Custom Search

2008-06-11

ANTOLOGI THO 7

Gerombolan malam terlalu kuat bagiku
Rembulan menyanyi dengan sendu
Bintang berdendang dengan merdu
Sepoi bayu menari dengan pandangan sayu
Maaf kemarin tak sempat membalas smsmu


Karang Penang, Sampang, 29 Mei 2008, 07:01
Panggil aku I’in

Terik matahari bermain di atas tanahku
Tapi sepi…
Awan tipis menggantung di langit biruku
Tapi sepi…
Dedaunan hijau berjoget di dahan pohonku
Tapi sepi!
Jarum jam meledekku
Menari berputar-putar dan berdendang
Bantal masih rebahan di ranjang tanpa berucap kata
Televisi masih membisu karena lapar


Karang Penang, Sampang, 29 Mei 2008, 15:03
Panggil aku I’in

Aku muda, masih muda
Aku tak pandai bernyanyi
Tapi aku tak mau berteman sepi
Melodi hilang di ruang ini
Waktu menari dengan sendiri
Berkata…untukmu
Tidak ada harmoni


Karang Penang, Sampang, 29 Mei 2008, 15:14
Panggil aku I’in

Aku tak ingin mati muda
Aku tak ingin mati tua
Aku tak ingin mati di pelukan seribu wanita
Aku tak ingin mati dikubur harta
Aku tak ingin mati sebagai penguasa dunia
Aku tak ingin mati tanpa dosa
Aku tak ingin mati sebagai manusia bermuka dua
Aku hanya ingin mati ketika paham dunia dan isinya


Karang Penang, Sampang, 29 Mei 2008, 15:26
Panggil aku I’in

Sedang kuhisap gulungan tembakau yang kusulut dengan api
Kujadikan senjata pembunuh sepi
Dia masih disini
Merayu
Membujukku menutup hati


Karang Penang, Sampang, 29 Mei 2008, 15:38
Panggil aku I’in


Kuceritakan para temanku kepadanya
Tentang mereka yang bermain di pertemuan lautan dan daratan
Semakin terbahak-bahak tawanya
Kemudian dia memanggil nostalgi
Disuguhkannya imaji
Akan semua luka hati
Aku hanya diam
Bukan seribu bahasa
Ataupun semua bahasa manusia
Hanya diam
Tanpa kata


Karang Penang, Sampang, 29 Mei 2008, 15:58
Panggil aku I’in

Sebentar lagi aku keluar dari ruang ini
Berdiri dan sedikit mengayuhkan kaki
Remaja di tanah ini sudah menungguku
Mengajakku berlari


Karang Penang, Sampang, 29 Mei 2008, 16:05
Panggil aku I’in

Tanah ini sudah agak berpaling dari matahari
Akupun juga tak lagi menghiraukan sepi
Waktu berbisik kepadaku untuk mengusirnya
Tak kuhiraukan
Karena sebentar lagi aku keluar dari ruang ini
Kupanggil yang lebih sepi untuk menemani sepi
Sedang aku
Berlari dan sedikit mengayuhkan kaki
Remaja ini sudah menungguku
Mengajakku sedikit berlari


Karang Penang, Sampang, 29 Mei 2008, 16:13
Panggil aku I’in

Darahku tiada lagi terhenti tersumbat sepi
Mataku tiada lagi pedih karena aura sepi
Kuduga dia bersembunyi
Namun tak kutemukan ketika kucari
Dia telah pergi karena terganti
Mungkin juga telah mati karena yang lebih sepi


Karang Penang, Sampang, 29 Mei 2008, 17:46
Panggil aku I’in


Mungkin mereka hidup demi sebuah pengakuan
Pengakuan akan keberadaan
Pengakuan akan segala kepunyaan
Sebagai empunya segala sesuatu
Sesuatu yang selalu menggoda untuk diburu
Seseorang dari mereka berkata hidup adalah perjuangan
Tanpa henti sampai nafas terhenti
Seseorang lagi berkata hidup adalah perjalanan
Perjalanan panjang dimana segala sesuatu tidak dapat dibeli dengan uang
Ada juga yang berkata segalanya membutuhkan uang
Beberapa pemikiran naïf diantara mereka mengatakan hidup untuk menunggu kematian


Karang Penang, Sampang, 29 Mei 2008, 18:07
Panggil aku I’in
Sayup kematian memanggil pilu
Pintumu masih terkunci
Matamu hanya memicing dan mengurai serapah
salamNya terus berketuk palu
pada pintumu
tapi tak ada jawaban
matamu tetap menutup diam
hingga tak sadar kau telah dibawa malaikatNya ke alam kematian

Karang Penang, 290508, 19:00
falkhi

Ketika mati telah dijemput kematian
Bayi takkan menangis di nafas pertamanya
Wanita mengacuhkan kehormatannya
Kejantanan layaknya sampah bagi pria
Raja fana menceraikan segala tahta dan wanita
Bumi memalingkan muka sepenuhnya dari bintang terdekat
Karena langit telah melepas hiasannya
Perdebatan panjang agama akan terbukti sia-sia
Kesalahan tidak bisa lagi berdiri di atas kekhilafan
Lagu tidak terdengar merdu
Hanya gaduh yang ricuh
Mereka yang tidur akan dibangunkan
Mereka yang terjaga akan tertidur dan bangun secepatnya
Dikumpulkan dan tampaklah rupa hati setiap manusia


Karang Penang, Sampang, 29 Mei 2008, 21:49
Panggil aku I’in


Mereka yang mati akan hidup untuk kedua kali
Kali ini bukan demi pencarian kebenaran
Karena tersadar ketiadaan yang selama ini berselimut keadaaan
Jalan panjang ternyata hanya bayangan
Tampak panjang karena sudut panjang
Hamba nafsu hanya bisa tertunduk dan cemburu
Ketika penunduk nafsu diselamatkan Sang Maha Guru


Karang Penang, Sampang, 29 Mei 2008, 23:19
Panggil aku I’in
Artikel Terkait
123456789101112131415