Custom Search

2013-12-09

REVIEWKU TENTANG FILM 99 CAHAYA DI LANGIT EROPA


Akhirnya setelah menunggu beberapa waktu, aku bisa menonton film 99 Cahaya di Langit Eropa. Sebuah film adaptasi dari novel Hanum dan Rangga dengan judul yang sama, 99 Cahaya di Langit Eropa. Mau tahu reviewku tentang film 99 Cahaya di Langit Eropa? Baca aja lanjutan tulisan ini.
Sumber: indosinema.com


Sumber: klimg.com
Sebenarnya alasan utamaku menonton film ini adalah kilas jejak sejarahnya. Seperti yang dikisahkan dalam novel (Resensi novel 99 Cahaya di Langit Eropa bisa dibaca disini). Beberapa tempat sejarah yang ditampilkan dalam novel, benar-benar membuatku ingin melihat dengan mata kepala sendiri. Sayangnya tempat-tempat itu berada di Eropa. Sangat jauh dan belum dapat terjangkau. Sehingga cara yang memungkinkan melihat keajaiban peninggalan sejarah yang diceritakan dalam novel hanya dengan menonton filmnya. Apalagi pemberitaan menyebutkan syuting film 99 Cahaya di Langit Eropa di tempat aslinya, alias negara Eropa. 

Sumber: detik.com
Lalu apakah keinginanku terwujud hanya dengan menonton film? Menurutku iya. Film 99 Cahaya di Langit Eropa banyak memberikan gambaran sejarah peninggalan sejarah Islam. Walaupun tidak semua tapi setidaknya aku bisa menikmati tempat-tempat yang dikisahkan dalam novel. Seperti sungai Donau atau Danube, bukit Kahlenberg, restoran Deewan (terkenal dengan slogan makan sepuasnya, makan seikhlasnya), gereja St. Charles (memiliki atap berbentuk kubah), museum kota Wina, Boulevard Saint Michel, museum Louvre, Arc de Triomphe du Carrousel (monumen berbentuk pintu gerbang), dan tentu saja si cantik Eiffel. Takjub deh dengan semua setting tempat dalam film ini.

Lalu kisah ceritanya? Biasa saja. Terkesan datar. Tidak ada hal menarik yang membuatku berdebar menunggu detik demi detik hingga film ini berakhir. Selain hanya keinginan melihat tempat-tempat bersejarah. Beberapa adegan dialog juga terlihat dibuat lama untuk menyuguhkan setting tempat. Selain juga kekerasan suara yang terkadang berbeda. Maklum beberapa tempat seperti museum tidak diperkenankan ada suara sehingga dialog dibuat dubbing. Katanya sih, hehehe.    
Sumber: sonwill.com

Kualitas akting? Cukup bagus. Walaupun ada beberapa adegan yang tidak cukup membuat terhanyut dalam film. Lagi-lagi terkesan datar.

Secara keseluruhan film ini cukup menarik. Pesan-pesan yang disampaikan dalam film tentang bagaimana kehidupan muslim di Eropa juga patut diacungi jempol. Tidak terkesan menggurui. Sebagaimana yang dikisahkan dalam novel. Untuk penggemar dokumentasi tempat-tempat sejarah, tidak ada salahnya menonton film ini. Dijamin melongo deh. Hihihi.


Sekian reviewku tentang film 99 Cahaya di Langit Eropa, sampai jumpa direview yang lain. Oh ya, bocoran dikit. Masih ada sekuel dua lho untuk film 99 Cahaya di Langit Eropa. Tentu dengan setting tempat di Cordoba dan Turki.


Artikel Terkait
123456789101112131415