Custom Search

2011-03-18

UN YANG BIKIN KALANG KABUT

Ribet bin kuatir! Itulah perasaanku saat menghadapi UN tahun 2011. Bagaimana tidak, nilai kelulusan dan pelaksanaan UN banyak berubah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Perubahan mendasar terletak pada nilai kelulusan yang menyertakan nilai ujian sekolah dan nilai semester 3, 4, dan 5. Bukan hanya itu pelaksanaan ujian sekolah yang sebelumnya di adakan setelah UN dimajukan menjadi sebulan sebelum pelaksanaan UN.

Wow…alhasil pengalaman pertama sebagai guru kelas XII sekaligus wali kelas membuatku kalang kabut dengan aturan ini. Kalang kabut pertama berkaitan dengan tugas sebagai wali kelas. Setiap wali kelas harus buka tutup tumpukan raport untuk menyalin dan merekap nilai semester 3, 4, dan 5. Pusing juga kepala melihat nilai-nilai yang tak bersuara, apalagi jika nilai rata-rata semester 3, 4, dan 5 yang terpampang pada LCD komputer jauh di bawah KKM sekolah dan tergolong rendah. Aduuuh…bikin pusing semakin berpesta pora di kepala.


Pemberitahuan awal tidak ada ujian praktek. Jadi aku merekap nilai pengetahuan saja pada semester 3, 4, dan 5. Namun tak berapa lama kemudian ada ralat pemberitahuan dengan judul “Ujian praktek tetap di adakan.” Aku hanya bisa garuk-garuk kepala dengan pemberitahuan ini. Alasannya? Apalagi kalau bukan kewajiban menekuni pekerjaan sebelumnya. Buka tutup raport untuk merekap nilai praktek pada semester 3, 4, dan 5. Padahal aku sudah mengucapkan selamat tinggal dan menyimpan rapi di lemari. Eh, ternyata harus ku ambil kembali dengan disertai senyum kemenangan tumpukan raport yang terbebas dari bau pengap lemari. 

Setelah satu persatu nilai semester 3, 4, dan 5 masuk pada adonan perumusan nilai kelulusan maka kita bisa memprediksi nilai minimal UN agar siswa bisa mencapai nilai ambang batas kelulusan. Hasilnya? Beberapa anak yang memiliki rata-rata nilai semester rendah harus mendapat point tinggi untuk mencapai nilai ambang batas kelulusan. Sedangkan sisanya bisa sedikit bernafas lega karena memiliki rata-rata nilai semester tinggi sehingga hanya dibutuhkan sedikit point untuk mencapai nilai ambang batas kelulusan. Dengan hasil ini kekhawatiran semakin meningkat di otakku. Bagaimana jika… “Ah, sudahlah jangan berpikir pesimis” runtukku dalam hati. Aku harus optimis, kalau tidak bagaimana nasib optimisme siswaku? Bisa-bisa mereka tidak bisa bangun dari mimpi pesimisme. 


Belum sampai 1 bulan dari pemberitahuan berubahnya nilai kelulusan UN, diberitakan lagi perubahan dalam tatacara pelaksanaan UN yaitu berkaitan dengan soal. Pemberitahuan terbaru soal yang digunakan terdiri dari 5 macam soal yaitu kode A, B, C, D dan E. Padahal sebelumnya hanya dua kode soal, A dan B. Bahkan dikabarkan pula setiap siswa akan berganti soal setiap mata pelajarannya. 





Semakin ribet aja nih jika nanti menjadi pengawas, mau tidak mau harus teliti, teratur dan tidak mendengkur waktu menjaga pelaksanaan UN khususnya saat membagi soal dan mengelompokkan lembar LJK pada kode yang sama. Jika itu tak dilakukan bisa-bisa berakibat fatal pada jawaban siswa. Kalau kesalahannya membuat keberuntungan sih gak ada masalah, tapi kalau kebalikannya? Pyuuuuh….bakal di demo kepala-kepala manusia kayaknya. Mending di demo kepala ayam deh, bisa di makan. He..he..he..


Kalang kabut kedua berkaitan dengan tugas sebagai guru kelas XII yang harus mempersiapkan kemampuan siswa untuk menghadapi UN. Tugas yang cukup membuat otak semakin mendidih karena khawatir. Apalagi aku adalah salah satu guru mata pelajaran yang paling diminati siswa untuk tidak dipelajari. Kalau gak percaya, buat aja penelitian seluruh sekolah di Indonesia, jawabannya pasti gak bakal jauh dari pelajaran sulit, menegangkan, memusingkan, dan tidak akan berkeberatan jika pelajaran ini dihapus. Bisa menebak? Ya, benar nama pelajaran ini adalah fisika. Pelajaran yang membuat mayoritas siswa mengerutkan kening dan kalau boleh diminta, lebih baik kabur ke kantin atau bermain bola dibandingkan mengikuti pelajaran.
 

Materi UN menyangkut seluruh materi pelajaran dari kelas X hingga kelas XII. Begitu pula dengan materi ujian sekolah. Sebelumnya ujian sekolah hanya untuk pelajaran non UN, tetapi tahun ini berganti menjadi seluruh pelajaran. Waduh…padahal materi kelas XII cukup banyak dan rumit. Tetapi apa mau dikata, waktu tak bisa berkompromi. Maka jadilah materi kelas XII dibuat SKS alias sistem kebut semester. Materi satu semester dimampatkan hanya dalam waktu dua bulan. Dengan sistem kebut semester ini aku harus rajin buka berbagai macam referensi. Tujuannya mencari ringkasan materi yang bisa lebih cepat dan mudah dipahami siswa. Terutama penyelesaian dalam menjawab soal-soal latihan. 

Sudah menjadi rahasia umum dikalangan siswa jika fisika adalah pelajaran yang penuh dengan rumus. Jadi aku berusaha mencari cara efektif untuk mengajari siswa mengingat rumus dan mengawali penyelesaian soal. Cara tercepat atau biasa di kenal smart solution jarang ku berikan, karena cara tercepat lebih banyak hanya bisa berfungsi pada satu tipe soal. Sehingga ini malah membuat rumus fisika semakin menumpuk. Akibatnya siswa bisa mudah kehilangan semangat belajar dengan melihat tumpukan rumus tersebut. 

Selain itu untuk menyiasati waktu pembelajaran yang kejar tayang, dibuatlah jam tambahan pelajaran khusus pelajaran UN. Semua siswa kelas XII wajib mengikuti setelah jam pulang sekolah. Materi jam tambahan sesuai dengan Standart Kompetensi Lulusan (SKL) dan difokuskan pada latihan dan pembahasan soal. Tugas lagi deh. Apalagi kalau bukan penyusunan modul berisi latihan soal untuk siswa. Guru harus membuat modul yang sesuai dengan SKL. Karena jam tambahan di mulai awal tahun pembelajaran, maka SKL yang digunakan mengacu pada SKL tahun sebelumnya. Jadilah aku mengobrak abrik berbagai macam buku dan situs untuk mencari soal-soal setaraf UN. 


Beberapa waktu kemudian, pada rapat dinas sekolah mengawali semester dua diumumkan tentang adanya SKL terbaru. Setelah dikoreksi, ada beberapa perubahan. Nah,,lho??? Padahal modul sudah dibuat dan digunakan. Arrghh… sebel di atas dongkol. Pengennya menjitak kepala. Tetapi yang ada hanya boneka. Sudahlah gak masalah, yang penting ngidam menjitak bisa terlaksana. Huh..uh..uh.. Sibuk lagi deh obrak abrik buku dan situs mencari soal-soal setaraf soal UN yang sesuai dengan SKL. 


Kalang kabut ketiga terjadi saat melihat hasil try out pertama. Nilai tertinggi untuk fisika hanya 45. Paling rendah dibandingkan nilai mata pelajaran IPA yang lain. Wow…aku hanya bisa diam terpukau melihat hasil ini. Sedih banget. Walaupun try out hanya ajang untuk melihat kemampuan siswa dalam menghadapi UN. Bukan untuk kelulusan. Tetapi dengan hasil tersebut sudah dipastikan bahwa aku benar-benar harus kerja keras agar semua siswa bisa lulus pada pelaksanaan UN nanti. 


Try out memang salah satu ritual dalam rangka mempersiapkan UN. Selain untuk melihat kemampuan siswa, try out juga berguna dalam membiasakan siswa menyelesaikan soal-soal setaraf soal UN dan menghabiskan waktu duduk diam berkonsentrasi selama 2 jam. Sebanarnya kalau untuk duduk diam yang dilatih bukan hanya siswa tetapi juga gurunya. Setiap guru juga harus belajar menghabiskan waktu 2 jam mengawasi di depan kelas tanpa melakukan apapun. Bisa dibayangkan bagaimana bosan akan datang berlalu lalang. Nah tips buat pengawas untuk menanggulangi bosan dan kantuk yang kadang menyerang bisa di siasati dengan menulis. Waktu 2 jam pasti cukup untuk menghabiskan beberapa lembar kertas. Hasil tulisan bisa dikirim ke media. Syukur jika bisa di muat dan mendapatkan honor. Artinya sekali merengkuh, dua tiga pulau terlampaui. 


Pelaksanaan UN yang berbeda juga berakibat pada meningkatnya kekhawatiran siswa akan ketidaklulusan. Apalagi kabar bahwa soal dibuat sebanyak 5 macam. Pertanyaan bagaimana, bagaimana, dan bagaimana selalu terlontar dan meminta jawaban. Dengan iseng ku jawab aja, berapapun tipe dan macam soal UN, tetap saja perintahnya sama, yaitu mengerjakan soal dan memilih jawaban yang paling benar. Lalu apa masalahnya? Para siswaku hanya tersenyum malu sambil berkata dengan nada membisik, “Tidak bisa kerjasama bu, padahal Indonesia di kenal karena gotong royongnya”. Ah, ini pasti kesalahan saraf otak menerima informasi sewaktu masih dini. Harusnya dulu diberitahukan dengan jelas, gotong royong masyarakat Indonesia dalam bidang tertentu sehingga informasi yang melekat di otak para siswa tidak hanya gotong royong dan kerja sama. Ingin terkatakan bagaimana jika gotong royong yang terjadi adalah ketidaklulusan? Bukan kelulusan yang mungkin selama ini menjadi patokan. Tapi… nanti malah membuat mereka pesimis. Akhirnya ku katakan “Kalian boleh kerja sama, gotong royong, dan berdiskusi selama masa persiapan UN. Itu bukan hanya bersifat halal tetapi juga wajib” dan disambut dengan dengungan kekecewaan. Aku hanya bisa melempar senyum dan berharap suatu saat mereka memiliki optimisme untuk belajar mandiri dan bisa memaknai gotong royong yang sebenarnya.


Kalang kabut keempat dan merupakan yang terakhir adalah mempersiapkan mental dan kesehatan siswa. Dua hal ini jauh lebih penting dibandingkan persiapan kemampuan. Sebab mental dan kesehatan merupakan dukungan utama dalam pelaksanaan UN. Ini artinya harus pintar menyembunyikan segala kalang kabut yang mendiami otakku dan merubahnya dengan sikap optimisme didepan para siswa. Sebab salah satu tugas guru adalah motivator. Selalu memberikan dukungan apapun yang terjadi. Baik atau buruk, sederhana atau rumit, mudah atau sulit. Dan menurutku solusi kalang kabut terakhir inilah yang paling susah dilakukan.
Dengan persiapan yang sudah dilakukan, aku hanya bisa berdoa agar semua siswaku lulus dan menjadi penerus bangsa yang bisa di andalkan dalam membangun Indonesia. Akhirnya….selamat tinggal kalang kabut.


Artikel Terkait
123456789101112131415