Custom Search

2017-05-13

SAAT SAYA RINDU MENULIS



Bagaimana rasanya rindu? Gundah gulana pastinya. Itulah yang sedang saya rasakan. Hati hampa, pikiran berkelana, dan badan serasa lemah tanpa tenaga. Rindu saya untuk menulis benar-benar membuat hidup ini hambar tanpa selera.

Namun, rindu ini tidak menemukan dermaga. Saya tidak bisa menulis. Ide yang berlompatan terlintas di kepala seperti mendadak hilang ketika akan menulis. Semangat yang awalnya membabi buta, kini seperti kerbau yang tak punya tanduk dinkepala. Energi saya melemah begitu senja muncul di cakrawala. Dan alunan lagu dari ranjang begitu menggugah selera. Membuat saya lebih memilih untuk merebahkan raga.


Sudah satu bulanan, aktivitas kerja meningkat dengan tugas-tugas yang sering membuat mata begadang. Tenggat deadline yang lebih sering mendadak tentunya membutuhkan konsentrasi tinggi. Konsentrasi tinggi bersinergi dengan energi yang tinggi. Pemaksaaan terhadap kesediaan untuk berenergi tinggi dalam waktu yang lama kini membuahkan hasil. Hasil yang membuat saya harus menyimpan kerinduan untuk menulis. Ya, hasil itu adalah berkurangnya energi dan konsentrasi saya saat malam hari. Waktu yang biasanya saya gunakan untuk menulis. Sebab, siang hari saya harus bekerja.

Terkadang saya berpikir itu adalah alasan yang saya buat. Alasan untuk membenarkan saya karena tidak menulis. Alasan yang saya gunakan untuk menyembunyikan dinding kemalasan yang mengelilingi kepala. Alasan yang memang hanya alasan.

Hanya saja, ketika memutuskan itu hanya sekedar alasan dan berupaya untuk menulis. Ternyata, layar laptop saya tetap berisi lembar putih yang kosong. Tidak ada energi yang bisa menuntun saya untuk menulis. Walaupun ide sudah saya siapkan dilembar-lembar kertas yang berserakan di dekat keyboard. Jika begini, saya hanya bisa pasrah dan beralih menuju ranjang. Tidur.

Kondisi ini terkadang membuat saya malu. Para penulis handal dan terkemuka biasanya masih bisa menulis diantara gunungan kegiatan mereka. Sedangkan saya, belum menjadi apa-apa sudah tidak bisa menulis . Malah mencari pembenaran alasan agar bisa dimaklumi karena tidak menulis. Pfiuh.

Saat ini, saya merasa semakin hampa. Energi sudah berada dibawah kriteria dan rasa malas hinggap tanpa diduga. Hingga saya merasa semakin kecewa karena tidak bisa menyelesaikan target yang sudah menjadi rencana. Kerinduan untuk menulis pun semakin menggila.

Dan inilah hasilnya. Hasil dari kerinduan yang disimpan berdetik-detik di kepala. Semoga dengan hasil ini saya bisa terbebas dari rindu yang mendera. Juga dari malas yang melekat di dalam jiwa. Aamiin. Terima kasih sudah mau membaca. Tulisan ringan tanpa pesan yang harus dicerna. Sebab, ini hanya sekedar membuang sampah dalam kepala.


Artikel Terkait
123456789101112131415