Custom Search

2016-11-10

BIAYA LIBURAN KE PULAU TABUHAN


Maunya segera posting begitu pulang dari berlibur, ternyata... tertunda lebih dari seminggu. Pfiuhf! Begitulah ruh kepenulisan saya saat ini. Lebih banyak pendingnya dengan berbagai macam alasan yang mungkin hanya sekedar alasan. Hehehe...

Nah, ngobrolin tentang tempat berlibur, minggu kemarin saya sempat berkunjung ke salah satu tempat eksotis di ujung timur pulau Jawa. The name is Tabuhan Island. Pulau Tabuhan memiliki pantai yang putih dan dunia bawah laut yang menawan. Rujukan tempat yang tepat bagi para pecinta pantai dan snorkeling. 

Pantai di Tabuhan putih bersih
Perjalanan liburan ke pulau Tabuhan dimulai dari tempat tercinta, Probolinggo menuju Banyuwangi. Saya memilih kereta api sebagai teman perjalanan dengan alasan pemandangan alam sepanjang Probolinggo-Banyuwangi lebih nikmat jika dinikmati melalui jendela kereta api. Selain itu, jatah berlibur hanya satu hari, jika menggunakan transportasi lain dikhawatirkan ada kemacetan sehingga mengurangi jam libur. Terakhir, kereta api mendukung rencana saya mengeluarkan biaya semurah-murahnya untuk berlibur. Hehehe. 


Pemandangan alam dari jendela kereta api
Saya memesan tiket kereta api secara online. Menurut saya, pemesanan tiket online lebih praktis daripada harus membeli di stasiun. Apalagi saat ini banyak tersedia situs dan aplikasi tiket online, seperti uticket, traveloka, pegi-pegi, dan banyak lagi lainnya.

Saya berangkat dengan kereta api pertama berlabel Probowangi. Berangkat dari stasiun Probolinggo pada pukul 06.45 dan berakhir di Stasiun Banyuwangi Baru pada pukul 11.45. Kelas ekonomi untuk Probowangi dibandrol harga Rp.27.000. Penumpang cukup penuh dari Probolinggo-Jember, sedangkan untuk perjalanan selanjutnya dari Jember-Banyuwangi banyak kursi kosong. Bahkan, saya bisa duduk leluasa karena hanya sendiri dalam satu kabin.

Menikmati perjalanan dengan membaca

Sebelum tiba di Stasiun Banyuwangi Baru, saya aktif mencari informasi transportasi ke pulau Tabuhan. Berbekal informasi-informasi tersebut, terpilihlah ojek sebagai pengantar ke Rumah Apung, pantai Bangsring, salah satu tempat mangkal perahu-perahu menuju pulau Tabuhan. Sayangnya, tidak ada rekomendasi harga yang bisa saya temukan.

Pukul 11.45 kereta tiba di stasiun Banyuwangi Baru. Saya berniat mencari toko/warung terlebih dahulu karena tenggorokan kering dan perut perlu diisi. Selain itu, saya berniat mencari tahu tentang transportasi ke pantai Bangsring. Rupanya tidak banyak warung di sekitar stasiun. Letak stasiun juga agak menjorok dari jalan raya sehingga terkesan sepi pengunjung.

Saya kemudian kergegas ke deretan warung yang letaknya diluar pagar stasiun. Terdapat dua warung yang saat itu dipenuhi oleh para pengunjung stasiun. Suasana yang ramai membatalkan rencana saya untuk makan, dan hanya mengambil sekaleng bear brand dari lemari pendingin. Saya menikmati sekaleng bear brand seraya mengamati suasana stasiun. Hanya ada dua angkutan berwarna kuning, beberapa becak, dan motor pengunjung. Hm, mana pangkalan ojeknya? 

Setelah membayar harga minuman dan beberapa biskuit sebagai bekal, saya kembali ke stasiun. Sebab, pemilik warung mengatakan tidak tahu-menahu tentang harga ojeg ke pantai Bangsring. Saya melihat ada negosiasi antara rombongan penumpang dan pemilik angkutan kota di depan stasiun. Saya pun ikut nimbrung dan menyatakan keinginan untuk mencari transportasi ke pantai Bangsring. 

Para sopir kemudian menyarankan untuk menggunakan ojeg, sebab saya hanya sendiri. Tanpa menawar harga, saya langsung menyetujui dan bersedia di antar oleh salah seorang dari mereka. Selama perjalanan saya mengobrol tentang kondisi pariwisata di Banyuwangi. Kebetulan, pak ojeg juga berprofesi sebagai korlap angkutan untuk wisata daerah Banyuwangi dengan titik awal stasiun. 

Menurut pak ojeg, angkutan kota dapat disewa untuk berkeliling wisata daerah Kota Banyuwangi. Seperti pantai Bangsring/rumah Apung dan pantai watu Dodol. Harga sewa sekitar 300 ribu untuk 12 orang penumpang. Jadi, satu orang penumpang setara dengan 25 ribu. Jika hendak berkunjung ke pulau Tabuhan atau Menjangan, angkutan siap antar jemput sesuai dengan jam kesepakatan.

Perjalanan dari stasiun ke Rumah Apung menempuh waktu sekitar 30 menit. Biaya ojeg ke Rumah Apung yang ditawarkan 25 ribu dan saya tidak bisa menawar, hehehe. Saya kemudian di antar pak ojeg ke loket pendaftaran penyeberangan ke pulau Tabuhan. Harga satu perahu penyeberangan 500ribu untuk maksimal 10 penumpang. Karena saya sendirian, petugas menyarankan untuk menunggu rombongan lain. Mereka meminta nama saya dan berjanji akan memanggil jika ada rombongan yang akan bertolak ke pulau Tabuhan.
Selama proses menunggu, saya berkeliling sepanjang pantai di Rumah Apung. Air pantai terlihat jernih, sehingga mengundang pengunjung untuk berenang dan bermain air. Selain berenang, pengunjung juga disediakan boat untuk ke Rumah Apung. Saya sendiri tidak sempat berkunjung ke Rumah Apung karena waktu yang terbatas.

Papan nama di Rumah Apung

Sebagian pengunjung berenang di Rumah Apung

Pose dengan latar belakang nelayan :)
Rumah Apung dari pinggir pantai

Penantian untuk menyeberang ke pulau Tabuhan pun berakhir ketika ada pengeras suara menyebutkan nama saya untuk segera merapat ke loket penyeberangan. Rupanya ada rombongan pengunjung yang hendak menyeberang ke pulau Tabuhan dan masih kurang jika 10 orang sehingga saya bisa ikut menyeberang. Biaya yang saya keluarkan untuk sewa perahu adalah 56 ribu, dengan rincian 500 ribu dibagi 9 orang.

Kapal yang akan membawa saya ke pulau Tabuhan
Pesona lain dari pulau Tabuhan selain pantainya yang putih adalah dunia bawah laut. Ada paket snorkeling untuk wisatawan yang hendak ke Tabuhan. Harga sewa sekitar 30ribu untuk alat snorkeling. Ada juga harga untuk pemandu. Saya tidak sempat menanyakan harga total untuk alat dan pemandu, sebab kali ini saya tidak bisa ikut snorkeling. Pihak pemandu menyayangkan keputusan saya karena Tabuhan terkenal dengan wisata bawah lautnya yang menawan. Sayang juga sih, tapi kebetulan saat itu saya memang tidak bisa masuk air dengan alasan kewanitaan, hehehe.

Penyeberangan ke pulau Tabuhan memakan waktu sekitar 30 menit. Untuk menyeberang sebaiknya menyediakan baju ganti dan pelindung tas. Sebab, percikan air laut sangat keras dan membuat basah kuyup sekalipun kita memakai jaket pelindung.

Kapal merapat di pulau Tabuhan ketika matahari sudah condong ke barat. Waktu yang tepat untuk menikmati pantai dan memotret. Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan dengan segera bergegas berkeliling menikmati putihnya pantai Tabuhan.

Tersedia tiga warung terbuka di bagian depan pantai pulau Tabuhan. sedangkan, pada satu sisi bagian samping terdapat reruntuhan bangunan. Tempat ini merupakan salah satu tempat selfi favorit pengunjung. Bagian belakang terkesan kotor dan jarang dijamah. Namun, terdapat kumpulan pohon unik yang menarik untuk dijadikan objek foto. Untuk kegiatan snorkeling dilakukan di daerah depan pantai pulau Tabuhan.  


Pulau Tabuhan tampak dari jauh

Pantainya putiiih.....
Papan nama di bagian sisi samping pulau
Kumpulan kayu unik dibagian belakang pulau



Menunggu penumpang


Reruntuhan bangunan yang menjadi tempat selfie favorit
Suasana saat menjelang petang

Berpose di dekat papan nama

Perpaduan warna yang cantik, hehe

Tepat pukul 16.30 WIB, pemandu mengajak saya dan rombongan kembali ke Rumah Apung. Perjalanan pulang tidak jauh berbeda dengan keberangkatan alias sama-sama membuat baju dan tas saya basah kuyup. Hahaha. Sesampainya di Rumah Apung saya dan rombongan bersegera ke kamar mandi. Deretan kamar mandi sudah disediakan oleh pihak pengelola Rumah Apung bagi pengunjung yang ingin membersihkan diri. Untuk satu kali mandi, biayanya 3000 rupiah.

Guyuran air tawar membuat badan saya kembali segar dan siap melakukan perjalanan pulang. Bagaimana kepulangan saya dari Rumah Apung? Tenang, saya sudah meminta no handphone bapak ojeg dan berjanji untuk menghubungi jika saya hendak kembali ke stasiun Banyuwangi Baru. Belum sempat menghubungi, pak ojeg sudah muncul dihadapan saya. Siap membawa saya kembali ke stasiun Banyuwangi Baru. Ongkos ojeg dari Rumah Apung ke Stasiun Banyuwangi Baru sebesar 25 ribu. 

Rute pulang dari Banyuwangi-Probolinggo saya tempuh dengan kereta api Mutiara Timur Malam. Berangkat dari Banyuwangi Baru pukul 22.00 dan tiba di Probolinggo pada pukul 14.25 WIB. Harga tiket untuk kelas bisnis 120 ribu, sedangkan kelas eksekutif dipatok dengan harga 160 ribu. Untuk biaya libur yang hemat, saya memilih kelas Bisnis. Hehehe.

Kursi penumpang kereta api dari Banyuwangi Baru hampir penuh. Mayoritas penumpang melakukan perjalanan ke Surabaya. Termasuk mbak yang duduk di sebelah saya. Berarti saya tidak memiliki teman untuk turun di stasiun yang sama. Dugh, padahal mata saya saat itu sudah menjerit-jerit untuk segera menutup. Tapi, kalau saya kebablasan sampai ke Surabaya kan bahaya. Apalagi mbak di sebelah juga terlihat mengantuk dan hendak tidur. Kyaaa... apa yang bisa saya lakukan dengan mata mengantuk?

Kondisi badan yang lelah membuat saya tertidur di kereta. Beruntung saya terbangun ketika kereta berhenti di stasiun Malasan. Beberapa menit menuju stasiun Probolinggo. Tepat pada pukul 14.25 WIB kereta Mutiara Timur Malam memasuki stasiun Probolinggo. Saya pun bersiap-siap mendekati pintu keluar dan meloncat turun ketika kereta api berhenti.

Wooaah! Saya bernafas lega karena sudah kembali dari liburan singkat ke pulau Tabuhan. Cukup satu hari dengan biaya yang lumayan ramah dikantong. Ya, biaya liburan ke pulau Tabuhan yang saya keluarkan minus snorkeling adalah 253rb. Rinciannya, tiket kereta PP 147 ribu, ongkos ojeg PP 50 ribu, dan ongkos perahu 56 ribu. 

Bagaimana biaya ke pulau Tabuhan, cukup murah bukan? Yuks, segera merapat karena pulau Tabuhan benar-benar dapat membuat kita berdecak kagum dengan eksotisme pantainya. Ditunggu ya....    



 
Artikel Terkait
123456789101112131415