Custom Search

2013-05-16

BERNOSTALGIA DI PARE



Berada di Pare selama dua minggu serasa bernostalgia dengan masa lalu. Dengan kegiatan yang padat dari pagi hingga malam hari. Ditambah alat transportasi sepeda. Membuatku bercumbu dengan episode-episode waktu pada masa SMP dan SMA. Kelas-kelas yang semarak, atraktif, dan penuh kejutan semakin memperkaya pengalamanku tentang pembelajaran. Mau tahu selengkapnya? Check it out!

 Pertama, di Pare aku tinggal di champ Fajar 9. Ada 4 kamar disitu. Masing-masing kamar terdiri dari 4 orang. Jadi jumlah total penghuni champ 16 orang. Dengan komposisi daerah asal sulawesi sampai sumatera. Wah, lagi-lagi aku mendapat para sahabat dari luar kota, luar propinsi dan luar pulau juga. Senang rasanya...
Aku berada di kamar 1 bersama 3 orang lainnya. Mbak Nur, direkturku selama di Pare, hehehe. Maklum semua pendaftaran dan program yang ku ikuti, mbak Nur yang mengurus. Kemudian ada Putut dan Wiha, calon ibu guru dari Palembang dan Bangka. Di kamar 2 ada Fani dari Jakarta,  Ulya dari Solo dan si bungsu Aina. Bungsu karena dia yang paling muda. Di kamar 3 ada duo mahasiswi hukum. Firstin dari UB dan Rini dari UIN Gunung Jati, Bandung. Kalau digabungin mereka berdua, pasti serasa lagi dipersidangan dengan dua pengacara, hahaha... Selain mereka berdua, ada Tanti, yang baru saja lulus dari Tekim Undip dan Cindy, yang getol banget ikut tes polwan. Hm... semoga bisa tercapai yah cita-citanya untuk jadi polwan. Kamar terakhir alias kamar 4 diisi oleh duo bersaudara dari Kendari. Mira dan Miss Anggun. Pertama kenal Miss Anggun, langsung terfikir namanya seanggun orangnya. Ups! Hehehe... Dua anggota yang lain adalah Elok dan Denok. Ternyata keduanya juga duo. Duo dari ITS.
Pengalaman di champ, seru banget. Di waktu-waktu senggang kita sering main game bahasa inggris. Seperti tebak-tebakan who am I? Yaitu permainan dimana salah satu orang mendeskripsikan tempat, orang populer, atau film dan yang lain menebak. Permainan lain adalah cerita bersambung. Permainan ini menggunakan kartu-kartu vocab dan masing-masing orang mendapatkan beberapa kartu. Dari kartu-kartu itu kita buat satu cerita utuh. Tetapi terkadang juga ngobrol ngalor ngidul pengalaman atau kuliner di daerah masing-masing. Nah, lebih sering ngobrolnya dengan bahasa Indonesia, padahal aturannya bahasa inggris. Hohoho... untuk hal ini tidak patut di contoh. Nah, paling seru nih kalau lagi ngeliat Putut yang merupakan fans korea mengajari Firstin yang juga ikut kursus bahasa Korea, kemudian si Dung-dung alias Rini akan mulai menggencarkan serangan untuk mengganggu keduanya. Bisa seperti pasar suasananya. Hehehe... Ah, jadi rindu dengan kalian semua... 


Diskusi di kelas Speak Up 2
Kedua. Program pertama pada jam 07.00 pagi adalah Speak Up 2 di Mr. Bob. Speaking without thinking, itulah semboyannya. Selain kata-kata the power of imagination dengan gerakan merentangkan kedua tangan ke atas dan membentuk sebuah lingkaran maya dari gerakan tangan ke bawah. Arti dari simbol tersebut adalah pembelajaran di kelas ini selurhnya menggunakan imajinasi. Oh ya sampai lupa, coach program ini seru banget! Namanya Sista, mojang arsitektur dari Bandung. Ceriwis, gokil, usil, dan kepomania. Hahaha... Tapi kalau lagi sakit, bakal diem dan hanya bisa tersenyum. Hm... but I like your style, Sis.
Sebelum bercerita tentang pembelajaran, kenalan dulu yuk dengan penghuni kelas ini. Orang-orang ajaib bin gokil. Heheheh... Yang pertama, hmm... ketemu lagi dengan mbak Nur. Berduet terus sih, hehehe..  kemudian ada putra Solo alias Anta. Walaupun seorang putra Solo, disini dia juga jadi ikutan gokil. Anggota lain dari Solo adalah Mahzum. Antique Man. Why? Idola favorit dia bikin semua orang menggelengkan kepala. Contohnya ludruk, karawitan, nembang, Solo banget deh pokoknya. Bangga bertemu dengan dia, yang cinta dengan kebudayaan daerahnya.
Pose setelah penutupan program di kelas Speak Up 2
Mmm...selain Solo ada juga anggota dari Jakarta. Bidan Gebby, Ahad, dan Dhara si perempuan perkasa. Julukan perempuan perkasa di awali dari kesukaan Dhara bersepeda. Bayangkan saja, dia bersepeda pulang pergi Pare-Kediri dan Pare-Tulungagung. Sendirian. Wow... aku hanya bisa berdecak-decak melihatnya kembali dengan selamat dan bilang “kakak Wigas.” Hahaha... Dhara emang paling suka godain Wigas, anak Pens dari Sidoarjo. Nah, si Wigas ini paling sering bareng Septian. Anak Mojokerto yang juga kuliah di Pens. Usut punya usut ternyata duo Wigas-Septian punya saingan lho, yakni duo fans Korea dari Sulawesi, sepertinya sih Makassar... (duh kok jadi lupa ya L). Namanya Yuna dan Mimi. Semacam perangko deh mereka berdua, kemana-mana bersama. Hehehe... selain itu hadir juga Ellen dan Wahyu dari Indramayu, dan terakhir si gadis berkacamata yang bernama Novi.
Setelah perkenalan, kita mulai cerita tentang pembelajaran. Pembelajaran di sini asyik dan menyenangkan. Awalnya kita diminta untuk bercerita tentang apapun di depan. Eits..lupa, ada beberapa aturan yang diterapkan Sista dikelas ini. Yaitu wajib membuat kesalahan, wajib berbahasa inggris walaupun hanya dengan aksen Cinta Laura, tidak boleh saling menunjuk, dan dua lainnya (Lagi-lagi lupa L). Jadi untuk maju ke depan, harus dengan kemauan sendiri. Berproses kata Sista. Setiap hari 3-4 orang maju kemudian waktu yang tersisa untuk game. Ada banyak game seru. Seperti cerita bersambung yang sudah diceritakan sebelumnya. Kemudian game memecahkan masalah. Aturan mainnya, kelas dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap anggota kelompok mendapatkan sebuah kertas tentang sebuah masalah. Masing-masing akan bercerita bergiliran tentang masalah yang didapatkan dan teman yang lain memberikan saran untuk memecahkan masalah tersebut. Ada pula game victim. Aturan mainnya hampir sama dengan memecahkan masalah. Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok. Masing-masing anggota kelompok bergiliran menjadi victim/korban. Maksud dari korban disini adalah dia wajib menjawab semua pertanyaan yang di ajukan teman kelompoknya secara jujur. Disini nih paling seru, kita bisa jadi kepomania, dan si victim tidak bisa menghindar dari jawaban. Asyikkan?

Kedua. Program kedua pada jam 08.30 pagi adalah Grammar di Fajar. Hanya ada dua orang dikelas ini yaitu aku dan Cindy alias si polwan. Pembelajaran disini lebih menitikberatkan pada latihan dan pembahasan. Tutor kelas ini jauh lebih muda dariku. Baru lulus SMA setahun yang lalu. Wah, ibu guru jadi belajar sama muridnya nih. Hehehe...Nama tutornya adalah Mr. Imron. Walaupun lebih muda tetapi kemampuan grammarnya jauh melebihi batas kemampuanku J.


Pembelajaran di kelas VOS 3

Ketiga. Masih di Fajar, aku mengikuti VOS3 jam 10.00 pagi. VOS3 adalah pembelajaran speaking. Tidak berbeda jauh dengan speak up 2. Setiap hari kita dituntut untuk berbicara. Terdapat beberapa metode disini. Seperti presentasi produk dengan bahasa inggris, menjadi guide pariwisata di daerah masing-masing, drama, game, tanya jawab dan diskusi.
Pose setelah pembelajaran promosi makanan di kelas VOS 3
Kelas ini juga memiliki keunikan. Salah satunya adalah tempat belajar. Ya, tempat belajar kita di bawah pohon mangga dan nangka. Kita biasa duduk melingkar di kursi-kursi yang sudah disediakan. Terkadang juga jika harus maju di tengah lingkaran, kita gunakan salah satu kursi panjang sebagai panggung. So jadilah kita seperti artis.
Oya kelas ini juga ramai penghuni, sebut saja Hajar dari Surabaya, grup Bogor (Nita, CL, Dewi, Ria), Fanny dari Jakarta, Husna dari Pati, Muji, Gustin, Aim, Almu, Amin, dan satu lagi si suara serak (lupa banget nih namanya L). Selain penghuninya, tutor kelas ini juga ramai. Namanya Miss Hanum. Paling ingat dengan speaknya yang easy going banget. Santai dengan logat dan sapaan lokal. Bikin stylenya berbeda dengan orang lain.



Pose setelah pembelajaran di kelas Pronoun 1/2
Keempat alias penutup. Program pronoun ½ di mr. Bob pada jam 14.00 WIB. Kelas ini mengajarkan pengucapan kata dalam bahasa inggris. Baik British maupun American. Ikut kelas ini bikin aku bisa menganalisis percakapan atau lagu bahasa inggris dari pengucapannya. Terutama untuk kata atau kalimat yang pengucapannya dibuat slank. Sehingga berbeda dengan penulisan atau pengucapan kata aslinya. Selain itu kita juga dikenalkan dengan cara membaca kata bahasa inggris dalam kamus, dengan cara melihat lambangnya. Lambang-lambang itu bikin kita harus menghafal. Salah satu yang aku ingat adalah pe te ke tjeh be de ge jeh.
Jika tidak, siap-siap kena bedakin teman-teman satu kelas. Nah, lho?  Ini adalah metode Mr. Paijo dalam mengajar. Kalau menang, kita bakal dapat hadiah coklat. Senang kan?
Seperti halnya kelas Mr. Bob yang sebelumnya, kelas ini gokil abis. Bahkan melebihi kelas yang lain. Bikin sang tutor sering banget sebel dengan keusilan kita. Hehehe... tapi tutornya juga unik sih. Dengan rambut keritingnya yang panjang dan bicaranya yang ceplas ceplos. Bikin kita selalu tertawa setiap saat.
Setelah Penerimaan sertifikat di kelas Pronoun1/2
Trus, siapakah biang kerok kelas ini yang selalu bikin ramai dan gokil. Aku perkenalkan ya...
Pertama, Echa dari Jakarta. Kedua, Mery dari Kalimantan. Keduanya nih bisa bikin si Paijo, geleng-geleng kepala. Belum pernah ketemu dengan yang seperti ini mungkin ya.. hehehe... Teman yang lain bukan berarti gak gokil lho, tapi sama saja. Ada Nouna dan Iyut (teman sekampung Mery), Riska (si fotografer), Wulan (fotografer juga), Nana (si imut), Dilla, Odang (Palembang poenya), Ninda, Figur, Irhaz, Amir, Tarji, Syarif (Aceh zone), dan Dahrul (Makassar).

Itulah sekilas pengalamanku selama dua minggu di Pare. Menyenangkan, seru, dan tentunya sangat bermanfaat dalam pengembangan kemampuan bahasa inggrisku. Sampai jumpa di program selanjutnya... Bye.bye...



Semarang, 240213.
Artikel Terkait
123456789101112131415