Custom Search

2018-09-01

MENGAPA PEREMPUAN LEBIH SERING BAPER?

Tahu BAPER kan? Itu lho singkatan dari kalimat "Bawa-Perasaan". Kondisi saat terlalu berlebihan melibatkan perasaan dalam menanggapi suatu keadaan. Akibatnya kita lebih mudah sedih, mudah menangis, mudah marah, dan lain sebagainya. Padahal keadaan yang dihadapi termasuk sepele. Misal melihat adegan menangis di televisi, membaca adegan perpisahan di novel, atau mungkin melihat kucing yang sedang duduk sendirian. Sederhana kan? Tapi bisa bikin kita mewek dan menangis berhari-hari. Duh, yang lagi baper. Hehehe.


Sumber : pluspng.com
Biasanya yang sering dilabel baper adalah perempuan. Termasuk juga saya yang bolak-balik diingatkan agar tidak mudah baper. Padahal saya tidak pernah mengundang baper untuk datang, jangankan datang berencana baper aja tidak. Hehehe.

Tetapi memang ada dalam suatu saat tiba-tiba merasa sangat baper. Seperti saat melihat kucing kecil yang mengeong kelaparan di pinggir jalan, tanpa sadar saya bisa sesegukan menangis di sepanjang perjalanan. Hiyaaa... padahal sebenarnya simpel banget solusinya. Tinggal belikan makanan buat si kucing atau bawa saja kucingnya ke rumah. Aman dan lebih realistis dibandingkan nangis tetapi tidak menolong. Sayangnya pemikiran kedua itu datang kalau logika yang menjadi supir di badan dan itu jarang-jarang terjadi. Hehehe.

Mengapa sih perempuan lebih sering baper?  

Kata womantalk, struktur otak perempuan memiliki pusat verbal di sisi otak kanan dan sisi otak kiri. Akibatnya perempuan cenderung menggambarkan segala sesuatu termasuk perasaannya. Tidak heran jika perempuan dikenal dengan sosok yang seringkali menggunakan perasaan dalam melihat suatu kondisi. Sedikit-sedikit perasaan, baper deh. Hehehe.

Hal ini berbeda dengan struktur otak laki-laki yang hanya memiliki pusat verbal di sisi otak kiri. Struktur ini memungkinkan laki-laki lebih sedikit menggunakan kata-kata dan membuat hubungan kata-kata dengan ingatan serta perasaan. Karena si perasaan sedang alpa, maka logika yang menjadi supir di badan. Oleh sebab itu, dalam menghadapi suatu keadaan laki-laki biasanya menggunakan logikanya sehingga tidak mudah baper.  

Tidak hanya otak, perempuan juga memiliki siklus bulanan yang berdampak pada kestabilan emosi. Namanya PMS dan masa menstruasi. Masa-masa PMS atau menstruasi bisa membuat seorang perempuan keluar dari jalur kestabilan emosi. Perempuan bisa menjadi pemurung, menutup diri, mudah sedih, mudah menangis, dan segala emosi yang berubah-ubah dalam waktu sepersekian detik. Intinya, jangan mengenal perempuan dalam periode PMS atau menstruasi sebab apa yang dilihat bisa berbeda dengan karakter sehari-hari.

Itu tadi hasil riset saya tentang alasan mengapa perempuan lebih sering baper. Eits, tetapi tidak semua perempuan itu suka baper lho. Ada para perempuan yang memiliki kekuatan dalam mengelola emosi sehingga tidak mudah baper. Bagi saya, perempuan-perempuan itu adalah perempuan perkasa, sebab mengatur emosi itu jauh lebih sulit dibandingkan mengatur lalu lintas. Hehehe.    
Artikel Terkait
123456789101112131415