Custom Search

2010-08-30

MERENUNG


Sebuah novel baru saja selesai ku baca, entah berapa ratus halaman isinya. Aku tak peduli. Aku hanya senang membaca. Sehari, dua hari atau seminggu pun aku sanggup tenggelam dalam dunia baca, dunia buku. Dari kecil aku memang suka membaca, dan sampai hari ini aku cinta baca. Membaca adalah sebagian dari hidupku.
Suka akhirnya menjadi cinta, dan cinta membuat gairah selalu ada untuk melakukannya. Itulah yang ku rasakan saat menenggelamkan diri pada dunia baca. Tetapi sayang, aku termasuk orang yang sulit mengingat. Jadi, jangan pernah bertanya buku apa saja yang pernah ku baca. Lupa! Mungkin hanya beberapa kalimat saja yang ku ingat, itupun kalau memoryku tidak lupa menghapusnya.



Gairah membaca yang selalu ku rasakan meletup-letup dalam diri membuat iri sebagian alam sadarku. Sebab selain membaca gairah itu tak pernah nampak stabil menghinggapi kegiatan lain, bahkan terkadang hanya mendatar di bawah garis limit yang seharusnya. Termasuk dalam pekerjaan. Entah aku melakukannya karena cinta atau sekedar kewajiban manusia harus bekerja. Aku hanya tahu, aku mencintai mereka. Mereka yang tiap hari ku hadapi segala polah tingkahnya. Lainnya, aku tersesat tak menemukan jawaban. Aku sering memikirkannya, mengulas, mencari benang peristiwa tetapi tetap tak ada jawaban pasti. Itu juga yang membuat gairah pekerjaanku pucat, nyaris tanpa warna.



Aku selalu berusaha untuk bekerja dengan gairah, dengan rasa cinta yang mendalam. Bukan hanya terhadap mereka, tetapi juga terhadap pekerjaanku. Hasilnya, sampai sekarang tak ada gairah yang meletup untuk bertemu dengan pekerjaanku. Tetap datar, layaknya siklus siang malam. Setelah siang, malam. Setelah malam, siang. Tidak ada perubahan. Bosan!

Seharusnya aku tidak mengatakan bosan, karena sama artinya dengan keacuhan pada Sang pemilik Alam. Padahal Dia telah mengijinkan aku tinggal didalamnya, diberikan pendidikan dan pekerjaan layak, disaat manusia lain berkejaran meraihnya. Aku tak pantas mengacuhkan dan membiarkan kemurahanNya karena Dia telah memberikan yang ku butuhkan, jauh melampaui realita kebutuhan dalam angan citaku.
Aku hanya ingin mencintai, membiarkan gairah meletup dalam diri ketika menyambutnya. Merasakan kehilangan dan kehampaan saat meninggalkannya. Menghirup kenikmatan yang sempurna saat melakukannya. Sama seperti saat aku membaca. Bukan hanya sekedar kewajiban semata tetapi juga karena cinta dan rasa syukur yang tak terkira padaMu, pencipta Alam Semesta.


BT, 09-05-2010, 11.19 PM
Artikel Terkait
123456789101112131415