Custom Search

2015-09-20

SALAH MENDENGAR ITU FATAL LHO...


Pernah punya pengalaman dengan salah pendengaran? Misal yang dikatakan bubur tetapi yang kita dengar busur. Nah lho, bisa berabe kan. Pengennya langsung makan begitu ada bubur, eh malah datangnya penggaris busur. Gak bisa dimakan dong!

Bulan kemarin, tepatnya waktu perayaan lomba untuk menyambut hari kemerdekaan saya mempunyai pengalaman dengan salah pendengaran. Fatal? Menurut saya begitu, hehehe.
 
Sumber : www.systemsalliance.com
Kisahnya begini, salah satu lomba dalam perayaan agustusan di kecamatan tempat saya bekerja adalah lomba membaca puisi dan lomba pantun tingkat sekolah dasar. Sekolah saya kemudian diminta untuk membantu sebagai juri dalam lomba tersebut. Tentu saja, guru yang dipilih sebagai juri adalah guru bahasa Indonesia. 


Pada waktu hari H, tiba-tiba pihak panitia memberitahukan bahwa lomba diundur keesokan harinya dengan alasan tertentu. Ternyata, keesokan harinya dua orang teman saya yang terpilih sebagai juri tidak bisa hadir. Jadilah kepala sekolah meminta guru yang lain untuk menggantikan. Nah, inilah awal mula pengalaman salah dengar saya dimulai.

Hanya tersisa satu orang guru bahasa Indonesia yang dapat menggantikan, sedangkan untuk kepentingan ini dibutuhkan dua juri. Oleh sebab itu, butuh guru lain yang dapat menggantikan. Guru-guru yang mengetahui kesenangan saya menulis puisi kemudian mengusulkan agar saya menggantikan sebagai juri lomba membaca puisi, sedangkan juri lomba pantun diserahkan pada guru bahasa Indonesia.

Malam harinya, saya browsing untuk menyiapkan format penilaian lomba. Maklum, selama ini saya belum pernah menjadi juri untuk lomba membaca puisi. Kalau menjadi peserta, sering. Hehehe.
Keesokan harinya, saya dan guru bahasa Indonesia tersebut berangkat ke tempat lomba di pendopo cabang dinas pendidikan yang letaknya tidak begitu jauh dari sekolah kami. Sudah banyak peserta yang hadir begitu kami tiba di tempat acara. Kami segera mendatangi panitia untuk menginformasikan penggantian juri.

“Pak, saya dari SMA yang mewakili juri lomba puisi dan pantun,” lapor saya pada panitia.

“Iya, ini daftar peserta lomba puisinya. Nanti pemanggilan pesertanya bergantian antara putra dan putri. Tempat lombanya ada di ruang belakang,” jelas salah satu panitia.

“Kalau lomba pantunnya dimana ya bu?” tanya saya selanjutnya.

Ibu panitia mengernyitkan dahi, “Lomba pantun?” jawabnya heran.

Saya kemudian menjelaskan bahwa sekolah saya diminta bantuan dua orang guru sebagai juri untuk lomba pantun dan puisi. Guru yang ditunjuk berhalangan hadir hari ini sehingga saya dan teman saya menggantikan sebagai juri.

“Tidak ada lomba pantun bu. Kemarin yang ditunjuk itu untuk juri lomba patung dan puisi,” jelasnya kemudian.

“Ooooh,” kepala saya tiba-tiba merasa pusing. Kenapa patung bisa menjadi pantun ya. Setelah diusut pada pihak panitia ternyata pemberitahuan tersebut hanya melalui sambungan telepon pada kepala sekolah. Pantas aja nih, lomba patung menjadi lomba pantun. Mungkin, pembicaraannya tidak jelas sehingga ada peristiwa salah dengar. Sekarang gimana dong? Ini kan fatal bagi saya yang tidak memiliki background keilmuwan di dua bidang tersebut.

Pihak panitia kemudian meminta teman saya untuk tetap berada ditempat acara, minimal mengawasi pelaksanaan lomba patung. Hm... saya kemudian meminta rolling tempat. Biarlah teman saya menjadi juri lomba membaca puisi, karena memiliki background sebagai guru bahasa Indonesia. Sedangkan saya? Terpaksa menjadi juri patung. Hehehe. Toh, sedikit-sedikit saya ini menyukai seni rupa. Bisa lah untuk menilai, tentunya dengan bantuan juri yang lain. Sebab terdapat dua juri dalam setiap perlombaan. 

Lomba membaca puisi putri
Lomba membaca puisi putra
Lomba patung
Peserta membuat patung dari plastisin
Karya patung no peserta 08
Kuda
 
Lomba panjat pinang. Saya memilih ini sebagai juara 1.
Peristiwa ini menjadi pelajaran bagi saya bahwa pemberitahuan secara lisan itu harus disertai dengan pemberitahuan tertulis. Hal ini untuk menghindari kesalahan pendengaran seperti yang saya alami. Betul kan? 


Artikel Terkait
123456789101112131415