Custom Search

2016-02-08

COMFORT ZONE, MENYENANGKAN?


Hidup saya saat ini seperti air sungai, mengalir menuju lautan. Tanpa hambatan. Pekerjaan oke, tempat tinggal nyaman, koneksi internet lancar, hiburan dunia maya bisa terpampang di depan mata kapan pun saya suka. Menyenangkan, bukan? 

Orang bilang, saya sedang berada di Comfort Zone. Apa sih Comfort Zone itu?

Sumber: www.taraburner.com
Ada yang mengatakan Comfort Zone sebagai kondisi dimana kita tidak melakukan tindakan apa-apa untuk memperbaiki kondisi sekarang, apapun kondisi kita sekarang itu (1). Katanya lagi,  Comfort Zone merupakan kondisi saat aktivitas yang dilakukan hanya sebagai rutinitas belaka dengan sedikit tekanan dan risiko (2).


Comfort Zone membuat kebahagiaan kita teratur karena rendahnya rasa cemas dan tekanan hidup. Inilah yang rasakan. Saya merasa hidup di atas awan. Indah dan menyenangkan, tanpa ada yang harus dikhawatirkan.

Tapi, kenapa saya merasa kehilangan sesuatu. Sesuatu yang penting. Sesuatu yang dapat membuat saya lebih hidup. Apakah itu?

Saya pikir sesuatu yang hilang itu adalah semangat. Antusisme untuk beraktivitas. Kekuatan dalam meraih impian. Ya, semangat saya seperti menghilang. Sehingga saya menjalani rutinitas dengan datar. Kemarin dan hari ini layaknya berada dalam satu garis lurus yang bernilai tetap setiap waktunya. Besok, mungkin juga sama. Berawal dari bangun pagi, berangkat kerja, pulang kerja, dan istirahat. Tidak ada tantangan, tidak ada yang istimewa. 



Kehilangan semangat ini membuat pekerjaan saya terbengkalai. Akibatnya, tugas-tugas menumpuk tidak terselesaikan. Kalau sudah begini, siap-siap untuk begadang. Sebab, ada saatnya semua tugas itu harus terselesaikan dalam waktu yang bersamaan.

Kenapa ini terjadi? Padahal saya sedang berada dalam Comfort Zone, bukan? Kondisi aman, nyaman, dan menyenangkan. Seharusnya, kondisi menyenangkan dapat membuat saya lebih produktif dalam bekerja. Ini kok berbeda...

Setelah menelusuri google, saya menemukan pernyataan dari Daniel H. Pink, penulis “Drive: The Surprising Truth About What Motivates Us” (saya belum kenal bukunya nih, hehehe). Daniel berkata,
“If you’re too comfortable, you’re not productive. And if you’re too uncomfortable, you’re not productive. Like Goldilocks, we can’t be too hot or too cold.” (3)
Produktivitas tidak akan tumbuh jika kita berada dalam kondisi sangat nyaman atau sangat tidak nyaman. Hm, kata-kata Daniel sesuai dengan apa yang rasakan. Kondisi terlalu nyaman membuat saya tidak produktif.

Lalu, apa yang dapat dilakukan untuk keluar dari Comfort Zone?
1.      Melakukan sesuatu yang berbeda setiap hari
2.      Berpikirlah sebelum mengambil keputusan.
3.      Percaya pada diri sendiri dan belajar membuat keputusan dengan cepat.
4.      Lakukan perubahan dari hal yang paling kecil.
5.      Identifikasi setiap ketakutan dan hadapi selangkah demi selangkah.

Jika demikian, saya harus melakukan sesuatu agar semangat itu kembali hadir. Sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang mungkin merupakan ketakutan saya selama ini. Keluar dari Comfort Zone memang bukan hal yang mudah, tetapi bukan hal yang tak mungkin dilakukan.  

Jadi, apakah Comfort Zone menyenangkan? Keputusan ada di tangan kita. Mau membuatnya menjadi menyenangkan atau menjadikannya sebuah tantangan demi kehidupan baru lebih baik. Bagaimana, sudah siap mengambil keputusan?

Sumber:
(1)    http://sapiterbang.asia/arti-sebenarnya-keluar-dari-comfort-zone-not-moving-on-zone/
(2)   http://lifehacker.com/the-science-of-breaking-out-of-your-comfort-zone-and-w-656426705
(3)   http://blog.crew.co/getting-out-of-your-comfort-zone-why-its-hard-and-why-you-should/

Artikel Terkait
123456789101112131415