Custom Search

2018-09-08

KEMERIAHAN KARO, HARI RAYA ADAT SUKU TENGGER

Suku Tengger merupakan masyarakat yang tinggal di kawasan pegunungan Bromo. Menurut sejarah, suku Tengger adalah keturunan dari para pengungsi kerajaan Majapahit yang melarikan diri karena adanya ekspansi dari kerajaan Islam. Melarikan diri dan terisolasi di daerah pegunungan membuat budaya masyarakat Tengger berbeda dari wilayah sekitarnya. Seperti bahasa, kalender, dan aneka ragam tradisi adat yang masih dipegang teguh oleh keturunan suku Tengger hingga saat ini.   



Salah satu tradisi adat yang dilestarikan adalah Karo. Karo merupakan hari raya adat suku Tengger yang dilaksanakan pada bulan kedua (bulan karo) kalender Tengger. Tepatnya dua bulan setelah hari Yadnya Kasada. Bedanya hari raya Karo tidak dilaksanakan bersama-sama oleh suku Tengger seperti halnya Kasada. Melainkan berbeda untuk setiap desa suku Tengger. Menyesuaikan dengan hitungan hari masing-masing desa.

Karo dilakukan sebagai bentuk ucapan terima kasih suku Tengger kepada sang kuasa atas  kesuburan tanah dan hasil panen yang melimpah. Pelaksanaannya berlangsung selama satu minggu. Hari pertama ditandai dengan berkumpulnya warga suku Tengger di balai desa dengan membawa sesaji dan kirab sodoran. Sodoran merupakan tarian yang menggambarkan penciptaan benih laki-laki dan perempuan di jagat raya.

Namanya ucapan syukur, maka hari raya karo selalu disambut meriah oleh masyarakat Tengger. Caranya dengan menghias rumah dan sepanjang jalan desa dengan umbul-umbul. Tidak hanya itu, layaknya lebaran dan hari natal, masyarakat suku tengger berbondong-bondong belanja dan membuat open house di rumah masing-masing. Open house ini tidak hanya dikhususkan pada warga Tengger lho, tetapi juga masyarakat luar yang masih memiliki ikatan keluarga, pertemanan, atau mungkin baru kenal.
Ya, pada hari raya Karo masyarakat suku Tengger tak segan mengundang kerabat, teman, dan kenalan untuk berkunjung ke rumahnya. Undangan biasanya disampaikan secara lisan dan diberitahukan sejak jauh-jauh hari. Seperti yang saya alami. Tahun ini saya mendapat undangan karo dari siswa yang pernah tinggal bersama, namanya Dwi.
Dwi merupakan suku Tengger yang tinggal di wilayah Wonokerso, kecamatan Sumber, Probolinggo. Jauh-jauh hari dia memberitahukan bahwa Karo dimulai pada tanggal 29 Agustus 2018. Karena hari aktif, maka saya niatkan untuk datang pada hari minggu.

Wilayah Wonokerso berada hampir di puncak wilayah Sumber, berdekatan dengan wisata B29. Jadi bisa dibayangkan bagaimana jarak perjalanan yang akan ditempuh. Saya mulai mengajak teman dan saudara untuk ikut, namun tak disangka. Semua yang saya ajak tidak bisa menemani tepat pada hari H. Saya terpaksa berangkat sendiri dengan sepeda motor. Hiks.

Perjalanan menuju Wonokerso, Sumber

Perjalanan yang melewati hutan pinus, cemara, hingga wilayah pegunungan membuat saya harus berhati-hati. Apalagi beberapa kondisi jalan yang masih rusak dan lengangnya masyarakat yang melewati jalan. Namun, perjalanan yang sepi akhirnya berubah saat masuk ke wilayah pemukiman masyarakat Tengger. Aneka umbul-umbul terpasang di setiap rumah, suara musik terdengar dari balai desa, dan riuh kendaraan bermotor saling silih berganti berpapasan dengan saya.

Meriah dengan anek umbul-umbul

Saya tak menyangka Karo akan begitu meriah. Saya yang awalnya khawatir karena jalan yang sepi akhirnya merasa lega. Sebab kondisi jalan sangat ramai dengan masyarakat Tengger yang sibuk beranjangsana dengan pakaian khas berupa sarung atau selendang.

Setelah tiga jam perjalanan, akhirnya saya sampai pada si empu undangan. Saat masuk ruang tamu, saya langsung menghadapi aneka sajian kue dan minuman yang tertata rapi di meja ruang tamu. Tidak hanya itu, sajian aneka lauk juga memenuhi meja makan. Saya pun takjub dengan banyaknya makanan yang disajikan.

Hidangan di ruang tamu

Dwi juga mengajak saya ke tempat saudaranya yang juga merupakan siswa saya. Pertama yang terlihat ketika masuk rumah adalah sajian aneka kue dan minuman. Beberapa menit setelah mengobrol, saya kembali diminta untuk makan. Sama seperti di rumah Dwi, aneka lauk terhidang memenuhi seluruh bagian meja makan. Saya lagi-lagi takjub, hehe.

Makaaan, hehehe

Note ya, para tamu yang berkunjung saat Karo pantang untuk menolak makanan. Semua tamu yang berkunjung harus makan. Adat. Begitu katanya. Bisa dibayangkan bagaimana jika berkunjung ke banyak tamu, pasti kenyang kan?  Hehehe. Padahal sebagaimana adat Karo, masyarakat Tengger harus saling mengunjungi. Hampir dipastikan dalam satu hari mereka bertamu pada sekitar 20 – 40 rumah. Bagaimana nasib perut jika dalam satu hari mengunjungi 40 rumah dan wajib makan?

Ternyata ada trik yang dipakai para warga ketika berkunjung. Ini saya dapatkan ketika ikut duduk berkunjung di rumah salah satu warga Tengger. Para tamu hanya menghabiskan waktu sekitar 5 – 10 menit di setiap rumah. Urutannya adalah mereka bersalaman dengan empu rumah dan duduk di ruang tamu. Setelah berbasa basi sebentar, mereka dipersilakan untuk makan. Setelah makan selesai, mereka pamit dan kembali bertamu di rumah yang lain.

Warga Tengger yang sedang bertamu

Bagaimana makan agar tidak kenyang dan dapat diselesaikan dengan waktu yang sempit? Ternyata triknya adalah makan hanya dengan mengambil satu lauk kecil. Seperti satu telur puyuh, satu sendok abon, atau satu iris nugget. Wah, berbeda dengan saya yang masih asyik menyendok nasi, hahaha. Pantas, jika dalam satu kali makan saya ditemani 3 kali rombongan tamu lain. Sebab mereka makan serba cepat dan saya makan serba menikmati, hehehe. Maklum, saya hanya berkunjung ke tiga rumah, berbeda dengan mereka yang berkunjung ke 20-40 rumah dalam satu hari.

Itulah kisah saya saat ikut memeriahkan Karo, hari raya adat suku Tengger. Ada yang penasaran dengan hari raya Karo? Bolehlah berkunjung ke Bromo tahun depan pada saat Karo. Yakin deh, masyarakat Tengger akan membuka pintu lebar-lebar ketika kita berkunjung. Bagaimana, mau?

Asyik, pulangnya dapat oleh-oleh kentang, hehe. Terima kasih.

 
Artikel Terkait
123456789101112131415