Custom Search

2011-01-22

AKU SUDAH TIDAK PERAWAN

“Aku sudah tidak perawan…”
Pernahkah mendengar kalimat itu dikatakan seorang gadis dengan percaya diri. Jarang. Sering ditemui perkatan tersebut ditemani segelas tetes air mata, sepiring perkataan lirih, semangkok ketakutan dan kecemasan, dan bleppp… jadilah adonan pernyataan seorang gadis tersebut membuat mata yang mendengarnya membulat, mulut membentuk lingkaran, dan jantung berhenti berdetak sejenak. Lalu…. Selanjutnya terserah anda (berdetak lagi atau hilang kendali, hehehe…)

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia perawan dinyatakan sebagai anak perempuan yang sudah patut kawin dan belum pernah bersetubuh dengan laki-laki. Sedangkan Wikipedia merujuk perawan pada seorang wanita muda/dewasa yang belum mempunyai suami. Secara umum, perawan juga direlasikan dengan kesucian. 


Secara fisik hilangnya keperawanan biasanya disertai dengan keluarnya darah dari daerah vagina saat mengadakan hubungan seksual pertama kali. Dalam istilah Islami, keperawanan bukan sekadar masih utuhnya selaput dara di vagina, melainkan setiap wanita yang belum pernah melakukan aktivitas-aktivitas seksual.


Keperawanan sering menjadi prasyarat yang mutlak dimiliki oleh mempelai wanita ketika akan menikah. Keperawanan dalam segi fisik tentunya, yaitu pecahnya selaput dara. Sedangkan dalam segi non fisik sering terlewatkan. Dan saat ini telah ada operasi himenoplasti untuk perbaikan selaput dara, bahkan adanya penanaman kapsul gelatine agar darah keluar saat melakukan hubungan seksual. Lalu dimana kemudian letak keperawanan fisik seorang wanita jika penemuan teknologi telah menemukan solusinya?


Hakikatnya keperawanan adalah kesucian. Kesucian diri dan jiwa seorang wanita. Bukan hanya fisik atau sekedar ranah kelamin dan selaput dara. Bukankah seorang wanita tidak hanya terdiri dari alat kelamin? Atau selaput dara yang selama ini menjadi keagungan seorang perawan?
Wanita perawan adalah seorang wanita yang menjaga diri dan jiwanya dari hal terlarang dan menimbulkan fitnah dalam kehidupan sosial. Menjaga pandangan, menjaga pendengaran, menjaga ucapan, menjaga penciuman, menjaga langkah kaki, menjaga telapak tangan, dan menjaga hati. Tapi tidak termasuk menjaga laki-laki. (kalau yang ini kerjaannya emak-emak, hehehe)
Tentu bukan pekerjaan mudah menemukan wanita perawan secara hakikatnya. Terlebih lagi dalam menjaga penyakit hati. Namun disitulah kuncinya. Wanita yang berhasil menjaga hati dari segala penyakit dan menjaga kelima indra dari hal yang terlarang dan menimbulkan fitnah akan senantiasa menjaga kesucian fisiknya.
Jadi bebaskanlah keperawanan dari kepemilikan selaput dara karena keperawanan bersifat universal, bukan hak milik selaput dara semata. (Hasil unjuk rasa tuntutan keperawanan kepada selaput dara)



::: Mohon kiranya dimaklumi jika ada perbedaan pemahaman, hanya sekedar berbagi pendapat. Bukankah perbedaan itu indah? :::

                                                                                                                                                                                                                              Falkhi -- 22012011
Artikel Terkait
123456789101112131415