Custom Search

2016-08-15

AGUSTUS 2016

Peringatan Kemerdekaan RI, perseteruan Risma-Ahok, persidangan Jessica, kemenangan dan kekalahan tim Indonesia di Rio, serta tumpukan kertas-kertas yang menunggu disentuh menjadi akar-akar yang berkompetisi untuk segera keluar dari kepala. Terlalu penuh. Terlalu pengap. Belum lagi, baper yang sering datang berkunjung. Owh! Rasanya, hidup itu seperti pelangi yang muncul saat malam. Gelap. Hehehe...

Peringatan Kemerdekaan RI ke 71

Setiap tahun, saya harus mengikuti upacara. Spesialnya, tahun ini saya harus menjajal dinginnya Lautan Pasir Bromo. Yups, Lautan Pasir Bromo dipilih sebagai tempat penyelenggaraan upacara 17 Agustus di kecamatan tempat saya tinggal.

Sumber : notesplusultra.files.wordpress.com

Senang? Pastinya. Tapi, penyelenggaraan itu membuat tim sekolah saya harus prepare lebih banyak. Sebab, jarak Lautan Pasir Bromo dengan sekolah sekitar 18 km. Lumayan jauh, kan? Akomodasi dan konsumsi pun menjadi topik utama dalam pembicaraan formal maupun non formal. Selain upacara, hari 17 Agustus juga dikenal dengan pesta perlombaan. Tingkat sekolah, tingkat kecamatan, tingkat kabupaten,... Semakin banyak tingkat, semakin banyak pula urusan. Hehehe...


Perseteruan Risma-Ahok

Sudah lama sekali saya tidak mengikuti dunia politik. Praktis, saya tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang apa yang sudah, sedang, dan akan terjadi. Hanya saja, iklan-iklan kecil di media sosial bercuap-cuap tentang Risma dan Ahok. Ada apakah dengan dua pesohor ini? Mengapa bermain teka-teki kata-kata di muka publik? Mending, main teka-teki silang aja. Selain menambah pengetahuan, juga dapat mencegah alzheimer. Asyik, kan?

Persidangan Jessica

Sidang belum juga menyentuh tulisan epilog. Semakin banya saksi yang dihadirkan. Semakin banyak bukti yang ditunjukkan. Membuat pikiran saya terkatung-katung antara sianida, kopi, dan detektif Conan. Lho, kok?
Ya, mengikuti sidang-sidang lanjutan membuat saya serasa membaca komik serial Detectif Conan yang penuh misteri. Sayangnya, ini adalah fakta yang harus diterima.

Olimpiade Rio

Indonesia sudah mendapatkan dua keping medali perak dari cabang angkat besi. Selanjutnya, menunggu detik-detik pertandingan bulu tangkis. Cabang bulu tangkis digadang-gadang dapat mempersembahkan medali emas. Tetapi, sungguh disayangkan pasangan ganda putra Hendra-Ahsan harus mengangkat koper setelah tak bisa mencukupi poin untuk lulus dari penyisihan grup. Semoga, wakil yang tersisa dapat mempersembahkan emas bagi Indonesia.

Tumpukan kertas

Ini menjadi yang paling utama. Berbagai macam kode tulisan harus segera terselesaikan tepat waktu. Ah, kapan waktu yang tepat itu? Bahkan berhari-hari saya hanya bisa memandang tanpa menyelesaikan apa pun. Sebab, baper lebih sering muncul dibandingkan ide. Apalagi ketika melihat tumpukan buku dan novel yang masih bersampul plastik, visitor blog yang turun drastis di bawah 100, wall teman-teman yang memperlihatkan kesibukan berprestasi, dan seseorang yang mondar mandir di depan saya tanpa dia tahu bahwa saya menyukainya. Ah! Serasa ingin teriak dan menangis.
Tapi, ini adalah hidup bukan? Selalu bergelombang tanpa pernah datar. Sebab, gambaran datar pada monitor jantung menandakan kita sudah berada dalam keabadian. Jadi, apapun yang terjadi, saya harus tetap berdiri dan berlari. Bukan menjauh, melainkan menembus batas hingga warna-warna kehidupan terlihat seperti pelangi. Tetap indah, apapun gradasi warnanya. Be sipirit!


"Untuk terus bergerak, kau butuh keberanian, bukan seribu alasan atau pembenaran. Mengoleksi berjuta alasan adalah hobby pecundang. Jangan gunakan keterbatasan yang kaumiliki adalah sebagai belenggu yang membatasi gerakmu. .... Latih dirimu untuk selalu yakin pada apa pun yang kau kerjakan, dan kerjakanlah sepenuh hati." Ilusi Imperia, hal. 270





Artikel Terkait
123456789101112131415