Custom Search

2015-12-02

DUA MENIT SATU DETIK

Menunggu itu bisa membuat kita grogi, jenuh, kesal, bingung, dan macam-macam rasa lain yang lain. Persis seperti permen gado-gado yang rame rasanya. Yup, itulah yang juga saya rasakan saat menunggu kedatangan buku DUA MENIT SATU DETIK. Buku antologi puisi yang diterbitkan oleh FAM Publishing ini memuat dua puisi saya yang berjudul, Rindu yang Menjadi Abu dan Punggung Ayah.

Buku DUA MENIT SATU DETIK merupakan antologi puisi dari perlombaan puisi bertema Setangkup Kata untuk Orang Tercinta. Jadilah puisi-puisi dalam buku ini bertema cinta. Cinta dalam lingkup yang sangat luas. Tidak terbatas hanya pada keluarga.

Terdapat 73 penulis yang berkontribusi dalam buku DUA MENIT SATU DETIK. Para penulis berasal dari berbagai profesi dan berbagai daerah. Penulis nusantara, begitu yang tercantum dalam buku.


Buku? Oh ya, hari ini buku yang saya tunggu sejak lama kini sudah mendarat dalam genggaman tangan. Siap untuk dibaca. Bagaimana dengan anda? Tertarik untuk membaca buku DUA MENIT SATU DETIK? Kunjungi saja situs FAM Publishing.

Berikut dua puisi yang saya sertakan dalam buku DUA MENIT SATU DETIK.




RINDU YANG MENJADI ABU



Waktu kecil aku sering menggerutu. Pada ayah maupun ibu
“Kapan aku punya adik baru?”
Seperti teman-saudara yang sering berjibaku. Tentang kue, mainan, baju, dan buku
Dengan adik kecil berwajah lucu

Sembilan sembilan. Aku ingat tahun itu
Saat perut ibu membesar dan bergerak-gerak.
“Adik sedang menendang,” begitu kata ibu
Oh! Betapa senangnya aku
Akan ada teman untuk berebut kue, mainan, baju, dan buku

Sembilan sembilan. Aku ingat tahun itu
Saat ibu guru mendatangiku yang asyik belajar dibangku
“Adik sedang sakit,” begitu kata bu guru
Aku segera berlari. Menyongsong bapak yang sudah berdiri
Di depan gerbang sekolah dengan wajah yang tak bisa aku mengerti

Sembilan sembilan. Aku ingat tahun itu
Saat kakiku lemas melihat adik. Tidur lelap
Tanpa ada lagi degup jantung memburu

Sembilan sembilan. Seratus kurang satu
Cintaku hilang. Terbawa adik yang selalu dirindu




 Sukapura, 2015







PUNGGUNG AYAH



Tahun berganti, usiaku semakin menepi. Menjejak fase
Balita, anak, remaja, dewasa hingga
Menjadi orang tua. Bagi dua balita
Yang kau panggil dengan sebutan cucu

Tahun berganti, aku tetap menyukai pagi. Saat motor tua
Membawa pergi. Menuju sekolah dengan berbonceng rapi
Duduk mendengarkan cerita yang kau nyalakan tiap hari. Di balik punggung
tempatku bersandar kala tidur semalam
Tak bisa nyenyak untuk bermimpi

Tahun berganti, aku masih terngiang mengenang. Cerita pagi
Dari balik punggung. Ingin aku mendengarnya kembali
Dari balik punggung. Raut wajah menua yang kini tertidur memeluk mimpi
Dari balik punggung. Aku menanti




Sukapura, 2015


Artikel Terkait
123456789101112131415