Custom Search

2019-06-30

MENGAJAK SISWA MENULIS BUKU FISIKA

Hai blog falkhi? Semoga belum berdebu ya, hehehe.
Menulis itu adalah candu. Jika terbiasa, maka tiada hari yang bisa kita nikmati selain meluangkan waktu untuk menulis. Namun bagi yang belum terbiasa bahkan mungkin tidak suka, kegiatan menulis bisa seperti kubangan lumpur yang semakin lama akan membuat kita semakin tenggelam dalam depresi. Jangankan satu halaman, menulis satu paragraf saja bisa bikin senewen setengah mati. Lalu, bagaimana caranya agar seorang guru bisa mengajak siswa menulis sebuah buku?

mengajak siswa menulis buku fisika
Penampakan buku


Sejak beberapa tahun lalu, saya terkadang meminta siswa untuk menulis sebuah cerita. Padahal saya tidak mengajar ilmu mengarang lho, hehehe. Biasanya soal cerita dibuat sebagai bagian dari ujian, bisa juga sebagai hukuman. Kok hukuman?

Namanya siswa, pasti ada alpanya dengan sebuah tugas. Mungkin sama juga dengan kita saat masih duduk di bangku sekolah. Jika hanya satu dua orang yang tidak mengerjakan, bisa dianggap sebagai anomali dalam sebuah kelas. Tetapi jika yang tidak mengerjakan itu hampir separuh atau bahkan seluruh siswa dalam satu kelas. Wow, aliran darah dari kaki langsung ngebut mengalir ke otak. Apalagi dengan alasan, lupa. Hiyaaa... ubun-ubun rasanya perlu masuk dalam freezer. Biar segera adem alias emosinya membeku, hehehe.

Jika demikian, saya akan meminta siswa menulis alasan tidak mengerjakan tugas dalam bentuk narasi di lembaran kertas atau buku. Minimal dua sampai empat halaman. Mengapa saya memilih hukuman dalam bentuk menulis? Pertama, untuk mendinginkan kepala karena emosi. Saat menulis, kelas akan sepi tanpa keributan dan saya bisa lebih memiliki waktu untuk menenangkan diri. Kedua, saya perlu benar-benar tahu alasan mengapa bisa lupa mengerjakan tugas. Ketiga, menulis akan terasa lebih gampang daripada mengerjakan soal-soal fisika yang nantinya mungkin akan membuat saya lebih emosi karena jawaban yang salah sasaran, hahaha.

Nah, gara-gara sering memberi hukuman dalam bentuk menulis, saya memiliki banyak lembar kertas hasil tulisan siswa. Ada yang isinya lucu, menegangkan, hingga ucapan maaf berkali-kali. Entah karena memnag minta maaf atau untuk menghabiskan lembar-lembar kertas, hehehe.

Kertas-kertas tersebut memberikan saya ide untuk mengumpulkan tulisan mereka dalam bentuk sebuah buku. Ide itu mengendap beberapa lama, bahkan saya sampai lupa jika memiliki ide membuat buku bersama siswa.

Kita sering mendengar bahwa niat baik itu pasti akan dimudahkan. Itulah kemudian yang terjadi. Suatu hari saya dihubungi seorang teman penulis yang bukunya pernah saya beli. Katanya, saya memiliki kesempatan gratis biaya proses penerbitan untuk menerbitkan buku di penerbit buku tersebut. Penerbit yang dimaksud adalah penerbit indie. Untuk proses penerbitan buku secara indie ada dua biaya yang harus dibayar, yaitu biaya proses penerbitan dan biaya pencetakan buku.

Tawaran teman tersebut membuat saya ingat ide untuk menerbitkan buku bersama siswa. Kebetulan saat itu berdekatan dengan pelaksanaan ujian akhir. Waktu ujian yang sempit membuat jadwal ujian praktik dimampatkan. Tidak hanya itu, ruang laboratorium fisika yang digunakan untuk praktik tidak bisa digunakan karena dialihkan sebagai ruang pelaksanaan UNBK.

Hal itu membuat saya berpikir cara agar bisa menyelenggarakan ujian praktik fisika dengan waktu dan tempat yang terbatas. Jawabannya adalah melaksanakan praktik di luar jam belajar atau di luar sekolah. Sangat memungkinkan karena siswa bisa menggunakan hari libur. Namun, bagaimana penilaian yang harus saya lakukan berkenaan dengan praktik yang dilakukan siswa.

Sebelumnya, saya pernah meminta mereka praktik di rumah dan melaporkan dalam bentuk video dan upload ke youtube. Saya ingin mengulangi metode tersebut. Namun, salah satu pelajaran IPA yang lain ternyata menggunakan laporan berbasis video untuk mempersingkat waktu praktik di sekolah. Wah, gak seru dong kalau dua mata pelajaran IPA menggunakan metode yang sama.

Saya akhirnya teringat tawaran penerbitan buku. Mungkin ini adalah saatnya saya berkolaborasi dengan siswa untuk menulis. Saya yakin mereka akan mengerjakan dengan baik karena berkaitan dengan nilai ujian akhir yang menentukan kelulusan. Pasti semuanya ingin lulus kan? Mungkin sedikit curang ini ya, hehehe.

Untuk kepentingan membuat buku, saya meminta siswa melakukan praktikum secara individu. Dengan demikian, laporan juga dibuat secara individu. Agar biaya yang dibutuhkan minimal, saya membebaskan materi fisika yang akan dipraktikkan. Paling penting adalah materi yang pernah diajarkan di bangku SMA. Saya tidak menginformasikan bahwa laporan praktikumnya akan dibuat buku. Agar nantinya bisa menjadi kejutan saat kelulusan.

mengajak siswa menulis buku fisika
Salah satu tulisan siswa

Buku yang kami buat adalah buku kolaborasi. Artinya saya juga harus menulis. Saya berpikir jika saya juga menulis dalam bentuk seperti yang dibuat siswa kan gak seru. Apalagi buku ini saya niatkan bukan hanya sebagai buku pembelajaran, melainkan juga sebagai kenang-kenangan. Sebab di sekolah belum memiliki kewajiban untuk membuat buku kenangan.

Ketika berbincang dengan teman yang menawari penerbitan buku, saya mendapatkan ide untuk menulis quote disertai foto-foto mereka. Anggap sebagai pesan juga kenangan. Mungkin mirip konsep buku NKCTHI. Bedanya quote dan gambarnya lebih kepada pesan khusus kepada siswa.  

mengajak siswa menulis buku fisika
Sok-sokan bikin quote, hehehe


Saya mulai mencari foto-foto. Ternyata, foto yang saya punya banyak yang tidak sesuai ekspektasi. Ada yang tidak terlihat wajah, blur atau yang muncul hanya anak-anak itu saja. Duh, jadi bingung lagi.

Akhirnya ide terakhir adalah membuat quote untuk setiap siswa serta membuat prolog dan epilog dalam bentuk foto dan quote. Saya berpikir ini ide gampang. Tetapi ternyata susah.

Quote harus disesuaikan dengan karakter dan pesan yang akan disampaikan kepada setiap siswa. Wow, saya harus melakukan editing berhari-hari hanya demi sebuah quote. Hingga batas deadline yang diberikan kepada saya lewat satu bulan. Ya, saya menyetorkan naskah terlambat satu bulan dari jadwal yang ditentukan. Beruntung buku ini diterbitkan secara indie dan punya teman sendiri, jika tidak mungkin buku saya sudah ditendang dari penerbitan, hahaha.

Dalam jangka waktu kurang lebih satu bulan, buku berjudul Belajar Fisika ala Siswa Sukapura telah sampai di rumah. Rasanya senang berlipat-lipat melihat kolaborasi tulisan saya dan siswa sudah berbentuk buku. Sayang, karena buku ini akan dijadikan kejutan saya belum berani update, bikin story atau menulis di blog. Padahal tangan sudah tak sabar untuk tak tik tuk di atas keyboard, * narsis banget yah, hehehe.

Sabtu tanggal 22 Juni 2019. Siswa-siswa kelas XII resmi dikembalikan ke orang tua dalam bentuk wisuda. Kepada anak-anak IPA saya berikan buku hasil tulisan mereka sebagai hadiah dan melakukan foto bersama.

mengajak siswa menulis buku fisika
Foto bersama para penulis buku

Sore hingga malam hari, saya banyak melihat story ucapan terima kasih di WhatsApp. Mayoritas menampilkan quote yang saya selipkan di bawah setiap nama. Rasanya, legaaa banget sudah memberikan kenang-kenangan hasil karya mereka sendiri.

mengajak siswa menulis buku fisika
Bikin meleleh ucapannya, hehehe

Itulah kisah bagaimana mengajak siswa menulis buku fisika. Mungkin sulit mengajak siswa menulis karena belum terbiasa, tetapi bukan hal yang tidak mungkin. Biarkan saja mereka berproses. Yuk, bikin karya yang menyenangkan buat orang-orang di sekitar kita.   
Artikel Terkait
123456789101112131415

28 comments:

  1. Bu guru yang inspiratif. Siswanya akan sulit melupakan kreativitas bu Gurunya.
    Saya bisa pesan bukunya mba ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaamiiin... Semoga benar. Hehehe. Saya kirimkan bang, japri alamat via email ya... Terima kasih 😀😀

      Delete
    2. Lama tidak bersua ya, kirain kemana gitu

      Delete
    3. Sedang bertapa di lautan pasir Bromo yang sedang membeku, hahaha

      Delete
    4. maaf lom respon emailnya. Sempat baca trs lupa mau reply hehehe

      Delete
  2. Saya juga pernah dibeginikan oleh dosen. Waktu itu mata kuliahnya tentang sejarah peradaban Islam sih. Kami disuruh cari biografi tokoh ulama tertentu. Di akhri semester, jadi buku. Dan ada nama saya! Rasanya senang sekali meski 'buku bareng-bareng'.

    Ka Falkhi keren banget bisa jadi karya begitu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih 😍😍.
      Waaah, Dosennya keren itu. Pasti dosennya sulit dilupakan ya mbak. Hehe.
      Saya dulu hanya pernah diminta menulis artikel saat ujian, walaupun tidak menjadi buku, artikelnya sempat saya kirimkan ke majalah kampus. Rasanya kayak jadi orang keren karena sudah berhasil kirim artikel. Gara-gara itu saya selalu mengingat dosen tersebut.

      Delete
  3. Keren banget ini idenya bu guru, bisa jadi bekal buat siswa-siswinya kelak... Atau bisa-bisa jadi blogger juga nih sepertinya bu gurunya hehee... Sukses selalu ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih... Aamiin, semoga bisa jadi kenang-kenangan, hehehe.
      Salam sukses juga

      Delete
  4. Saya ikut senang.
    Tapi ya itu rata rata percetakan inde, biaya percetakan ditanggung penulis.
    Tapi ya gimana lagi..kadang saya hanya prihatin.
    Bolehlah bukunya dilempar kemari ,biar rak buku saya tambah banyak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih keikutsertaan nya dalam menyenangkan saya, eh, 😂😂😂.
      Masih mau belajar menulis biar bisa lolos di penerbit mayor, hehehe.
      UPS, 😂😂😂. Saya lihat dulu, kira-kira alamatnya masih saya simpan atau gak, 😀

      Delete
  5. Masya Allah, inspiratif sekali. Senangnya mereka dapat kenang-kenangan berupa buku yang ditulis oleh tangan sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya biar sampai tua gak pernah lupa pengalaman masa SMA 😀😂😂

      Delete
  6. Kenang-kenangan indah yang tak bakalan terlupakan. Kalau ibu gurunya mbak Falkhi, saya mau dong kembali jadi anak SMA lagi hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga benar mas Aris. Hehehe. Wah, jangan dong ntar jadi murid paling tua di SMA 😂😂😂

      Delete
  7. perlu belajar nih mbak, cara memotivasi siswa untuk menulis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo belajar bareng, biar bisa jadi motivator buat siswa, hehehe

      Delete
  8. hehe anyway bapak saya juga salah satu pembuat buku fisika untuk grade senior high school kak :D kerenn ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, salam kenal buat bapak. Jadi ingin belajar buat nulis buku sama masternya, boleh gak ya, hehehe

      Delete
  9. Inspiratif. Secara tidak sadar mendidik anak untuk membiasakan menulis sejak dini dan menanamkan kepada mereka bahwa menulis tidak harus ilmu/teori yang serius2, tapi justru cari terlebih dulu yang relate dengan kehidupan sehari-hari, misal kehidupan di sekolah, untuk kemudian dikaitkan dengan ilmu/teori yang ada, jadi lebih menarik & melatih kreativitas siswa. Oh ya, saya follower baru blog ini. Thx

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul. Teori terkadang bikin kita gak jadi menulis karena merasa selalu salah. Padahal harusnya menulis saja, salah itu bagian belakang. Apa kata pak editor, hehehe .
      Wah terima kasih sudah menjadi follower blog ini, 😊😊

      Delete
  10. Mantap nih kak.. emang harus sih yaaa membiasakan dari dini suka fisika.. karena emang menyenangkan.. like this kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, betul. Karena banyak hal seru. Biasanya yang sulit ketika masuk ke ilmu hitung 😂😂😂

      Delete
  11. wowww, ternyata Mbak ini adalah Guru yang cerdas dan Pintar,karena pandai berbuat sesuatu yg kreatif.Buktinya sudah lahir " Buku Belajar Fisika ".

    Kayaknya patut Si Embak ini saya juluki " Guru Teladan Bagi Murid Di Zaman Now ".👍👍👍.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih kang Nata. Aamiin, semoga doanya agar pintar dan cerdas dikabulkan, 😀😀😀.

      Sekarang saya masih jadi guru telatan kang, belum teladan 😂

      Delete
  12. good post 😊 would you like to follow each other? if the answer is yes, please follow me on my blog & i'll follow you back. https://camdandusler.blogspot.com

    ReplyDelete
  13. fisika memang pelajaran tersulit buat hamba
    buktinya nilai ujian akhir hanya dapat 7
    sedangkan mat malah 9

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungannya, :-)

~~falkhi~~