Custom Search

2017-07-22

PERJALANAN MENGAJARKAN KITA MAKNA KETULUSAN

Apa makna terindah dari sebuah perjalanan? Jawabnya, ketulusan. Ya, ada banyak ketulusan yang dapat kita nikmati ketika melakukan sebuah perjalanan. Baik perjalanan pendek maupun perjalanan panjang yang memakan waktu berhari-hari. Semuanya mengajarkan kita akan makna ketulusan.

 

Apakah ada ketulusan dalam gambar ini? Hehe
Seperti yang saya alami sekarang. Saat ini saya sedang dalam perjalanan dari Surabaya menuju Bandung dengan kereta api bisnis. Saya memilih tipe bisnis karena tidak kebagian kereta ekonomi dan harga kereta ekskutif lumayan mengikat kantong. Hehehe.


Tiket menampilkan lokasi duduk saya berada di bagian tengah gerbong. Bersebelahan dengan teman yang menemani saya ke Bandung. Di depan kami, duduk dua orang cowok. Tebakan saya, mereka adalah mahasiswa.

Saat kami datang, dua cowok tersebut sedang menyantap nasi dari wadah bekalnya. Hm, bikin iri karena sebelumnya kami merasa lapar dan tidak menemukan stand warung makan. Untuk menekan rasa lapar, kami pun memakan roti dan snack. Ketika kami sedang asyik makan snack, tiba-tiba muncul setoples kecil keripik di depan kepala. Rupanya, dari dua cowok yang duduk di depan kami. Mereka menyodorkan snack bekalnya untuk kami nikmati. Awalnya kami menolak. Namun, beberapa waktu kemudian mereka menyodorkan snacknya kembali dengan mengatakan obat penghilang kantuk. Kami akhirnya menjumput 3-4 keripik untuk dimakan. Tak enak rasanya menolak ketulusan mereka untuk berbagi. Tindakan yang tulus ini pun menular pada kami, yakni dengan ikut berbagi roti pada mereka dan beberapa penumpang lain yang dapat kami jangkau.

Roti Patata yang lagi booming di Surabaya

Selanjutnya, terkait dengan penginapan. Sebelumnya teman saya mengatakan seorang temannya bersedia menyediakan tempat tinggal selama kami di Bandung. Sayangnya ketika kami berangkat, dia mengabarkan hendak keluar kota karena urusan pekerjaan dan keluarganya masih mudik ke kampung halaman. Kami pun berencana untuk memesan penginapan karena tak mungkin menginap di runah teman tersebut sebab kondisi rumah yang sedang kosong.

Namun rupanya dia tak menginginkan kami tinggal di penginapan. Dia tetap meminta kami untuk tinggal di rumahnya, dan mengambil kunci rumah yang dititipkan pada tetangga sebelah. Apa dia tidak takut kami berbuat jahat di rumahnya? Dia hanya tertawa dan mengatakan tidak ada barang berharga di rumahnya. Akhirnya kami pun mengiyakan untuk menempati rumahnya yang sedang kosong.

Dua kejadian di atas membuat saya menyadari arti dari ketulusan. Yakni kesediaan untuk membantu orang lain tanpa mengharapkan apapun. Seperti yang dilakukan oleh dua orang cowok di depan kami saat menawarkan snacknya di kereta. Kami yakin, mereka tidak mengharapkan balasan apapun. Sebab, kami tidak saling mengenal sehingga tidak memungkinkan bertemu kembali untuk menagih balasan kebaikannya.

Anggapan yang sama pada teman yang membiarkan rumah kosongnya ditempati. Ya, walaupun kami berteman tapi tempat kami berjauhan, dan sangat jarang untuk bisa bertemu. Jadi, permintaannya pada kami untuk menghuni rumah kosongnya pasti didasari dari ketulusan. Kesediannya untuk membantu kami tanpa pamrih. 

Masih banyak lagi tindakan-tindakan tulus yang dapat kita terima dan lakukan dalam sebuah perjalanan. Bahkan jika orang tersebut adalah orang yang pamrih, jika melakukan perjalanan dan terlibat dalam suatu pemberian bantuan bisa dinyatakan itu adalah tindakan tanpa pamrih. Bukan lagi pamrih sebagaimana tingkah lakunya sehari-hari. Sebab, dalam perjalanan kita bertemu orang-orang baru yang bahkan terkadang kita lupa untuk menanyakan identitasnya. Sehingga memungkinkan untuk berbuat kebaikan secara tulus tanpa mengharapkan balasan apapun. 

Jadi, jika  kita menginginkan berbuat sesuatu secara tulus atau mendapat perlakuan orang lain secara tulus, lakukanlah sebuah perjalanan. Perjalanan yang nantinya dapat mengajarkan kita makna dari sebuah ketulusan.




KA. Mutiara Selatan - Sby-Bandung
Artikel Terkait
123456789101112131415