Custom Search

2012-07-13

JANJI KENNY


Bruuuk!
“Aaaargh!” Kenny menjerit pelan. Ban sepeda yang dikendarainya tergelincir karena terantuk batu. Membuat Kenny jatuh terduduk di tepi jalan, dengan sepeda menindih kaki kirinya. Jalanan sedang sepi. Tidak ada seorang pun yang lewat untuk dimintai tolong. Akhirnya dengan wajah meringis, Kenny berusaha bangun.
Kenny memeriksa sekujur tubuhnya, ternyata tidak ada luka. Hanya goresan kecil pada telapak tangan kiri. Kenny bernapas lega. Ia melanjutkan kembali perjalanan pulang.


Ibu sedang menyiapkan makan siang waktu Kenny tiba di rumah. Mencium wangi masakan ibu, air liur Kenny menetes. Tanpa disuruh, Kenny segera berganti pakaian dan duduk di meja makan.
“Rupanya anak ibu sedang kelaparan,” goda ibu pada Kenny.
Kenny hanya tertawa dan mulai menyantap sepiring nasi yang disodorkan ibu. Sekilas Kenny melirik pada telapak tangan kirinya yang berhias goresan luka. “Sebaiknya aku tidak memberitahukan pada ibu. Nanti ayah marah dan melarangku membawa sepeda ke sekolah,” pikir Kenny.
Dua minggu yang lalu, ayah membelikan Kenny sepeda baru. Sebagai hadiah ulang tahun Kenny yang ke-8. Sepeda berwarna merah dengan motif garis-garis putih pada rangka besinya. Sangat indah. Dengan sepeda baru itu, Kenny berkeliling komplek. Semua teman-temannya kagum pada sepeda Kenny.
Kenny pun berniat memperlihatkan sepeda barunya pada teman-teman di sekolah, tapi ayah melarang. Sebab jalan ke sekolah Kenny sangat ramai dan beberapa badan jalan berlubang. Kenny pun tidak putus asa merayu ayah, sehingga tadi pagi ayah memperbolehkan Kenny menaiki sepeda ke sekolah. Tentu saja dengan syarat, Kenny harus berhati-hati mengendarai sepeda. Oleh karena itu, Kenny tidak berani memberitahukan peristiwa jatuhnya dari sepeda pada ibu.
Setelah makan, Kenny membereskan meja makan kemudian bergegas ke kamar. Ia menyiapkan buku pelajaran untuk besok kemudian tidur siang sebab nanti sore ia harus berlatih sepak bola.
Jam menunjukkan pukul tiga sore. Ibu membangunkan Kenny untuk bersiap-siap ke lapangan. Dengan menggeliat, Kenny mengucek-ngucek matanya. Ia beranjak turun dari ranjang.
“Uuuh,” Kenny menjerit pelan. Ia memandang kaki kirinya. Tidak ada luka. Tapi terasa sakit waktu digerakkan. Ia goyangkan kaki kirinya sekali lagi.
“Sekarang tidak sakit,” ujar Kenny pelan. “Ah, tidak apa-apa,” Kenny melangkah menuju kamar mandi. Setelah mandi, ia bersiap-siap dan berpamitan pada ibu.
“Hati-hati, Kenny.”
“Baik, bu,” Kenny menuju samping rumah untuk mengambil sepeda. Diperjalanan menuju lapangan, kaki kirinya kembali terasa sakit. Kenny tidak menghiraukan. Ia mengayuh sepedanya lebih cepat, agar tiba di lapangan tepat waktu.
Teman-temannya sudah banyak datang dan berkumpul ditengah lapangan. Kenny memarkir sepeda di bawah pohon mangga, pinggir lapangan. Kemudian berlari bergabung dengan teman-temannya. Sebelum berlatih bola, pak Garo meminta anak-anak untuk berlari keliling lapangan dua putaran.
Pada putaran pertama, Kenny masih bisa menahan rasa sakit di kaki kirinya. Tapi pada putaran kedua, ia sudah tidak tahan lagi. Kenny berhenti setelah mencapai setengah putaran kedua. Pak Garo menghampiri Kenny yang duduk meringis kesakitan, memegang kaki kirinya.
“Apa kakimu sakit?” pak Garo berjongkok di depan Kenny. Kenny hanya mengangguk. Pak Garo memeriksa kaki kiri Kenny.
“Argh,” Kenny menjerit kecil akibat sentuhan pak Garo.
“Sepertinya kakimu terkilir, kamu tadi terjatuh?” tanya pak Garo penuh selidik.
Dengan takut-takut Kenny mengangguk. “Tadi sepulang sekolah, saya jatuh dari sepeda, pak.”
“Pasti itu yang membuat kakimu terkilir. Sebaiknya untuk hari ini kamu tidak berlatih. Bapak antar kamu pulang. Sepedamu biar Andi nanti yang mengantar. Ayo!” Pak Garo membangunkan Kenny dan memapahnya ke tempat parkir.
Sesampai di rumah, ibu terkejut melihat kedatangan pak Garo yang membonceng Kenny. Ayah yang baru pulang kerja, langsung menghampiri Kenny. Pak Garo menjelaskan alasannya mengantar Kenny pulang. Ayah dan ibu mengucapkan terima kasih pada pak Garo yang langsung kembali ke lapangan untuk melatih bermain bola.
Ayah menggendong Kenny ke kamar. Membaringkannya di ranjang.
“Kenapa Kenny tidak memberi tahu kalau jatuh?” tanya ibu pelan sambil melepaskan sepatu Kenny. Kenny hanya meringis.
“Kenny takut ayah marah dan melarang membawa sepeda ke sekolah,” jawab Kenny takut, tak berani menatap wajah ibu dan ayah.
“Mulai sekarang, ayah melarang Kenny membawa sepeda lagi kesekolah,” kata ayah tegas. Kenny menunduk sedih. “Sampai kaki Kenny sembuh seperti sediakala,” ayah melanjutkan perkataannya. Kenny menatap wajah ayah.
“Kalau sudah sembuh, Kenny boleh membawa sepeda ke sekolah. Tapi lain kali Kenny harus berhati-hati dan memberitahukan kalau jatuh,” jelas ibu.
Kenny bangun dan memeluk ayah yang berdiri di samping tempat tidur. “Terima kasih, ayah. Kenny janji lain kali akan lebih berhati-hati.”
“Kenny juga harus belajar bertanggung jawab. Berani memberitahukan kalau berbuat kesalahan, berani meminta maaf dan tidak mengulangi perbuatannya,” ucap ibu tersenyum di samping Kenny. Kenny mengangguk dan memeluk ibu senang.
“Terima kasih, bu. Kenny juga janji akan belajar bertanggung jawab.”       




BT, 040512

Artikel Terkait
123456789101112131415