tapi ayah selalu menyiagakan hati dan pikirannya untukku. Terima kasih ayah. Balasan sms buat suamiku.
Sebagai seorang istri, kita selalu berharap memiliki suami yang siaga. Kapan pun kita butuhkan. Tetapi sebenarnya yang paling penting adalah memiliki suami yang siap menjaga hati dan pikirannya untuk selalu mencintai dan mengasihi kita.
Jadi buat emak-emak yang sering kemana-mana hanya berteman sandal jepit. Nggak perlu galau bin iri dengan yang selalu berdua. Jadikanlah itu sebagai kenikmatan hidup karena terkadang ada orang yang menginginkan pergi kemana-mana sendiri. Eh ternyata malah nggak bisa. Masih enak kita kan? Hehehe.  
Artikel Terkait
123456789101112131415