Custom Search

2016-08-19

UPACARA KEMERDEKAAN RI KE 71

Apa yang spesial di hari kemerdekaan RI tahun 2016?

Bagi saya, ada dua hal yang spesial pada dirgahayu Indonesia ke 71. Pertama, emas olimpiade. Kedua, upacara rakyat Tengger di lautan pasir.

Asyiiik! Indonesia dapat medali emas

Pengebaran sang saka merah putih di Lautan Pasir Bromo
Emas olimpiade? Yups. Tahun ini adalah tahun pelaksanaan olimpiade Rio. Ada banyak harapan yang disematkan pada seluruh atlit Indonesia yang bertanding. Harapan utama adalah dibawanya medali emas oleh para atlit ke Indonesia. Adapun cabang olahraga yang mendapat beban utama untuk menggondol medali emas adalah bulutangkis, angkat besi, dan panahan. Bulutangkis dan angkat besi adalah cabang olahraga yang selalu menjadi andalan Indonesia di olimpiade. Hal itu terjadi karena dua cabang olahraga itulah yang aktif memberikan medali pada Indonesia.

Sebelum hari kemerdekaan, dari sektor angkat besi, Indonesia telah mendapatkan dua medali perak. Yakni dari lifter Sri Wahyuni dan lifter Eko Yuli Iriawan. Keduanya merupakan lifter terbaik Indonesia. Bahkan bagi Eko Yuli, ini adalah medali ketiga dari Olimpiade yang berturut-turut diberikan kepada Indonesia.

Bulutangkis sendiri mengirimkan 10 atlet terbaiknya. Kecuali ganda campuran, masing-masing sektor diwakili oleh satu/sepasang atlet. Sayangnya, tidak semua atlet bisa memberikan medali. Pemain andalan ganda putra, Hendra/Ahsan tidak lolos di babak penyisihan grup. Begitu pun dengan tunggal putri yang diwakili Lindaweni. Sementara, tunggal putra Tommy kalah di babak 16 besar dan ganda putri Greysia/Nitya kalah di perempat final. Adapun dua wakil di sektor ganda campuran harus saling berhadapan di perempat final. Dengan demikian, hanya ada satu pasangan yang berpeluang untuk mendapatkan medali.

Kemenangan Owi/Butet atas Praveen/Debby membuka harapan Indonesia untuk mendapat medali. Terlebih lagi, Owi/Butet secara meyakinkan mengalahkan bebuyutannya (ZZ) di semifinal dengan straight set. Dan, doa serta kerja Owi/Butet terkabul. Tepat pada pukul 23:57 tanggal 17 Agustus 2016, Owi/Butet memastikan kemenangannya atas pasangan Malaysia, Chan/Goh. Dengan pergantian shuttle kok 17 kali selama 45 menit. Wow, angka-angka keramat ini menjadi kado kemerdekaan yang Istimewa bagi Indonesia. Terima kasih Owi/Butet, semoga bisa tetap terus berkarya untuk Indonesia.

Owi/Butet menggigit medali emas olimpiade
Hal kedua yang menjadi spesial pada Dirgahayu RI ke 71 adalah keikutsertaan saya dalam upacara rakyat Tengger untuk memperingati hari kemerdekaan. Pelaksanaan itu diadakan di Lautan Pasir Bromo dengan mengundang organisasi profesi dan masyarakat se-Kabupaten Probolinggo, seperti PGRI, Karang Taruna, GP Ansor, dll. Sebenarnya pada tahun sebelumnya, saya juga mengikuti upacara detik-detik kemerdekaan di Lautan Pasir Bromo. Bedanya, acara saat itu non formal dengan peserta wisatawan. Sedangkan, kali ini upacara yang diadakan formal. Bahkan yang mendapat mandat sebagai pembina upacara adalah ibu Siti Nurbaya, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup. Selain itu, upacara dihadiri oleh Bupati, perwakilan anggota DPRD Kabupaten Probolinggo, dan perwakilan anggota DPR RI. 

Barisan peserta upacara
Upacara tidak hanya terkesan formal, tetapi juga unik. Contohnya pada pasukan pengibar bendera. Biasanya paskibra diiringi oleh pasukan 17 dan 45, namun di upacara kemerdekaan ini paskibra diiringi pasukan berkuda. Setiap joki, memegang bendera merah putih sambil menyentak tali kekang kuda. Rombongan pasukan kuda kemudian berderap mengelilingi lapangan sebelum berhenti di dekat tiang bendera.

Pasukan berkuda
Setelah bendera terbentang, penghormatan dilakukan diiringi lagu Indonesia Raya. Lagi-lagi ada yang berbeda. Musik pengiring untuk lagu Indonesia Raya bergenre rock tradisional dengan hentakan drum dan ketukan gamelan. Grup paduan suara memakai seragam abu-abu dan berselimut sarung. Kenapa bersarung? Sebab memakai sarung merupakan tradisi masyarakat tengger. Oleh sebab itu, bu menteri yang bertugas sebagai pembina juga diselimuti sarung sebagai tanda tamu kehormatan masyarakat Tengger. 

Bu menteri berselimut sarung

Banyaknya undangan untuk menghadiri upacara rakyat, membuat Lautan Pasir penuh sesak. Arus lalu lintas pun padat merayap. Jarak Bromo-Sukapura yang hanya sekitar 18 km kemarin ditempuh hampir selama 3 jam. Padahal jika dalam kondisi normal, jarak tersebut dapat ditempuh selama 45 menit. Walaupun terkena macet dan berdesak-desakan dalam mobil, upacara kemerdekaan di Lautan Pasir membuat hari kemerdekaan berkesan dalam benak saya. 

Antusiasme penonton
Bagaimana dengan kesanmu terhadap hari Kemerdekaan tahun 2016?
Artikel Terkait
123456789101112131415