Custom Search

2018-02-06

KETIKA HIDUP TERASA BERAT, SAYA BERTAHAN DENGAN CARA INI.


Perempuan, sendirian, hujan-hujanan di malam hari sambil mengendarai sepeda motor selama 2 jam. Demi apa coba nekat seperti itu? Demi pulang ke rumah. Hahaha. Setelah kehujanan selama 2 jam sambil mengendarai sepeda motor, akhirnya malam ini saya sukses tidak bisa tidur. Lelah? Pasti. Apalagi besok saya harus menempuh perjalanan yang sama dan bisa jadi hujan kembali turun. Hm, hidup yang berat itu semakin sedap dinikmati ya, hehehe.

Hidup terasa berat
Sumber : www.tobethode.com


Rumah dan tempat kerja saya berjarak sekitar 80 km. Jika ditempuh dengan mengendarai sepeda motor menghabiskan waktu 2 jam perjalanan. Sebenarnya saya mengontrak rumah di dekat tempat kerja, dan sudah berlangsung selama 3 tahun. Namun, september lalu papa wafat. Meninggalkan kami berdua, saya dan ibu. Akhirnya, saya memutuskan untuk kembali ke rumah, menemani ibu yang kini sendiri. Walaupun pada kenyataannya sejak jam 5 pagi hingga jam 5 sore saya berada di luar rumah, dan ibu tetap sendiri, hehehe. *Semoga saya tidak menjadi anak durhaka, Aamiin.

Menempuh perjalanan panjang sendirian dengan mengendarai sepeda motor selama 6 hari membuat saya sering berkencan dengan obat. Obat kulit karena saya alergi dengan cuaca panas, obat flu dan batuk karena saya alergi dingin dan tidak tahan hujan, serta salep-salep pegal linu karena badan terasa ngilu. Kalau badan sudah mulai berkencan dengan obat, saya kadang berpikir hidup ini terasa berat. Saya merasa tidak sanggup lagi menahan beban. Lelah level tinggi. Jika sudah demikian, dapat dipastikan hari-hari terasa hambar, semua pekerjaan terbengkalai, dan kebahagiaan hidup tidak bisa tercapai. Padahal pentingnya hidup itu untuk bahagia, benar kan?

Untuk itu, keinginan saya setiap hari adalah agar pikiran tidak labil sehingga membuat saya merasa sedih dan tidak bahagia. Caranya, ketika mulai muncul pikiran bahwa hidup ini berat, saya mencoba bertahan dengan melakukan hal-hal ini.

Melihat kondisi sekitar

Ketika otak dan hati mulai berpaling dari jalur yang benar, saya langsung mengalihkan perhatian dan pandangan pada kondisi di sekitar. Terutama ketika saya sedang berkendara dan melewati daerah-daerah ramai seperti pasar. Mengapa? Karena seorang teman pernah mengatakan kepada saya,
"Jika merasa hidup itu berat, datanglah ke pasar. Perhatikan para tunawisma, mereka tetap mau bertahan walaupun kondisinya lebih sulit darimu. Apa kamu tidak bersyukur?"  
Kata-kata itu selalu berhasil mengubah persepsi saya, yang awalnya fokus memperhatikan diri sendiri menjadi belajar untuk memperhatikan bagaimana kondisi orang lain. Melihat bagaimana bapak-bapak tua masih bersemangat menjajakan dagangannya, bagaimana para pedagang yang gigih menggaet penjual, tukang parkir, tukang semir, pengamen, bahkan kucing-kucing liar yang seringkali nekat ketika menyeberang di jalan raya.

Mengetik kata kucing membuat saya mengingat kejadian tadi pagi. Tadi pagi saat dalam perjalanan ke tempat kerja, saya bertemu dengan seekor kucing yang mengeong keras di tengah jalan raya. Saya tidak tahu apa penyebabnya. Setelah saya memperhatikan ternyata kucing tersebut bermasalah dengan kakinya, mungkin terkena senggol salah satu kendaraan sehingga tidak bisa melangkah. Ia berkali-kali berusaha untuk bangun tetapi berkali-kali pula badannya jatuh. Kondisi itu membuatnya tergeletak di badan jalan. Tatapan matanya pasrah melihat roda-roda kendaraan yang melintas di dekatnya. Untunglah beberapa saat kemudian seorang bapak memungutnya dan meletakkan di trotoar jalan.

Melihat peristiwa kucing tersebut, saya berpikir ulang tentang beban hidup. Apakah benar beban hidup saya berat atau saya hanya baper karena impian tentang hidup sempurna belum terwujud? Lebih berat mana beban hidup saya dengan si kucing yang jelas-jelas menderita di tengah keramaian tetapi tetap tidak ada yang menolong? *manggut-manggut malu   
  

Belajar bersyukur

Melihat kondisi sekitar membuat saya belajar untuk bersyukur. Benar-benar bersyukur. Sebab, dibandingkan para tuna daksa, tuna rungu, tuna wicara, tuna netra, tuna grahita, tuna wisma, dan tuna karya, hidup saya jauh lebih baik. Saya punya badan yang sehat, indera yang lengkap dan berfungsi normal, otak yang mumpuni, tempat untuk bernaung, pekerjaan tetap, dan penghasilan yang cukup untuk memenuhi semua kebutuhan hidup.

Lalu, mengapa saya masih mengeluh dengan beban hidup yang mungkin hanya merupakan bagian kecil dalam beban hidup mereka? Pertanyaan semacam ini membuat pemikiran saya perlahan-lahan berganti, dari beban hidup yang berat menjadi hidup yang sempurna. Sempurna karena saya memiliki banyak hal bisa saya syukuri.


Yakin dengan rencana Allah

Hidup itu seperti sulaman, memiliki dua sisi yang berbeda. Sisi bagian atas yang tampak cantik dengan pola-pola indah, dan sisi bagian bawah yang biasanya terlihat ruwet bin jlimet dengan tumpukan benang-benang yang saling bersinggungan.

Saya pernah mendengar petuah bahwa suatu peristiwa kehidupan akan tampak seperti bagian bawah sulaman bagi manusia.  Kusut, rumit, dan sulit. Namun, bagi Allah semua peristiwa kehidupan tersebut membentuk keindahan pola yang cantik untuk dipandang. Sebab, Allah melihatnya menyeluruh, seperti saat kita melihat keseluruhan pola sulaman dari bagian atas kain.  

Untuk itu, ketika berpikir bahwa hidup ini terasa berat, yakinlah masih ada banyak rencana baik dari Allah yang belum kita ketahui. Rencana yang paling hebat dan paling sempurna dalam membentuk sebuah sulaman kehidupan. Jadi, buat apa galau dan berpikir hidup ini terasa berat?     


Menikmati hidup

Jika suatu peristiwa sudah menjadi takdir, maka satu-satunya hal yang bisa kita lakukan hanyalah tidak berpikir. Ya, tidak berpikir mengapa dan bagaimana, apalagi berpikir jika seandainya. Bisa bikin hati keki.

Seperti saat saya berulang-berulang kehujanan dalam perjalanan. Awalnya membuat saya keki, mengapa hujan turun saat saya dalam perjalanan? Bagaimana saya bisa bertahan dalam hujan? Jika seandainya papa masih ada, mungkin saya tidak akan hujan-hujanan, dan lain sebagainya. Tetapi, berpikir seperti apapun tetap tidak akan merubah bahwa saya harus sering hujan-hujanan untuk bisa pulang ke rumah. Oleh sebab itu, saya kemudian mencoba untuk menikmatinya. Menikmati tetes air hujan saat berebutan membasahi kulit. Kapan lagi saya bisa hujan-hujanan gratis, begitu kan? Hehehe. 


Memulai hal-hal baru 

"Jangan terpaku pada satu pintu yang tertutup, menolehlah ke arah lain. Siapa tahu ada pintu lain yang terbuka."
 Hidup itu terdiri atas kantong-kantong kesempatan yang membentuk menara pohon. Setiap waktunya, ada yang gugur dan ada pula yang bersemi. Jika kita hanya menatap kantong yang gugur, maka kita akan kehilangan kesempatan untuk memandang munculnya tunas kantong yang baru.

Perasaan bahwa hidup terasa berat bisa jadi karena kita hanya fokus pada satu peristiwa. Padahal ada banyak peristiwa lain yang dapat kita nikmati. Saya meyakini bahwa dalam satu frame kesedihan, tersembunyi benih kebahagiaan. Benih ini mungkin saja terjepit, terhimpit, dan terinjak dalam banyak peristiwa. Untuk itu, kita harus berusaha mencarinya dengan cara memulai hal-hal baru. Dengan demikian, kebahagiaan ini akan muncul dan menghapus beban hidup yang menurut kita terasa berat. 

Lima tindakan di atas adalah upaya saya untuk bertahan dari beban hidup yang terasa berat. Memang tidak mudah, tetapi juga bukan hal yang menyulitkan untuk dilakukan. Setidaknya dengan melakukan lima tindakan tersebut saya bisa mengontrol pikiran dan menumbuhkan kebahagiaan. Bagaimana dengan teman-teman, apa yang dilakukan jika hidup terasa berat?

Artikel Terkait
123456789101112131415