Custom Search

2015-10-15

AMPLOP KOSONG


Seperti biasa, lebaran tahun ini keluargaku dan keluarga om berkunjung ke tempat simbah. Tepat hari ketiga lebaran, kami yang terdiri atas aku, mama, papa, om, tante, dua adik, dan keponakanku berangkat ke tempat simbah. Simbah tinggal di sebuah desa dataran tinggi yang berjarak 2 jam perjalanan dari rumah kami. Di sana simbah menetap bersama keluarga besarku. Ya, hanya keluargaku dan keluarga om yang tidak menetap bersama disana. Sehingga, setiap lebaran tiba, kami selalu bersama-sama bersilaturrahmi ke tempat simbah dan keluarga besar disana.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, aku memberikan sedikit rejeki pada simbah. Begitu juga dengan mama, tante, dan adikku. Totalnya, simbah mendapat empat angpao dari kami. Angpao dalam amplop itu simbah letakkan di tempat simpanan favoritnya, bawah kasur. Kami pun mewanti-wanti simbah agar menjaga amplop tersebut, jangan sampai hilang.
 
Sumber : s.kaskus.id
Dua hari setelah kunjungan kami ke simbah, tante yang tinggal bersama nenek menelpon mama. Tante menanyakan jumlah nominal uang yang berada dalam amplop simbah. Setelah mama menjelaskan, tante bercerita bahwa uang dalam amplop tersebut raib.

Dua hari yang lalu, saat kami dalam perjalan pulang ke rumah, simbah membuka keempat amplop dari kami, dan menemukan amplop dari mamaku kosong. Simbah kemudian meminta tolong tante Ida untuk menanyakan nominal uang yang berada dalam amplop. Karena itu, tante menelpon mama. 

Mendengar cerita tersebut, sontak mamaku terkejut. Dan meminta tolong tante Ida untuk mencarikan kembali uang yang ada dalam amplop. Sebab, mungkin saja simbah lupa meletakkan isi amplop di tempat lain.

Telepon tante Ida membuat mama panik dan mulai berpikir macam-macam. Salah satunya adalah pencuri. Hm, mungkin saja ada orang lain yang masuk kamar simbah kemudian mengambil uang dalam amplop itu. Toh, simbah tidak pernah mengunci kamarnya. Apalagi sebelumnya, pernah kejadian mama kehilangan uang dari dalam tas ketika berada di rumah simbah. Padahal tas itu berada di dalam kamar yang tertutup. Hm!

Beberapa jam kemudian tante Ida kembali menelpon. Tante mengabarkan bahwa pencariannya sia-sia. Uang dalam amplop simbah yang diberi mama tidak ada. Siapa yang berani mengambil uang simbah? Pertanyyan ini membuat mama mulai mengidentifikasi satu persatu orang yang sering keluar masuk rumah simbah. Bisa jadi, salah seorang dari mereka adalah pelakunya. Namun, mama tetap mewanti-wanti tante Ida untuk tidak mencurigai siapapun. ”Salam buat simbah, uangnya akan diganti,” begitu pesan mama kepada tante Ida. 

Malam harinya, mama bercerita kisah tentang uang simbah yang hilang itu kepada aku dan papa. “Kasihan simbah, mungkin uangnya akan digunakan untuk sesuatu,” ujarku membayangkan wajah simbah yang sedih karena uangnya hilang. 

Tiba-tiba mama beranjak berdiri dan masuk kamar. Beberapa menit berlalu, mama muncul di pintu kamar sambil tertawa-tawa. Ditangan kanannya terselip selembar amplop putih. 

“Apa...?” aku mulai berpikir.

“Tadi tante Ida cerita, om Supri suaminya mengatakan tidak mungkin bude memberikan amplop kosong sama simbah. Mama tiba-tiba ingat kalau amplop itu ada dua di lemari. Makanya tadi mama tergesa-gesa masuk kamar untuk melihat. Setelah mama lihat, ternyata amplop ini ada uangnya,” mama mengacungkan amplop di tangan kananya.

“Jadi....” aku dan papa bersamaan menebak.

“Mama memberikan amplop kosong buat simbah,” jawab mama tanpa bisa menahan tawa.

Oalah... mama... mama... kami pun terbahak-bahak bertiga. Mana mama sudah mencurigai orang lain yang mengambil. Tahunya, si mama yang lupa mengecek amplop yang diberikan. Segera mama menelpon tante dan mengabarkan amplop yang asli masih ada, karena yang diberikan buat simbah adalah amplop kosong. Hahaha....


 
Artikel Terkait
123456789101112131415