Custom Search

2008-12-25

KOMIK FISIKA MATERI BUNYI


Menurut sebagian orang tua, guru dan tokoh pendidikan komik bernilai negatif, bahkan mayoritas sekolah melarang siswa untuk membawa dan membaca komik. Padahal komik adalah salah satu media komunikasi yang efektif bagi anak. Dengan komik anak menjadi mudah termotivasi belajar, konsep-konsep yang abstrak dapat disederhanakan, dan prinsip-prinsip dapat secara langsung diterapkan.

123456789101112131415

2008-12-18

SAMA

lagi,
sama seperti sebelumnya
sama seperti dulu
sama seperti waktu aku sekolah
sama seperti waktu aku kuliah
tetap sama...
tidak berubah...
selalu molor...


Kraksaan, 101208, 08.05
123456789101112131415

APA NAMANYA?

apa namanya saat mata melihat benda melewati titik tak hingga
apa namanya saat telinga mendengar di luar batas audiosonik
apa namanya saat jantung berdetak lebih keras,
lebih cepat
apa namanya saat jari tak lagi mampu menulis aliran pikiran
apa namanya saat raga melepas jiwa melanglang
apa namanya?


BT, 061208, 00.37
123456789101112131415

AKAR DAN BUAH

menjadi buah bukan pilihanku
berayun-ayun dihembus angin
terlalu rapuh, jatuhlah ke tanah
terlalu matang, mendekatlah burung malam
terlalu muda, sabarlah menunggu waktu untuk masuk keranjang
lebih suka ku menjadi akar
tersembunyi tapi punya arti
menanggung hidup daun dan batang
cuma akar bukan buah


BT, 041208, 21:26
123456789101112131415

2008-11-28

ILALANG

detak
degup
debar
saling melaju
berburu barat menuju timur
selatan utara ikut berbaur
arah-arah tercampur
melukis abstraksi dermaga
kelabu
berujung hitam
gelap
pekat
di mana terang hanya harapan ilalang
juntai beringin yang tertiup angin topan


Gading, 211108,07.49 PM
123456789101112131415

2008-11-12

PENAT

Di antara dua kelokan aku terbahak
cemburui jalan yang menelantarkan
pikirku tak matang
kemudi berpindah haluan
kanan kiri sulit tertebak lagi

dua kelokan ini memanggut lelah
menawarkan kepenatan
menghembus sebait nafas-nafas
lalu
kemanakah diri kini ku bawa lari?


Malang,121108,17.00 wib
123456789101112131415

2008-11-05

MUSIM PANAS

Daun ini kering tanpa tanya
tanpa tahu
tanpa keengganan untuk terjatuh
yang menguningkan tanah

dijejali sejumput rumput-rumput
menengadahkan serat tuanya
kadang tertumpuk
kadang sendiri
tapi tak pernah peduli
menari-nari dilingkaran api membumi


Paiton,011108, 4:15 PM
123456789101112131415

POTRET

Meniduri perjalanan lalu
melengkungkan mentari ke dalam hulu
mengurai-ngurai pita kejadian,
dan ruahlah mutiara bening
mengecpa manis sisa madu peristiwa
namun keasaman telah melumuri
timbullah pahit disekelilingnya
setapak menghitam menelan gemintang bintang

Tak elok mengikat diri pada masa lalu
tetapi percikan madunya membentangkan pasak kokoh masa kini
yang berdiri tegap menantang sang peristiwa
yang menancap erat mewadahi seluruh rupa

Berlatar panggung lalu pula
goresan terajut, memantulkan ukiran dalam lukisan datang
bergandeng melewati jembatan waktu
terus merajut, satu demi satu, helai dan lembar
berpelita luka yang terlupa, janji yang bergema
tapi tak ada lelah
tak ada kesah
sebab disanalah jiwa terderma



Malang, 200908
123456789101112131415

2008-10-29

SEBELUM KAMU

Beranjaklah, dari berdirimu
dimana kau injak bumi ke"aku"an
jangan berlari!
beranjak saja
leburkan pada bayang matahari yang mengikuti

Penakan "aku"mu
dan gariskan kemana beranjakmu berdiri
di muka wajahmu
di belakang punggungmu
di atas rambutmu
di bawah telapak kakimu
di sekeliling putaran "aku"mu


Paiton, 261008, 16:01
123456789101112131415

KEBEBASAN

Kini menguaplah gema kebebasan
meliuk mencari mangsa
menabur jilatan pada rumah-rumah pencari ular
sebab disanalah jurang jawaban setelah pendakian melewati puncak pengibaran

Pasuruan, 261008
123456789101112131415

2008-09-21

TELUR AYAM SEBAGAI SUMBER IMUNOTERAPI

"Memanfaatkan telur ayam sebagai imunoterapi akan memudahkan proses vaksinasi"

Seorang ahli imunologi pernah berpendapat bahwa vaksinasi adalah suatu program yang sangat tidak manusiawi. Melalui program ini, orang dipaksa untuk membentuk suatu sistem pertahanan spesifik dengan efek samping meriang dan tidak enak badan untuk suatu penyakit yang belum tentu orang tersebut akan tertular. Belum lagi teknik vaksinasi dengan injeksi, yang memberikan pengalaman kurang menyenangkan, terutama bagi anak-anak. Oleh karena itu diperlukan suatu metoda untuk mengatasi penyakit infeksi berbahaya dengan cara yang lebih manusiawi dan menyenangkan. Dengan begitu, tindakan preventif dan medikasi dapat lebih fokus dan terarah.

123456789101112131415

MENYIASATI SAMPAH ELEKTRONIK DENGAN PROGRAM EXTENDED PRODUCER RESPONSIBILITY

Program EXTENDED PRODUCER RESPONSIBILITY adalah salah satu usaha untuk meminimalisir dampak sampah elektronik dengan efektif

program extended producer
Sumber : beritateknologi.com

Barang-barang elektronik seperti komputer, telepon genggam, tape recorder, VCD player, dan televisi bukanlah benda yang asing lagi. Barang-barang elektronik tersebut bukan hanya akrab di kalangan penduduk kota, tetapi juga telah dikenal dengan baik oleh masyarakat yang tinggal di pelosok desa sekalipun. Bahkan, bagi sebagian orang, barang tersebut merupakan kebutuhan vital yang harus terpenuhi seperti layaknya sembako. Kebutuhan akan layanan informasi dan pengolahan data telah menempatkan barang-barang elektronik menjadi kebutuhan hidup sehari-hari.

Seperti layaknya barang-barang lainnya, setelah masa tertentu, produk-produk elektronik itu tentu saja menjadi benda yang tidak dipakai lagi karena sudah ada penggantinya dalam versi terbaru atau karena rusak. Jika sudah demikian, barang-barang tersebut menjadi rongsokan elektronik atau sampah yang biasanya mengokupasi sudut- sudut ruang kerja dan gudang di rumah atau kantor. Pembuangan sampah elektronik mengalami kesulitan karena tidak semua tukang servis atau pemulung mau menerima rongsokan yang sudah kedaluwarsa dan tidak ada lagi pasarnya.

123456789101112131415

BUDAYA “LATAH” MASYARAKAT INDONESIA

Siapa yang tidak kenal kata korupsi di Indonesia. Kata korupsi familiar di telinga kita sejak orde reformasi. Baru-baru ini kata korupsi semakin membooming, terlebih lagi dengan adanya issue hukuman mati bagi koruptor. Koruptor adalah pelaku korupsi dan selayaknya dihukum mati. Dalam penjelasan pasal 2 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi disebutkan, apabila negara sedang berada dalam keadaan bencana alam nasional, atau dalam keadaan perang, atau dalam keadaan krisis maka perbuatan tindak pidana korupsi dapat dijatuhi hukuman mati.

 Lalu pantaskah jika koruptor di jatuhi hukuman mati saat ini?

123456789101112131415

2008-06-30

PESAN

Kau di tunggu di mulut fajar
Jangan lagi menutup selimut mengejar kabut
Mereka meluruh untuk membiarkanmu berbaring di altarnya



Malang, 260608,03:18
Falkhi
123456789101112131415

PERANG KATA

Aku percaya kata adalah senjata
Senjata maut yang perlu waktu untuk menyelaminya

Dan kini aku sedang bergerilya dengannya
Tanpa membawa apa-apa
Hingga otakku remuk diserbu raungannya

Malang, 250608, 16:00
Falkhi
123456789101112131415

ANTOLOGI 14

Ada parang, pisau, batu, kayu...
Lempar saja!
Lebih bermanfaatkan?

Malang, 220608, 20:43
Falkhi


Aku...cemburu
Melihatmu bermesraan bersama tuan
Setiap waktu
Saat ku terlelap di ranjang batu

Malang, 220608, 20:56
Falkhi

123456789101112131415

WAKTU SENJA

Aku sedang di bumi mahasiswa
Memunguti puing hati yang pernah tertinggal
Membenamkan kerinduan akan kepenatan
Menyusuri setapak idealisme perjuangan

Malang, 200608, 21:31
Falkhi
123456789101112131415

ANTOLOGI 13

Terasa air menyapa wajah
Memeluk erat epidermis kulit
Tak mau lepas...
Mungkin hari ini air sedang ceria
Enggan bersembunyi
Melukis senyum pada udara
Menantang surya merengkuh tubuhnya...
Tertawa ia pada semesta
Pada kandung yang melahirkan
Beberapa saat....

Malang, 190608, 19:06
Falkhi

123456789101112131415

SEKEDARNYA SAJA

Sekedarnya saja
Andai surga hanya cerita, adakah kau tetap menjunjung pahala?
Atau kau lebih suka mencumbu berhala?

Berhala yang menyembah Tuannya
Menyanyikan lagu di serat-serat tubuhnya
Melindungi diri dengan menjaga semesta

Berhalamu tak mau surga
Apalagi menghuni neraka
Hanya bersimpuh ia pada Tuannya
Memohon do’a agar hidupnya tak sia-sia

Malang, 180608, 21:09
Falkhi
123456789101112131415

ANTOLOGI 12

Secangkir kopi memanggil lidah beku
Penghulu pengantin saling mengadu
Kondenya menjelma sepatu

Secangkir susu bermandi madu
Lebahnya mendengung mencari ratu
Menyisir batu di lereng semeru

Panas, gerah, lelah..
Cukup!
Buang saja kopi susu madumu
Enyahkan saja penghulu pengantin lebah ratu itu
Cukup, semeru memangku tubuhku

Malang, 170608, 08:27
Falkhi

123456789101112131415

ANTOLOGI 11

Sejenak
Melambai pada layar yang terus menyala
Gunungan kertas masih menggandeng sukma
Melarang langkah meninggalkan tanda

Di pucuk mentari esok janji terjaga
Memaksa energi terus menyala
Meniadakan mata pada muara
Sejenak,
Tersenyum menunggu tawa
Berlari mengejar tanda
Dalam panel berbingkai warna muda

Malang, 150608, 21:46
Falkhi


123456789101112131415

ANTOLOGI 10

Dibalik cara beta membara
Pinus cemara berduka lara
Menunggu Surabaya
Berdiam Jakarta
Yogya terus bertahta
Burung garuda menelan pusarnya
Janji pejuang
Janji perwira
Tentara tak rupa-rupa
Mata beta kini berganti muka
Menelan bunda di dalam dada

Malang, 140608, 11:50
Falkhi



123456789101112131415

BINCANG 3

Apa yang kau dapat dari prasangka?
Adakah selain penutup mata?
Apa yang dibawa keinginan?
Adakah selain pemberat kaki?
Lalu apa yang dilakukan kesombongan?
Tentunya selain melubangi jalan
Semua aturan kau langgar?
Rasakan kangen akan melanggar!
Jika kau kaburkan aturan
Tiada hak mengadu jika dilanggar

Malang, 13 Juni 2008, 06:39
Panggil aku I’in


123456789101112131415

ANTOLOGI THO 14

Pendeta bercerita
Dia kecewa
Dia katakan
Wajar bercita-cita
Tapi bedakan khayalan dan kenyataan
Biarkan sulap tetap menjadi hiburan
Tinggalkan mati-matian membela kesalahan
Minyak air dan pupuk ajaib
Tidak mungkin lagi
Andai ketegasan berdiri
Tutup celah penipu
Belajarlah walau berlalu

Malang, 12 Juni 2008, 08:40
Panggil aku I’in



Semua permintaan
Tak satupun kupenuhi
Satupun tak terlewat
Jika aku menawarkan
Pilu yang menggelikan
Harus kusemak lebih banyak
Aku jijik tewas di semak


Malang, 12 Juni 2008, 10:22
Panggil aku I’in



Tiru mereka berguguran
Mati luhur
Hindari berjatuhan
Apalagi tiada terkubur
Jiplak mereka
Memancarkan warna ketenangan
Tak melupakan alur
Pangkas kelalaian
Jangan ngawur lantas tersungkur
Sesekali cermati mereka berusaha
Hayati yang mereka hempas
Perhatian tak selalu terbungkus pertunjukan


Malang, 12 Juni 2008, 22:49
Panggil aku I’in

123456789101112131415

2008-06-22

BINCANG 2

Sebentar lagi jam kerja berdering
Para pengendara serentak menyelipkan SIM
Setiap sisi jalan disesaki rambu
Lampu merah menyala
Jiwa pemberontak menerobos
Giliran kuning
Pedagang asongan menyingkir
Beralih ke hijau
Satu-satu berjalan
Kabut asap menyebar
Mengganggu penglihatan
Kecelakaan bermunculan

Malang, 10 Juni 2008, 21:44
Panggil aku I’in

123456789101112131415

2008-06-11

ANTOLOGI THO 13

Terlalu sulit tak bisa ku mengerti
Terlalu mudah buat apa ku pahami
Terserah,
Mereka beri apa lagi
Asal bukan pasung hati

Malang, 09 Juni 2008, 09:48
Panggil aku I’in

123456789101112131415

BINCANG 1

Jangan lakukan di depan mereka
Memejamkan mata bahwa mereka meratap pada kita
Menutup telinga bahwa mereka bersuara
Membusungkan dada bahwa mereka pasrah

Malang, 08 Juni 2008, 12:13
Panggil aku I’in

Sebab karena mereka kita akan menjadi padi
Karena mereka kita akan menjadi mawar
Dan karena mereka kita akan menjadi lampu

Malang, 080608 12:22
Falkhi

123456789101112131415

ANTOLOGI 9

Hidup adalah tanda Tanya
Menuntut kita berjalan lurus, berbelok ataupun menetap pada satu titik
Hidup adalah anugerah
bukan pilihan
didalamnya ada berbagai permainan keikhlasan
hidup tidak bermuara pada kematian tapi kepada Tuhan
kepada cinta
yang bertabur cahayaNya

Karang Penang, 070608 03:07
Falkhi


Yang terpejam hanya kelopak mata
Menutup rapat datangnya dusta
Ya…hanya terpejam dan tersenyum menawan
Menatap pita kembang hari tua
Kemudian badannya tergelak
Memunculkan renyah tawa dan kisah mayanya
Tentang kata, cinta dan agama
Dalam parade genta

Sidoarjo, 070608 13:11
Falkhi

123456789101112131415

ANTOLOGI THO 12

Saat kemunculannya sangat kubenci
Melebihi kebencianku padanya
Ingatkah kau caranya menunggangi kita?
Caranya melupakan ketika duduk di gedung mahkota wanita?
Tatapannya sangat kubenci
Caranya berjabat tangan begitu kubenci
Lihatlah bentuk rambutnya
Sama seperti pemikirannya
Cobalah kenali suaranya sekali saja
Cobalah awasi gerak-geriknya sekali saja
Ingatlah satu janjinya jika sempat
Kau tahu betapa dia memenuhi tiga sifat


Karang Penang, Sampang, 06 Juni 2008, 01:20
Panggil aku I’in



Sudah kukatakan tentang pengakuan
Sekilas kupaparkan tentang keberadaan
Janganlah sampah dikatai serapah
Karena sampah bisa diubah indah

Karang Penang, Sampang, 07 Juni 2008, 19:39
Panggil aku I’in
123456789101112131415

ANTOLOGI THO 11

Datang juga kau akhirnya
Dimana kutunggu dirimu tiba
Menikmati keindahan dunia kata
Seperti biasa
Mengurai makna peristiwa dan menimbunnya
Sesaat teringat akan suatu titik temu
Disaat ketidaksengajaan membuat kita bertemu
Namun kau berkata aku yang mengajakmu kembali
Engkaupun mau saja
Bermain denganku yang tak tersentuh dogma
Bersamaku juga menikmati peran sudut pandang ketiga
Sering kulihat besarnya beda
Jika kulihat rapi langkah kaki yang kau ayunkan
Semua hilang saat ketidakpedulian menyapaku
Menyuruhku berpadu melukis waktu denganmu


Karang Penang, Sampang, 05 Juni 2008, 03:04
Panggil aku I’in

123456789101112131415

KEPERGIAN TIBA-TIBA

Darah itu tergenang
Memanggil wujud tuk segera datang
Kemudian pecah bersama tangis di awal fajar
Dan erangannya tak lagi terdengar
Hanya sekelumit senyum tergambar
Menghantar tangannya menyentuh badan

Karang Penang, 040608 23:11
Falkhi
123456789101112131415

ANTOLOGI THO 10

Dedaunan sebagai hiasan
Umpatan tiada diberikan di tengah dingin hujan malam
Di panasnya tengah hari tiada keluhan dia beri
Hanya berusaha tetap berdiri dengan kaki mencengkram bumi
Tamparan tiada kau beri
Ketika kami mengencingi tubuh dan keturunanmu
Ketika tubuhmu kami tebas sambil berjingkrak di atas kepala anakmu
Ketika kami memberimu sisa dan kotoran untuk membuatmu terangsang
Tapi seenaknya kami mengambil hasil perjuanganmu tanpa permisi
Andai saja kalian semua meninggal
Matilah kami


Karang Penang, Sampang, 03 Juni 2008, 07:09
Panggil aku I’in


123456789101112131415

ANTOLOGI THO 9

Semenjak dia berlari
Lima purnama ke depan
Terhitung empat kali kuputari matahari
Sejauh apakah telah kulangkahkan kaki?
Seluas apa pandangan mataku kini?
Belum lagi gumpalan daging itu, selapang apa dia kini?
Sudahkah luka-luka itu terobati?
Diriku
Dimanakah engkau kini?
Aku
Bagaimanakah dikau kini?
Tak terlihatkah olehmu?
Bayangmu selalu di depan mataku
Tak terdengarkah olehmu?
Hatiku selalu memanggilmu
Tak terasakah olehmu?
Sebagian besar jiwaku selalu memelukmu
Terukir di prasasti hatiku
Akulah kamu
Dirikulah dirimu
Engkau tiada lain daripada aku
Setiap berkas cahaya matamu masih terasa hangat hingga kini
Setiap kata yang terucap darimu tertancap bagai sabda di nalarku
Setiap gerakanmu adalah panduan langkah kakiku
Engkau telah pergi
Engkaupun telah menjadi permata terindah baginya yang kausebut suami
Mungkin terlihat sisa bagi mereka
Bagiku adalah belahan jiwa dengan kilau intan permata
Jika kau kembali
Catha
Segenap jiwaku jangan lupa kau bawa serta
Semua terucap dari setitik jiwa yang tersisa
Catha


Karang Penang, Sampang, 01 Juni 2008, 17:34
Panggil aku I’in
123456789101112131415

ANTOLOGI THO 8

Jangan katakan padaku
Yang menyatakan emosinya adalah dia yang tertua
Atau dia yang menatap dengan pandangan buaya
Ataupun dia yang berada di ibukota daerah
Bukan amarah yang menghinggapiku
Tertawalah aku karena segala polah tingkah


Karang Penang, Sampang, 30 Mei 2008, 06:39
Panggil aku I’in

123456789101112131415

ANTOLOGI THO 7

Gerombolan malam terlalu kuat bagiku
Rembulan menyanyi dengan sendu
Bintang berdendang dengan merdu
Sepoi bayu menari dengan pandangan sayu
Maaf kemarin tak sempat membalas smsmu


Karang Penang, Sampang, 29 Mei 2008, 07:01
Panggil aku I’in

Terik matahari bermain di atas tanahku
Tapi sepi…
Awan tipis menggantung di langit biruku
Tapi sepi…
Dedaunan hijau berjoget di dahan pohonku
Tapi sepi!
Jarum jam meledekku
Menari berputar-putar dan berdendang
Bantal masih rebahan di ranjang tanpa berucap kata
Televisi masih membisu karena lapar


Karang Penang, Sampang, 29 Mei 2008, 15:03
Panggil aku I’in

Aku muda, masih muda
Aku tak pandai bernyanyi
Tapi aku tak mau berteman sepi
Melodi hilang di ruang ini
Waktu menari dengan sendiri
Berkata…untukmu
Tidak ada harmoni


Karang Penang, Sampang, 29 Mei 2008, 15:14
Panggil aku I’in

Aku tak ingin mati muda
Aku tak ingin mati tua
Aku tak ingin mati di pelukan seribu wanita
Aku tak ingin mati dikubur harta
Aku tak ingin mati sebagai penguasa dunia
Aku tak ingin mati tanpa dosa
Aku tak ingin mati sebagai manusia bermuka dua
Aku hanya ingin mati ketika paham dunia dan isinya


Karang Penang, Sampang, 29 Mei 2008, 15:26
Panggil aku I’in

Sedang kuhisap gulungan tembakau yang kusulut dengan api
Kujadikan senjata pembunuh sepi
Dia masih disini
Merayu
Membujukku menutup hati


Karang Penang, Sampang, 29 Mei 2008, 15:38
Panggil aku I’in


Kuceritakan para temanku kepadanya
Tentang mereka yang bermain di pertemuan lautan dan daratan
Semakin terbahak-bahak tawanya
Kemudian dia memanggil nostalgi
Disuguhkannya imaji
Akan semua luka hati
Aku hanya diam
Bukan seribu bahasa
Ataupun semua bahasa manusia
Hanya diam
Tanpa kata


Karang Penang, Sampang, 29 Mei 2008, 15:58
Panggil aku I’in

Sebentar lagi aku keluar dari ruang ini
Berdiri dan sedikit mengayuhkan kaki
Remaja di tanah ini sudah menungguku
Mengajakku berlari


Karang Penang, Sampang, 29 Mei 2008, 16:05
Panggil aku I’in

Tanah ini sudah agak berpaling dari matahari
Akupun juga tak lagi menghiraukan sepi
Waktu berbisik kepadaku untuk mengusirnya
Tak kuhiraukan
Karena sebentar lagi aku keluar dari ruang ini
Kupanggil yang lebih sepi untuk menemani sepi
Sedang aku
Berlari dan sedikit mengayuhkan kaki
Remaja ini sudah menungguku
Mengajakku sedikit berlari


Karang Penang, Sampang, 29 Mei 2008, 16:13
Panggil aku I’in

Darahku tiada lagi terhenti tersumbat sepi
Mataku tiada lagi pedih karena aura sepi
Kuduga dia bersembunyi
Namun tak kutemukan ketika kucari
Dia telah pergi karena terganti
Mungkin juga telah mati karena yang lebih sepi


Karang Penang, Sampang, 29 Mei 2008, 17:46
Panggil aku I’in


Mungkin mereka hidup demi sebuah pengakuan
Pengakuan akan keberadaan
Pengakuan akan segala kepunyaan
Sebagai empunya segala sesuatu
Sesuatu yang selalu menggoda untuk diburu
Seseorang dari mereka berkata hidup adalah perjuangan
Tanpa henti sampai nafas terhenti
Seseorang lagi berkata hidup adalah perjalanan
Perjalanan panjang dimana segala sesuatu tidak dapat dibeli dengan uang
Ada juga yang berkata segalanya membutuhkan uang
Beberapa pemikiran naïf diantara mereka mengatakan hidup untuk menunggu kematian


Karang Penang, Sampang, 29 Mei 2008, 18:07
Panggil aku I’in
Sayup kematian memanggil pilu
Pintumu masih terkunci
Matamu hanya memicing dan mengurai serapah
salamNya terus berketuk palu
pada pintumu
tapi tak ada jawaban
matamu tetap menutup diam
hingga tak sadar kau telah dibawa malaikatNya ke alam kematian

Karang Penang, 290508, 19:00
falkhi

Ketika mati telah dijemput kematian
Bayi takkan menangis di nafas pertamanya
Wanita mengacuhkan kehormatannya
Kejantanan layaknya sampah bagi pria
Raja fana menceraikan segala tahta dan wanita
Bumi memalingkan muka sepenuhnya dari bintang terdekat
Karena langit telah melepas hiasannya
Perdebatan panjang agama akan terbukti sia-sia
Kesalahan tidak bisa lagi berdiri di atas kekhilafan
Lagu tidak terdengar merdu
Hanya gaduh yang ricuh
Mereka yang tidur akan dibangunkan
Mereka yang terjaga akan tertidur dan bangun secepatnya
Dikumpulkan dan tampaklah rupa hati setiap manusia


Karang Penang, Sampang, 29 Mei 2008, 21:49
Panggil aku I’in


Mereka yang mati akan hidup untuk kedua kali
Kali ini bukan demi pencarian kebenaran
Karena tersadar ketiadaan yang selama ini berselimut keadaaan
Jalan panjang ternyata hanya bayangan
Tampak panjang karena sudut panjang
Hamba nafsu hanya bisa tertunduk dan cemburu
Ketika penunduk nafsu diselamatkan Sang Maha Guru


Karang Penang, Sampang, 29 Mei 2008, 23:19
Panggil aku I’in
123456789101112131415

ANTOLOGI THO 6

Nostalgi,
Apa yang akan kau berikan kali ini
Adakah beda?
Selain hadirmu sebagai bentuk energi
Atau seperti biasa…
Kau beri aku elegi


Karang Penang, Sampang, 26 Mei 2008, 23:35
Panggil aku I’in
123456789101112131415

ANTOLOGI THO 5

Satu jalan bercabang dua
Di sebelah kananku
Jalan menanjak yang bercadas
Di sebelah kiriku
Jalan menurun yang panas
Dari balik tanjakan itu
Telinga kananku mendengar lantunan nada bayu ilmu
Di bawah turunan itu
Telinga kiriku mendengar suara gaduh
Berebut lembaran kertas


Karang Penang, Sampang, 25 Mei 2008, 18:30
Panggil aku I’in

Kepadamu yang berdiri di atas tanah genting ini
Dengarkan lirih keluhan kami.
Tak ada kantong harta di saku kami
Hanya ada kantong ilmu yang berisi benih pengetahuan
Tak ada peti upeti di atas pundak kami
Hanya ada rasa berbakti kepada ibu pertiwi
Kami datang untuk mencabut ilalang kebodohan


Karang Penang, Sampang, 25 Mei 2008, 18:48
Panggil aku I’in


Kupetik bunga tidur itu beberapa malam yang lalu
Tidak ada wangi ketika dia merekah
Juga tak terlihat warna indah
Bunga itu berwarna hitam kelabu


Karang Penang, Sampang, 25 Mei 2008, 19:22
Panggil aku I’in

Bunga itu bercerita panjang tentang sesuatu
Sesuatu yang tak terjamah nalarku
Tentang pejuang ilmu yang di buru budak nafsu
Mereka acungkan logam tajam melengkung
Budak-budak itu memakai baju hijau
Dua mataku hanya terpana
Ketika para pejuang merana
Tidak ada perisai yang mereka bawa


Karang Penang, Sampang, 25 Mei 2008, 19:50
Panggil aku I’in

Aku lupa untuk meludah tiga kali
Lupa untuk menutup mulut ini
Lupa menghardik dia yang terkutuk
Ketika kupetik bunga itu
Semoga bunga itu cepat layu


Karang Penang, Sampang, 25 Mei 2008, 20:14
Panggil aku I’in

Kenapa tiada lagi aroma teh yang diseduh?
Justru bau menusuk racun yang keruh,
Dengar,
Bukan ancaman yang kami suguhkan,
Tapi bentangan panjang jalan pengetahuan
Ijinkan kami membuka pintumu,
Biarkan pasukan ilmu bertamu,
Ijinkan kami membuka jendela pengetahuan
Biarkan cahaya ilmu mengusir gelap kebodohan
Jangan beri kami tamparan
Kami hanya pengikut sang pembawa pesan
Jangan pula memberi kami ganjaran
Kami hanya menjalankan amanah yang dititipkan


Karang Penang, Sampang, 25 Mei 2008, 22:19
Panggil aku I’in

Bawaan kami dapat membuat anda awet muda
Ambil sebanyaknya, semua…
Tidak perlu merampasnya
Gunakan,
Anda tidak akan menjadi makhluk yang renta
Anda akan dapat berucap tanpa berkata-kata
Berlari tanpa mengayuh kaki
Amalkan bawaan kami
Niatkan kepada penciptaNya
Tempat terindah menanti anda


Karang Penang, Sampang, 25 Mei 2008, 22:19
Panggil aku I’in
123456789101112131415

ANTOLOGI THO 4

Dia ada sebelum semua ada
Karena dia Yang Awal
CahayaNya ada sebelum cahaya biasa yang tertangkap mata
Yaitu cahaya yang menerangi hati yang buta
Akan makna satu
Akan makna awal
Akan makna percaya
Karena hati buta berbeda dengan mata buta
Tanpa cahayaNya
Takkan ada imaji wujud keberadaanNya
Gelap hati yang berujung gelap mata


Karang Penang, Sampang, 24 Mei 2008, 22:01
Panggil aku I’in
123456789101112131415

ANTOLOGI THO 3

Tidaklah aku mengenakan jubah putih dan berucap kata tentang materialisme
Tidak juga mengenakan jas merah dan melantunkan senandung dari rakyat untuk rakyat
Tidak ada juga surban hijau dikepalaku
Aku hanya memiliki dua pakaian polos.
Pakaian percaya
Dan pakaian patuh


Karang Penang, Sampang, 23 Mei 2008, 09:50
Panggil aku I’in


Setitik jiwa yang tersisa
Kucoba membelahnya
Nirwana
Awalnya yang terasa
Angkasa dengan segala hiasannya
Fatamorgana
Kusadari akhirnya


Karang Penang, Sampang, 23 Mei 2008, 20:04
Panggil aku I’in
123456789101112131415

ANTOLOGI THO 2

KepadaMu Yang Awal
Sujudku untuk awal yang kautitipkan
Takkan kuhardik pagiku yang membangunkanku
Takkan kuusir pagiku yang bertamu di surau hatiku
Pagiku penunjuk arah menuju siangku
Lantang caci maki siangku bukan karena ia menantang
Terik yang dia siram bukan untuk membuat hatiku hitam
Siangku menempa hatiku
Siangku mengukir hatiku
Siangku membinasakan kecongkkanku
Menutup mata hatiku akan mega senjaku
Saat kuperas akalku menjaga harmoni rumah hatiku
Dari kilau berujung perih senjaku
Malamku mengantarkan peti pembaringan ragaku
Akhir raga
Akhir jiwa
Berakhir kepada Yang Akhir


Karang Penang, Sampang, 22 Mei 2008, 21:41
Panggil aku I’in
123456789101112131415

2008-03-25

ANTOLOGI 8

KOSONG

Kosong bukan nol
Kosong hanya kosong
Seperti hatiku
Selalu kosong
Tetap kosong
Hingga kau mengisinya dengan cahaya

Malang, 230108



TERNYATA KU TAK BISA

Wajah langit menekuk
Hitam menggantung
Tangis pun terpecah

Aku terpekur di kaki langit
Menghitung tetes hujan dengan air mata
Mengais sobekan rasa yang sempat terbuang

Sebelum langit membuka kerlip cahyanya
Rasa ini kan terakit utuh
Karena ku tak bisa
Memandang bintang tanpa sinar dari rasamu



Malang, 230108



PADA GADIS YANG KU TEMUI TADI SORE

Seikat tanya kukirimkan pada kelepak elang
Gadis,
Bias wajahmu benderang dipucuk malam
Kelopak matamu tak hilang dibuai sinar
Senyum anggunmu menghembus sepanjang jalan
Tubuhmu bersua melati yang lekang didalam hati

Aku hanya bertemali sepi
Tiada berkapal dan berlaut lagi
Aku sendiri
Menjaga dermagaku agar tak pergi
Tapi kini ku ingin berlari
Menjumpa wangi yang membuatku hilang kendali
Gadis,
Maukah kau berlayar bersamaku?

Malang, 250108
123456789101112131415

2008-01-31

DI PINTU-MU


terpaku di pintuMu
menghadirkan rasa kerinduan
tertahan dalam bulir air mata

terpaku di pintuMu
sejenak waktu
sehasta bayang tak lagi berdiam
ya...di pintuMu
aku terpaku
diam
hanya diam


malang, 310108
123456789101112131415

SESAAT DI STASIUN


kereta kedua datang
kereta ketiga datang, terus bergantian
tapi ku tak mau pergi
hingga keretaku datang kembali



malang, 310108
123456789101112131415

2008-01-11

SANG BIDADARI


masih ada yang tersisa
sejumput asa di balik purnama lalu
cawan rindu pun menggenang
melerai tatapan bahagia pada sang bidadari

tak kan hilang pucuk di buai
kelam rasa berjumpa malam
pada bulan yang terdiam
memucat diperaduannya
lirik-lirik terdengar kembali
melagukan kisah pada sang bidadari
yang terpaku dan berlalu dalam kesepian



malang, 110108
123456789101112131415