Custom Search

2017-06-27

HARI RAYA IDUL FITRI, SAATNYA MEMBUKA KENANGAN

Selamat Idul Fitri 1438 H, semoga hari yang ditasbihkan menjadi hari kemenangan ini menjadi pondasi dalam membangun kenangan tentang persaudaraan yang hakiki.




Apa yang menjadi simbol dari raya Idul Fitri? Ketupat, opor ayam, mudik, sungkeman, halal bihalal, foto keluarga, atau ucapan-ucapan mutiara? Tidak perlu bingung. Simbol-simbol itu bukan pilihan ganda yang harus dipilih salah satu. Silakan pilih dua, tiga, empat, atau semuanya. Bebas. Menyesuaikan pilihan hasrat, pikiran, dan keinginan.


Bagi saya sendiri, Idul Fitri merupakan sebuah simbol kenangan. Kenangan membuat ketupat bersama ibu, makan opor ayam nenek, bersiap-siap mudik saat menjadi perantau, rela antri untuk sungkeman, berkumpul untuk halal bihalal, membuat foto keluarga, hingga memilih ucapan-ucapan mutiara untuk dikirim sebagai pesan elektronik. Kisah-kisah itu adalah kenangan. Kenangan yang setiap tahun selalu dikunjungi. Kenangan yang menjadi hiburan, namun juga alarm. Agar saya tetap berada dalam jalur yang telah ditetapkan sebagai pilihan.

Mengapa saya harus tetap berada dalam jalur? Sebab sebagai manusia perjalanan hidup tidak akan mulus. Ada banyak tikungan, tanjakan, atau jalan memutar. Masing-masing jenis jalan memiliki dampak yang signifikan. Seperti saat jalan tanjakan, kita harus memenuhi diri dengan semangat untuk pantang menyerah. Jika tidak, kita tidak akan pernah menginjak puncak yang mungkin sudah menyediakan berbagai peristiwa yang menjadi impian.

Namun, sebagaimana halnya sifat dasar manusia. Ada banyak kantong nafsu yang tergantung di dalam diri. Nafsu-nafsu ini seringkali membuat kita berpaling dari tujuan. Dalam titik inilah kita kemudian membutuhkan kenangan sebagai alarm. Alarm agar kita tidak pernah lupa dengan tujuan.

Sesuatu yang bernama kenangan biasanya berada di pojok ruangan. Kusam dan usang karena jarang diperhatikan. Oleh sebab itu, kita sering keluar dari jalur tujuan. Lalu, bagaimana kita bisa mengingat kenangan? Jawabnya, saat Idul Fitri.

Tak perlu menyediakan kamera resolusi tinggi untuk mendokumentasikan kenangan Idul Fitri. Tidak. Cukup sedikit ruang dalam memori. Maka, kita akan merekam dengan hati. Rekaman dari hati merupakan rekaman paling hakiki. Itu bagi saya pribadi. Untuk itulah, setiap Idul Fitri saya selalu merekam ulang memori. Membuka kenangan di hati. Agar saya dapat meraih mimpi sebagai muslim sejati.

Selamat Hari Raya Idul Fitri teman-teman. Selamat membuka kenangan, mungkin saja ada selip-selip peristiwa yang harus direka untuk menjadi insan sempurna.

 

Artikel Terkait
123456789101112131415