Custom Search

2019-02-23

PERJUANGAN MENDAKI GUNUNG BATOK

Pernah berkunjung ke gunung Bromo? Jika iya, pasti familiar dong dengan gunung Batok. Gunung yang menjulang hingga 2440 mdpl ini sering menjadi background foto pengunjung Bromo. Bentuk gunung Batok yang menyerupai tempurung terbalik dengan hiasan garis-garis beralur dari dasar hingga puncak membuat pesona keindahannya tak kalah dengan gunung Bromo. Beberapa pengunjung Bromo pun rela berjuang untuk mencapai puncak gunung Batok. Salah satunya adalah saya sendiri, hehehe.

mendaki gunung batok


Sebenarnya, sejak lama saya penasaran dengan gunung Batok. Gunung yang dalam pandangan saya, bentuknya mirip kue apem. Menjulang setengah lingkaran dengan puncak mendatar dan badannya dihiasi oleh garis-garis lengkung yang timbul tenggelam. Saya penasaran, ada apakah gerangan di puncak Batok? Mengingat puncak batok yang datar dan permukaan badan gunung hanya berhias ilalang.

Untunglah penasaran terhadap Batok tidak berlangsung lama. Bulan lalu, saya berkesempatan untuk mencicipi puncaknya. Kesempatan itu datang ketika pangkalan pramuka di sekolah mengadakan trip ke gunung batok dalam rangka pelantikan Laksana. Tentu, saya tak menyia-nyiakan kesempatan ini dan langsung mendaftar ikut serta dalam pendakian ke puncak gunung Batok.

Pendakian gunung Batok diikuti oleh 20 orang siswa kelas XII yang akan dilantik menjadi pramuka Laksana dan 6 pendamping. Tidak ada pendaki profesional dalam rombongan kami, hanya beberapa guru dan siswa yang terbiasa melakukan perjalanan jauh. Karena itu, saya merasa aman sebab semuanya adalah pendaki pemula. Saya khawatir jika rombongan yang diikuti adalah pendaki profesional sebab saya belum pernah mendaki gunung, hehehe.

mendaki gunung batok
Salam dari puncak Batok
Perjalanan ke gunung batok di mulai dari jumat sore. Pos pertama adalah sekolah, pos kedua di SDN Ngadisari 2 dan pos ketiga puncak Batok. Perjalanan dari pos pertama menuju pos dua terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok pejalan kaki dan kelompok kedua adalah kelompok pengendara alias menggunakan sepeda motor ke pos SDN Ngadisari 2. Coba tebak, saya ikut rombongan mana? Hahaha.

Pagi keesokan harinya, kami mulai bersiap-siap untuk menuju puncak gunung batok. Setelah sarapan dan mengucapkan terima kasih karena telah diberikan tumpangan menginap gratis di SDN 2 Ngadisari, kami berangkat menuju gunung Batok. Sebelum mendaki, kami mampir di kantor PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) Cemoro Lawang untuk berpamitan. Kami diterima dengan baik oleh petugas dan diberikan rambu-rambu serta petunjuk untuk mendaki gunung Batok. Tidak hanya itu, petugas mengijinkan kami untuk menitipkan kendaraan bermotor dan menggunakan gedung museum untuk istirahat ketika kembali dari gunung Batok.

Tepat pukul 07.15 WIB kami memulai perjalanan ke puncak gunung Batok dengan berjalan kaki dari gedung PVMBG Cemoro Lawang. Jalanan aspal yang menurun dari pos Cemoro Lawang menuju lautan pasir terlihat sepi. Maklum, waktu masih terlalu pagi bagi para pengunjung untuk meramaikan wisata gunung Bromo.

Permukaan pasir di Kaldera Bromo mengeras karena hujan yang terus-menerus. Kami jadi lebih mudah berjalan karena tidak terperosok ke dalam kubangan pasir. Beberapa kali kami berpapasan dengan jip dan ojeg para pengunjung Bromo. Agar debu dari kendaraan tidak mengganggu, kami memilih berjalan dengan jalur alternatif melalui permukaan pasir yang ditumbuhi ilalang. Biasanya jalur alternatif membuat perjalanan lebih cepat, tapi berhubung saya dan para pendamping yang lain sudah bukan remaja lagi membuat perjalanan tetap berlangsung lama. Bahkan beberapa kali kami harus memanggil para siswa agar tidak berjalan terlalu cepat dan meninggalkan para pendamping di belakang, hehehe.

Sekitar pukul 08.00 WIB kami tiba di ponten Bromo. Kami istirahat sejenak sebelum memulai perjalanan mendaki gunung Batok. Gunung Batok memiliki beberapa jalur trekking dan kami memilih jalur paling aman yang sering digunakan para pendaki. Jalur tersebut ditandai dengan gerumbulan pohon cemara di bagian kaki gunung Batok.

Jalur awal pendakian berupa tanah landai dengan setapak yang diapit ilalang tinggi. Setelah melewati pura, perjalanan mulai menanjak. Belum curam, mungkin kemiringan masih dikisaran 30 derajat. Kanan kiri setapak mulai dihiasi jurang berdebu yang terjal.

mendaki gunung batok
Awal pendakian

Ketika tiba di rimbunan pohon cemara, kami bergantian istirahat. Bergantian karena tempat istirahat yang digunakan hanya bisa dibuat duduk satu hingga dua orang. Setelah melewati rimbunan cemara, petualangan yang sebenarnya pun dimulai.

mendaki gunung batok
Ada cemara sebagai tanda jalur pendakian

Jalur pendakian berubah menjadi setapak terjal dengan bagian tengahnya berceruk. Seperti halnya gunung Bromo, tanah di gunung Batok kering berdebu. Membuat ceruk-ceruk yang dilewati menerbangkan debu jika dilewati. Jika tidak melewati ceruk, kami harus melewati pinggiran ceruk yang hanya cukup untuk menyanggah satu telapak kaki. Itu pun harus berhati-hati karena bisa saja tanah yang dipijak tidak kokoh dan menyebabkan kaki terperosok ke dalam jurang.

Jika dilihat dari dasar, punggung gunung Batok laksana dihiasi ulir yang timbul tenggelam. Tidak terlihat ada jalan setapak. Namun ternyata, jalur trekking pendakian berada di ulir yang timbul tersebut. Jadi sudah dapat dipastikan jika kanan kiri ulir yang timbul adalah jurang terjal.

Awalnya, saya mengira ada tanah-tanah landai untuk istirahat. Tapi ternyata perkiraan tersebut salah. Semakin ke atas, tanjakan semakin curam. Kemiringan tanah di atas 60 derajat. Artinya, tidak ada tempat yang layak untuk istirahat. Pfiuh!

mendaki gunung batok
Semangat!

Ngos-ngosan? Jangan ditanya. Saya selalu berhenti setelah berjalan 1 hingga 2 meter. Eh, bukan berjalan. Tapi mendaki. Beberapa tempat, memiliki bekas pijakan kaki yang tingginya di atas lutut. Membuat saya harus merangkak naik dengan berpegangan pada ilalang kering. Berpegangannya perlu hati-hati, sebab beberapa ilalang terlihat rapuh dan sangat mudah ditarik. Sangat berbahaya sebagai pegangan.

Usia yang tidak muda lagi, eh.. hehehe membuat saya memilih berjalan di paling akhir. Karena jika mengikuti kehendak para siswa, saya bisa pingsan di jalan. Sungguh! Jarak saya dan orang pertama rombongan sangat jauh. Tapi saya tak peduli. Tujuan saya adalah sampai di puncak, bahkan jika itu yang terakhir.

Beruntung, saya didampingi oleh salah satu alumni yang bertugas sebagai sapu ranjau. Dia tidak keberatan ketika saya bolak balik berhenti dan duduk ndoprok sambil mengistirahatkan kaki. Oh ya, biasanya kaki diistirahtakan dengan cara berselonjor. Tapi jangan harap bisa dilakukan di jalur trekking gunung Batok. Lagi-lagi tidak ada tempat landai. Jika ingin istirahat, lakukan dengan berdiri atau duduk dengan menjuntaikan kaki layaknya duduk di kursi. Tapi ingat, jika ingin istirahat lebih lama jangan berada di depan atau tengah rombongan. Sebab, jalur pendakian hanya bisa dilewati oleh satu orang. Jadi, jika kita istirahat, rombongan di belakang kita juga harus istirahat. Kecuali pendaki profesional yang bisa lewat jalur curam berdebu di samping setapak.

Saat di tengah perjalanan, saya hampir menyerah. Kaki berkali-kali mengirimkan sinyal merah, tanda dirinya tak kuat menopang tubuh. Namun, seruan dari arah puncak memberikan kekuatan. Seruan semangat dari para anggota pramuka agar para pendamping bisa tiba di puncak. Sebab, pendakian ini bukan hanya untuk melihat keindahan melainkan juga untuk pelantikan. Bukan hal yang lucu jika pelantikan batal hanya karena pendamping gagal mendaki ke tempat pelantikan, hehehe.

Saya kemudian memutuskan untuk terus mendaki. Pelan-pelan. Hingga akhirnya tidak terdengar lagi teriakan. Eh, kemana para siswa? Setelah memandang sekeliling ternyata saya sudah sampai di bibir puncak. Terlihat para siswa di ujung jauh, rupanya mereka langsung berkeliling puncak Batok. Saya? Jangan tanya. Langsung mencari tempat untuk beristirahat.

mendaki gunung batok
Sampai juga di puncak Batok

Saya memilih duduk di semak yang bergerumbul untuk melepaskan penat. Sebab tidak ada pohon sebagai tempat berteduh di puncak Batok. Permukaan tanahnya kering kerontang bahkan beberapa berlapis tebal sehingga terlihat dilapisi aspal. Duh, siapa juga yang mau mengaspal puncak batok, hahaha.

mendaki gunung batok
Istirahat dulu

mendaki gunung batok
Persiapan pelantikan

Puncak batok sangat lebar dengan permukaan gundul dan bergelombang. Terdapat ceruk yang cukup dalam di bagian tengah. Setelah melaksanakan prosesi pelantikan, kami melewati ceruk tersebut untuk bisa berada pada puncak Batok yang menghadap kawah Bromo. Bromo terlihat kecil jika dipandang dari puncak Batok. Bahkan tangga menjulang yang menuju kawah hanya tampak seperti hiasan garis-garis.

mendaki gunung batok
Menyeberang ke sisi sebelah, hehehe.

Sisi Batok yang menghadap kawah Bromo ini sangat cocok sebagai tempat selfie. Kita bisa bergaya di depan kawah yang mengepulkan asap dan deretan pegunungan Bromo sambil memegang kepingan plat penanda ketinggian puncak Batok. Ceklek! Foto yang indah pun terpampang di layar handphone.
  
mendaki gunung batok
Selfie dulu
Setelah puas bergaya di depan kamera, kami bergegas untuk segera turun melalui sisi Batok yang menghadap kawah Bromo. Kami pulang menggunakan jalur yang berbeda. Saya berharap jalur ini lebih mudah dibandingkan jalur yang digunakan saat mendaki.

mendaki gunung batok
Kawah Bromo dari puncak Batok

Ternyata, jalurnya lebih berbahaya. Ceruk-ceruk berdebu mewarnai sepanjang perjalanan. Berkali-kali saya harus berjalan dengan cara ngesot. Ya, demi keselamatan terpaksa harus ngesot. Sebab jalur yang curam dan berdebu tanpa ada pegangan bisa menyebabkan badan terjerumus jika tak berhati-hati.

Lagi-lagi saya memilih berada di paling akhir bersama petugas penyapu ranjau. Ini menguntungkan juga merugikan. Untung karena tidak harus bercepat-cepat untuk turun, sedangkan kerugiannya saya harus antri untuk turun dan ikhlas menerima kiriman debu dari rombongan yang berada di depan. Beruntung saya menggunakan masker, sebab beberapa siswa melaporkan wajah dan bibirnya perih akibat debu.  

mendaki gunung batok
Turun gunung

Jalur menurun yang curam membuat kaki harus sering mengerem agar badan tidak jatuh. Ingat, kanan kiri jurang berdebu. Jika sedikit saja tergelincir, maka habislah sudah badan ini dijadikan tumbal Batok. Akibat kerja rodi ini, kaki mendadak mati suri. Badan terasa melayang saat berada di jalur yang melandai. Bukan melayang diatas bumi, tapi melayang di atas kaki. Hehehe.

Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, kami tiba kembali di pinggir kaldera. Para siswa segera berlari ke area yang dilapisi rumput dan berbaring mengistirahatkan badan. Tak peduli, beberapa senti di dekatnya banyak bau tak sedap dari buangan para kuda, hahaha.

mendaki gunung batok
Lelaaaah...

Katanya, untuk pendaki profesional pendakian gunung Batok hanya membutuhkan waktu satu jam dengan perjalanan santai. Itu pendaki profesional ya, bukan pemula seperti kami. Saya sendiri membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam untuk sampai di puncak. Begitu pun waktu untuk turun dari puncak ke kaldera. Lebih lama tetapi hal yang paling penting adalah keselamatan.

Itulah perjalanan pendakian saya ke puncak batok. Betul-betul membutuhkan perjuangan mental tetapi terbayar dengan keindahan di puncak Batok. Kaldera pasir, ponten, kawah, dan pegunungan yang mengelilingi Batok begitu nyaman untuk dinikmati dari ketinggian. Warna coklat dan hijau berpadu dengan langit biru dan awan putih yang berarak tertiup angin. Betul-betul ciptaan Tuhan yang istimewa. Tertarik mendaki ke puncak Batok? Jangan lupa bawa masker ya.
Artikel Terkait
123456789101112131415

19 comments:

  1. Hebat sekali mbak Falkhi akhirnya sampai juga di puncak gunung Batok yg sebenarnya mirip apem ya,... 1.5 jam mendaki pasti capai sekali tu, blum terkena debu dan panas sinar matahari,...saya blum pernah ksana mbak jadi pengin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lumayan bikin badan bisa turun 1 kg mas Aris, hehehe
      Ayo mas, maen ke Bromo ntar mampir di Batok. Keten lho pemandangan nya...

      Delete
  2. Wahhh rencananya tahun ini ak bakal mendaki bromo nih, liat cerita di blog ini jadi pengen daki juga, apalagi foto fotonya di bromo jadi bikin ngiler wuehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hayoo segera ke Bromo, hehehe. Ada yang baru di Bromo namanya Seruni point, gak kalah cantik dengan Penanjakan.
      Mampir kalau nanti jadi ke Bromo..

      Delete
  3. wah kak falkhi keren banget bisa mendaki gunung batok.. kalau saya udah ogah2an tu kak naik tangga aja uda males kwkwkkww

    ReplyDelete
    Replies
    1. Demi bisa melihat pelantikan Pramuka, hehhee... Biasanya juga ogah kalau diminta naik gunung.

      Delete
  4. Keren mba. kirain mudah tuh. soale liat foto2 teman kayaknya gak tinggi2 amat. ternyata oh ternyata.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Awalnya saya kira juga mudah. Ternyata susahnya minta ampun, hehehe.. hampir aja menyerah beruntung masih diberi motivasi buat berusaha untuk sampai di puncak.

      Delete
    2. Pastinya seneng bgt bisa sampe puncak yah

      Delete
  5. Rombongan naik motor itu, aduh enak banget. Jadi ingat saat menjadi pembina pramuka, kelakuannya kok ya sama dengan saya saat itu hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha... Jauh banget, sekitar 16 km kalau jalan kaki. Jadinya ya pilih naik motor, hehehe.
      Kita senasib ternyata.. hihi

      Delete
    2. yang peniting bonusnya gede dan utuh :)
      Dulu kalau setiap ada acara seperti ini dapat komisi dua ratusan ribu, tapi entah sekarang lebih gede pastinya.

      Delete
    3. Saya kok gak dapat ya, hehe * kabuur

      Delete
  6. Hayoo bentuknya mirip batok apa apem nih kak :D ?.
    Keren banget viewnya ya, struktur garis~garis lekukan buminya bisa kembaran sama gunung Bromo.

    Wow, kak Qudsi sampai ngesot saat turun gunung via jalur Bromo ...
    Pasti deg-degan sekaligus seru yaaa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukannya batok mirip kue apem juga ya kak? iya gak sih, jadi gak yakin, hahahaha.
      Iya kak, kan awalnya emang satu ibu, gunung Bromo. Karena meletus akhirnya pisah-pisah jadi deretan pegunungan. Makanya strukturnya ada kemiripan, khawatir gak diakui jadi saudara kak, hehehe.

      Banyak deg-degannya dibanding serunya. Takut setengah mati, khawatir jadi tumbal gunung Batok. Hiyaa. Ayo kak, coba daki Batok.

      Delete
  7. Bulan ketiga masih belum ada hal baru, masihkah ada di gunung batok?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bang, lagi semedi di puncaknya biar dapat wangsit cara cepat jadi blogger, hehe

      Delete
  8. Udah 7x ke Bromo dan memang ga pernah bosan-bosannya, apalagi daki Seruni Poin dini hari bikin pengalaman yang sangat berharga setelah nyampe diatas gapura... Indah banget...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wow, kayak 7 turunan ya, hehehe. Bromo memang selalu mengesankan buat para pengunjungnya dan tentu saja bikin rindu.
      Saya sendiri sepertinya belum sampai 7 kali kalau ke puncaknya, padahal kerja di sekitar Bromo, hehehe.

      Delete

Terima kasih atas kunjungannya, :-)

~~falkhi~~