Custom Search

2012-02-05

LAKI-LAKI DAN PASAR



Setiap hari aku melewati pasar tradisional. Setiap hari pula aku melihat barisan laki-laki berderet di sepanjang jalan dan pintu pasar. Dari yang berusia remaja, bapak-bapak hingga kakek-kakek. Sebagian dari mereka duduk mencangkung sambil merokok. Ada juga yang mengobrol dengan laki-laki di sebelahnya. Tak jarang pula celingukan mengawasi setiap sudut pintu pasar, mencari perempuan yang diboncengnya.

Sumber : dprd.surabaya.go.id
Berbeda dengan suasana di dalam pasar. Setiap mata melihat, pantulan bayangan yang didapatkan hanya kaum hawa. Hampir tidak ada laki-laki kecuali yang berstatus sebagai penjual atau petugas pasar.


Namun ada satu laki-laki yang kemudian membuatku heran. Laki-laki yang celingukan di pasar bukan untuk mencari wanita yang diboncengnya melainkan mencari barang-barang yang ada dalam daftar belanjanya. Laki-laki yang tidak riskan jika harus menjinjing tas belanja dan melakukan tawar-menawar untuk mendapatkan harga terbaik. Laki-laki yang kemudian asyik memilih dan memilah ikan untuk dibelinya.
          Laki-laki ini juga tak keberatan mengobrak abrik dapur untuk memasak. Berkreasi dengan beberapa bahan makanan yang masih terbengkalai. Memotong, memecah, mengiris, menggoreng, dan mengaduk masakan.

          Laki-laki ini membuatku selalu berfikir untuk membandingkannya dengan para laki-laki yang ku temui di sepanjang jalan dan pintu masuk pasar. Laki-laki berbeda. Laki-laki yang mengajarkan bahwa pasar bukan hanya untuk kaum hawa. Memasak dan dapur tidak khusus dibangun untuk istana perempuan. Laki-laki yang kemudian hari, ku kenal dengan nama “Ayah”.
Artikel Terkait
123456789101112131415