Custom Search

2018-07-08

PARASAILING TANJUNG BENOA, UJI NYALI YANG SESUNGGUHNYA

Bali adalah salah satu destinasi wisata favorit saat hari libur tiba. Keindahan alam yang bersanding dengan keelokan budaya di pelaminan wisata seakan menghipnotis wisatawan untuk lagi dan lagi berkunjung ke Bali. Tak heran jika TripAdvisor mengukuhkan Bali sebagai destinasi terbaik dari 25 destinasi terbaik di seluruh dunia untuk penghargaan Travellers Choice kategori destinasi wisata terbaik tahun 2017. Prok, prok, prok! 

Apa yang kamu rasakan saat berada di atas?

Bali memiliki aneka ragam wisata menarik yang dapat dikunjungi, antara lain pantai, danau, air terjun, pura, desa wisata, hingga pusat belanja khas Bali. Saya sendiri lebih sering berkunjung ke pantai saat berkunjung ke Bali. Salah satu wisata pantai favorit ala falkhi adalah Tanjung Benoa. Alasannya karena saya bisa melihat hewan yang unyu-unyu, hehehe. Selain penyu, Tanjung Benoa juga menarik karena penuh dengan ragam aktivitas permainan air. Salah satunya adalah Parasailing, permainan yang bertujuan untuk menikmati keindahan wilayah pantai Tanjung Benoa dari ketinggian dengan menaiki parasut yang ditarik oleh speed boat. 


Parasailing termasuk permainan yang menguji nyali. Sebab, ketinggian parasutnya gak main-main, bisa sampai 70-100 m di atas permukaan laut. Bagi penyuka kegiatan ekstrim, parasailing merupakan ajang untuk uji nyali yang sesungguhnya. Tetapi jangan coba-coba deh bagi yang punya penyakit jantung atau phobia ketinggian. Khawatir pingsan saat terbang, hihihi.

Sebelumnya, saya hanya menjadi penonton kegiatan parasailing ketika berkunjung ke Tanjung Benoa. Sebenarnya ingin menguji nyali tetapi merasa takut karena tidak bisa berenang. Apa hubungannya dengan berenang, parasailing kan terbang? Terbangnya di atas air lho, kalau ada apa-apa dengan angin dan parasutnya, bisa jadi saya jatuh ke laut. Laut bukan bathub ya, ingat!

Tahun ini saya kembali datang ke Tanjung Benoa, lalu melihat kembali kegiatan parasailing. Entah karena ekspresi muka atau sedang iseng, tiba-tiba salah satu teman menantang saya mencoba parasailing. Katanya sih untuk tes jantung, kalau berhasil artinya jantung saya sehat. Huaaa... gak gitu juga kan tes jantungnya?

Setelah bermenit-menit menonton dan mendengar pengalaman seorang siswa yang memutuskan parasailing, akhirnya saya memutuskan untuk ikut mencoba. Bagaimana rasanya? Seru dong, hahaha. Penasaran? Berikut pengalaman saya mencoba parasailing sebagai bentuk uji nyali dan uji kesehatan jantung.

Daftar dan Bayar
Sebelum mencoba parasailing kita harus mendaftar dan membayar tiket. Biaya yang dipatok untuk parasailing tunggal adalah 100 ribu. Harga tersebut sudah termasuk asuransi. Harga bisa lebih murah jika sebelumnya kita memesan secara online atau memesan paket tour di Tanjung Benoa.

Menggunakan Alat Parasailing
Setelah membayar uang untuk kegiatan parasailing, saya diminta berkumpul di pos persiapan. Lokasinya berada di depan pertokoan sekitar pantai. Sudah ada beberapa orang disana. Kami kemudian diminta melepas alas kaki dan memakai jaket pelampung serta harness (dudukan parasut).

Harness penumpang parasailing yang terjatuh karena tali putus (artirticlecles.sun-sentinel.com)

Bagi yang menggunakan kacamata, petugas akan memberi karet untuk mengaitkan kacamata ke kepala agar kacamata tidak lepas saat mengangkasa.

Pakai peralatan dulu ya

Menyimak Arahan Pemandu
Setelah peralatan parasailing terpasang dengan benar di badan. Kami diminta untuk menyimak penjelasan pemandu tentang aturan main parasailing.

Pertama, menghafal slop warna di tali kemudi (control line) parasut. Ada empat tali kemudi, yakni dua di depan (leading edge) dan dua di belakang (trailing edge). Tali yang diberi slop warna adalah bagian leading edge. Ada dua slop warna, yakni merah di tangan kiri dan biru di tangan kanan.

Kedua, mematuhi arahan pemandu. Saat di angkasa pemandu akan memberikan aba-aba melalui speaker. Ada tiga aba-aba yang diberikan yakni lepas untuk melepas tali kemudi, tahan untuk memegang tali kemudi, dan tarik untuk menarik dengan kuat tali kemudi.
Aba-aba lepas diberikan saat parasut sudah stabil di angkasa. Sedangkan aba-aba tahan dan tarik diberikan saat akan melakukan pendaratan.

Ketiga, bersikaplah rileks saat di udara dan nikmati keindahan pantai Tanjung Benoa. 

Keempat, saat akan mendarat, tarik dengan kuat tali kemudi yang diminta dengan kedua tangan. Selain menggunakan speaker, aba-aba juga dilakukan dengan mengibarkan bendera. Tarik tali kemudi yang memiliki slop warna sama dengan bendera yang diberikan pemandu. Tahan hingga pemandu memberikan aba-aba bendera yang berbeda.

Kelima, luruskan kaki ketika akan melakukan pendaratan. Beberapa petugas akan bersiap untuk membantu dalam pendaratan.

Satu putaran permainan parasailing berkisar antara 4-5 menit dengan titik awal dan akhir berada di pantai. Waktu 4-5 menit itu elastis ya, bisa pendek bagi yang menikmati namun bisa sangat lama bagi yang merasa ketakutan, hehehe.

Antri Dulu...
Saat saya memutuskan mencoba parasailing, ternyata ada banyak orang yang juga ingin mencoba. Karena banyak wisatawan yang ingin mencoba, maka saya harus antri. Kami diminta antri di dekat titik pendaratan. Hal ini dikarenakan kita harus bersiap lari jika parasut dari wisatawan sebelumnya sudah mendarat sempurna.

Antri dulu ya

Waktunya Parasailing
Ketika antrian tiba pada saya, rasanya campur aduk. Antara takut, gelisah, dan mencoba berani. Saya mencoba mengobrol dan bercanda dengan wisatawan lain untuk menghilangkan rasa nano-nano seraya merapal doa. Semoga saya bisa selamat.

Saat pengunjung sebelumnya mendarat, pemandu berteriak agar saya berlari. Setelah saya mendekat, petugas segera mengaitkan harness ke tali kemudi dan memberi perintah, “ayo lari, lari.”

Berlari menuju pantai

Saya berlari kecil menuju pantai sambil memegang erat tali kemudi. Lalu, secara perlahan-lahan kedua telapak kaki menjauh dari daratan tanah pasir. Badan saya mulai terasa ringan karena parasut bergerak naik mengangkasa di atas laut Tanjung Benoa. Tiba-tiba terdengar pemandu memberi komando, “lepas, lepas.” Artinya parasut sudah stabil dan saya bisa melepas pegangan pada tali kemudi.

Terbang melayang jauh ke atas awan, hehehe

Tetapi yakin nih mau dilepas? Awalnya saya mengikuti perintah untuk melepas tali kemudi dan mulai rileks menikmati pemandangan. Namun, begitu melepas pegangan, saya merasa melayang-layang. Eh, emang melayang sih, tetapi rasanya itu lho. Hahaha.

Saya pun kembali memegang tali kemudi dan berusaha tenang dengan menarik nafas panjang berkali-kali seraya memandang lautan. Mencoba menikmati keindahan alam. Setelah kondisi tenang dan bisa menikmati, saya malah merosot dari seat pad dan membuat badan berdiri melayang.



Hiyaaa... ketenangan pun langsung menguap. Berdiri di atas puluhan meter permukaan laut yang sungguh menawan ternyata belum memudarkan ketakutan akan ketinggian. Saya berkali-kali merapal doa, menutup dan membuka mata sambil mencari titik pendaratan di pantai. Khawatir saya salah komando dan salah pendaratan.

Telapak tangan mulai perih karena terlalu erat memegang tali kemudi parasut. Maunya rileks, tapi kaki yang melayang dan badan yang terhempas angin membuat jantung mati rasa. Untunglah beberapa saat kemudian, saya melihat bendera biru dikibarkan dan terdengar komando dari mikrofon, “tarik, tarik, tahan.”

Saya segera menarik tali kemudi berwarna biru menggunakan kedua tangan. Saya menarik dengan kuat khawatir parasut tidak bisa mendarat. Setelah parasut terbang rendah, pemandu kembali meneriakkan perintah. “Lepas. Tarik merah.” Bendera merah dikibarkan. Saya segera berpindah pegangan. Menarik dengan kuat tali kemudi dengan slop merah.

Saya lega bisa melihat pasir putih di bawah kaki. Tapi, kok belum sampai juga. Parasut juga masih melayang dan ada beberapa tenda di sekitar pantai. Huaaa, saya gak mungkin menabrak tenda kan?
Dalam kondisi khawatir, tiba-tiba kedua kaki saya ditarik. Ada 2-3 orang yang bertugas membantu pendaratan. Hup. Kedua telapak kaki saya menyentuh pasir putih. Legaaa. Petugas segera melepas kaitan antara tali kemudi dan harness lalu meminta saya berlari menjauhi parasut. Pendaratan harus dilakukan dengan cepat karena wisatawan yang antri selanjutnya sudah bersiap. Jadi, tidak boleh ada aksi muntah-muntah atau hilang kendali ya.

Saya sendiri tetap berlari walaupun kondisi pikiran belum 100%. Saya baru berhenti saat tiba di pos persiapan. Petugas dengan cekatan melepas harness dan jaket pelampung. Setelah itu saya mendekati kran air, menampung air di kedua tangan dan mengusapkan ke wajah. Pikiran terasa lega dan jantung kembali berdetak. Akhirnya, saya berhasil menaklukkan ketakutan terbang di atas air. Saya juga bersyukur masih bisa menjejak di tanah kembali. Hehehe.



Itulah pengalaman pertama saya bermain parasailing. Sungguh, parasailing merupakan uji nyali yang sesungguhnya bagi pecinta travelling ekstrim. Siapa mau mencoba? Jangan mengajak saya ya. Hahaha.





Artikel Terkait
123456789101112131415