Custom Search

2012-06-13

ANDAIKAN SAYA SEORANG GURU


     JUDUL di atas menimbulkan pertanyaan,siapakah guru itu ? Dalam konteks pendidikan khususnya sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan formal, guru adalah pendidik di sekolah yang secara langsung maupun tidak langsung mendapat tugas dari orang tua atau masyarakat untuk melaksanakan pendidikan. Pendidikan mempunyai banyak definisi, salah satu diantaranya adalah definisi dari Ki Hajar Dewantara yaitu panggulowenthah yang mengandung makna momong, among, ngemong. Among (mengembangkan kodrat alam anak dengan tuntunan agar anak didik dapat mengembangkan   hidup batin menjadi subur dan selamat), momong (mengamat-amati anak agar dapat tumbuh menurut kodratnya), ngemong (kita harus mengikuti apa yang ingin diusahakan anak sendiri dan memberi bantuan pada saat anak membutuhkan).

Tugas guru sebagai pendidik adalah menanamkan sistem-sistem norma tingkah laku  perbuatan yang didasarkan kepada dasar-dasar filsafat yang di junjung oleh lembaga pendidikan dan pendidik dalam suatu masyarakat (Syafullah,1981). Dalam tugas ini guru dibantu oleh orang tua sebagai pendidik dalam keluarga dan pemimpin masyarakat maupun pemimpin agama sebagai pendidik dalam masyarakat. Hal ini dilakukan karena terbatasnya waktu peserta didik di sekolah sebagai sarana guru dalam menjalankan tugasnya.
Peserta didik tidak hanya terdiri dari anak-anak usia sekolah, namun bisa juga orang dewasa sehingga guru harus tahu bagaimana ia harus mendidik yang terkait juga dengan pesrta didik sebagai makhluk individu, sosial, susila, dan religius. Sebagai makhluk individu peserta didik diberikan  kebebasan untuk mengembangkan  potensinya tanpa ada paksaan dari orang lain. Disini guru menjadi fasilitator bagaimana peserta didik dapat memaksimalkan potensi yang dimilikinya. Berbeda dengan makhluk individu yang mempunyai kebebasan maka peserta didik sebagai sebagai makhluk sosial sangat membutuhkan bantuan dari seorang guru untuk membimbing, mengajari serta menanamkan norma-norma yang berlaku di masyarakat dan kepercayaan terhadap Tuhan Sang Pencipta yang merujuk kepada peserta didik sebagai makhluk susila  dan makhluk religius.
Terdapat beberapa metode yang dapat dilakukan dalam mendidik yaitu metode diktatorial, metode liberal dan metode demokratis (Suwarno,1981). Metode diktatorial bersumber dari teori empiris yang menyatakan bahwa perkembangan manusia semata-mata ditentukan oleh faktor di luar manusia, sehingga pendidikan bersifat maha kuasa yang menyebabkan pendidik untuk menentukan segalanya. Metode liberal bersumber dari teori nativisme yang berpendapat bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh faktor hereditas atau kodrat pada diri manusia. Pandangan ini menimbulkan sikap bahwa pendidik jangan terlalu banyak ikut campur terhadap perkembangan peserta didik. Biarkan dia berkembang sesuai dengan kodratnya secara bebas atau liberal. Metode demokratis bersumber dari teori konvergensi yang menyatakan bahwa perkembangan manusia itu tergantung pada faktor dari dalam dan luar. Di dalam perkembangan peserta didik, pendidik tidak boleh menguasainya tetapi harus bersifat membimbing perkembangannya seperti asas pendidikan yang dicetuskan Ki Hajar Dewantara yaitu tut wuri handayani, ing madya mangunkarsa, ing ngarsa sung tuladha, artinya pendidik itu kadang-kadang mengikuti dari belakang, kadang-kadang harus di tengah berdampingan dengan peserta didik dan kadang-kadang harus di depan memberi tauladan.
Metode demokrasi merupakan metode yang baik untuk digunakan dalam proses mendidik dibandingkan dengan dua metode lainnya. Karena bagaimanapun tingginya tingkat kecerdasan peserta didik tanpa adanya proses pendidikan yang baik maka tidak menghasilkan hasil yang maksimal, begitu juga sebaliknya proses pendidikan yang baik tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal tanpa di dukung oleh kecerdasan peserta didik.
Guru yang mempunyai tugas mendidik di sekolah, tidak hanya mempunyai peserta didik namun banyak peserta didik dengan tingkat kecerdasan dan potensi yang berbeda. Untuk menangani hal tersebut guru dapat menggunakan cara penyampaian yang berbeda-beda pada tiap peserta didik sesuai dengan kemampuannya serta memotivasi setiap peserta didik untuk mengembangkan bakat yang dimilikinya dengan memberi pujian, hadiah dan kesempatan untuk tampil di depan orang lain. Cara penyampaian pada tiap pertemuan pun diusahakan tidak sama agar para peserta didik tidak merasa jenuh dan bosan dengan kemonotonan cara penyampaian guru. Dengan cara seperti itu diharapkan setiap peserta didik  akan mendapatkan hasil yang maksimal.
Uraian di atas merupakan pemahaman saya tentang guru dan tugas-tugasnya sebagai pendidik. Seandainya saya seorang guru maka saya akan melakukan apa yang telah saya uraikan. Terlebih lagi di Indonesia  yang notabene masyarakatnya berbeda baik dari segi kultur budaya, agama maupun status sosialnya sehingga metode pendidikan demokratis dan cara penyampaian yang berbeda-beda menurut saya sangat membantu keberhasilan peserta didik dalam menempuh pendidika di lembaga pendidikan formal.


                                                                                                                    --2006--
Artikel Terkait
123456789101112131415