Custom Search

2018-04-13

KETIKA NASKAH “ASYIKNYA MENGAJAR FISIKA” MENJELMA MENJADI BUKU

“Impian adalah rumah dalam satu babak kehidupan”
Setiap orang memiliki mimpi yang ingin dicapai. Begitu pun dengan saya. Salah satu mimpi saya adalah mampu menulis naskah dan mewujudkannya menjadi sebuah buku. Sekarang mimpi ini tercapai. Naskah “Asyiknya Mengajar Fisika” sudah menjelma menjadi sebuah buku. Alhamdulillah, horeee! Hehehe.


Sepuluh tahun lalu, saya menuliskan mimpi untuk memiliki sebuah buku solo kategori non fiksi. Saat itu, saya masih baru belajar menulis. Jangankan menulis buku, menulis artikel dua halaman saja sudah membuat kepala berbintang-bintang. Tapi saya terlalu percaya diri saat itu. Tanpa ragu menulis “menerbitkan buku non fiksi” pada lembar mimpi di agenda pribadi.


Detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun berlalu mulai berlalu. Kemampuan menulis saya masih tetap sama. Hanya bisa bertahan menulis satu hingga dua halaman artikel. Padahal untuk menghasilkan sebuah buku, naskah minimal ada di kisaran 150 halaman. Hyaa... jauh amat ya.    

Tahun 2014, saya yang saat itu bergabung dengan komunitas IIDN (Ibu-ibu Doyan Nulis) Semarang memberanikan diri ikut menulis proyek buku milik IIDN. Judulnya Inspirasi Untaian Nama Bayi. Bisa dibayangkan lah isinya. Hehehe. Buku itu pun sukses menjadi buku antologi pertama saya.

Tahun 2015, saya kembali ikut dalam sebuah proyek buku antologi. Kali ini antologi puisi. Jika ditilik dari jumlah karya yang saya tulis dalam kedua antologi tersebut, terbukti belum ada peningkatan. Kemampuan saya masih setia pada angka satu hingga dua halaman. Belum bisa lebih, apalagi sampai ratusan. Membuat mimpi saya semakin jauh dari kenyataan. Hiks.

Masih dalam tahun yang sama, saya mendapat info tentang Sekolah Perempuan (SP). Kelas menulis online yang dikhususkan bagi perempuan. Kelas menulis ini diselenggarakan oleh  IIDN. Saat itu SP akan membuka kelas untuk gelombang 9. Hm, ikut gak ya?

Setelah melalui pertimbangan waktu, tenaga, biaya, dan mimpi yang ingin diwujudkan, saya pun memutuskan untuk menjadi peserta pada SP-9. Pelatihan dilaksanakan selama 3 bulan secara online. Baik dalam bentuk paparan, diskusi, hingga bimbingan agar bisa menyelesaikan sebuah naskah.

Saya yang biasanya hanya mampu menulis maksimal 3 halaman, kini dituntut untuk bisa menulis 150 halaman. Duh, kenangannya tidak bisa dilupakan. Bergantian antara bingung, khawatir hingga tidak bisa tidur karena memikirkan naskah yang belum selesai ketika pelatihan sudah mendekati finish. Beruntung, mentor saya masih bersedia membimbing hingga naskah selesai walaupun di luar waktu pelatihan. Alhamdulillah.

Setelah banting tulang dalam menulis naskah, akhirnya si naskah bisa selesai juga di bulan kelima alias molor dua bulan. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, hehehe. Naskah tersebut kemudian ditawarkan ke penerbit melalui agency naskah dari pihak SP. Tiga bulan berlalu, ternyata belum ada kepastian terbit. Saya pun menarik naskah tersebut dan meminta ijin untuk ditawarkan ke penerbit lain.

Saya kemudian mengirimkan pada penerbit X dan mendapat balasan bahwa naskah Asyiknya Mengajar Fisika akan dievaluasi. Sebulan setelahnya saya mendapat kabar lanjutan yang mengatakan naskah saya belum lolos seleksi. Saya berusaha untuk tidak patah semangat dengan tetap mencoba menawarkan naskah pada penerbit lain. Sebut saja penerbit Y. Balasan dari penerbit Y cukup lama dan hasilnya ternyata sama. Naskah saya belum lolos untuk diterbitkan di tempat mereka.

Saya pun mencari penerbit lain yang sesuai dengan genre naskah. Lalu, kembali mengirimkan naskah. Balasan dari penerbit ketiga ini membuat saya senang. Mereka menerima naskah saya. Sayang, penerimaan naskah melalui sistem subsidi alias harus membayar sekian persen dari biaya penerbitan. Setelah mengetahui biaya minimal yang harus dikeluarkan, saya akhirnya membatalkan proses terbit. Tabungan belum cukup, hehehe.

Kabar dari penerbit ketiga tersebut membuat saya tidak percaya diri untuk mengajukan naskah kembali. Saya berusaha untuk melupakan naskah tersebut. Sekitar tahun 2017, saya melihat banyak iklan penerbitan indie di timeline media sosial. Awalnya saya cuek-cuek saja. Tetapi karena iklan tersebut tidak putus asa untuk selalu tampil, akhirnya hati saya tergerak untuk melihat informasi tentang penerbit indie. Saya pun berkunjung ke salah satu pemilik iklan dan mulai mencari informasi.

Informasi yang saya dapat ternyata sangat mengganggu pikiran. Kenapa? Karena membuat saya tertarik untuk menerbitkan naskah yang terlupakan. Hehehe. Naskah yang saya tulis dengan penuh penghayatan dan pengorbanan. Sayang kan jika tidak diterbitkan. Oleh sebab itu, akhirnya saya memutuskan untuk mencetak naskah tersebut. Tetapi, penolakan-penolakan sebelumnya membuat saya tidak percaya diri dan memutuskan untuk cetak buku secara terbatas. Hanya 15 buku. Itu pun saya rencanakan untuk dibagikan, bukan untuk dijual.

Setelah proses seleksi, editing, dan pecetakan selama 4 bulan, akhirnya sebuah paket tebal sampai di rumah. Paket yang berisi 15 naskah Asyiknya Mengajar Fisika ini membuat saya senang bukan kepalang. Senang karena akhirnya naskah Asyiknya Mengajar Fisika menjelma menjadi sebuah buku. Senang karena mimpi saya untuk memiliki sebuah buku bisa terwujud walaupun harus melalui rentang waktu 10 tahun dan masih memiliki banyak kekurangan dalam naskahnya.

Sampul belakang buku

Begitu paket tiba, saya tak sabar membuka sampul plastik pembungkus buku. Melongo dan memandang tak percaya pada sampul yang menuliskan nama saya. *sok dramatis ya, hahaha. Namanya juga buku pertama dan kemampuan menulis saya masih seujung kuku dibandingkan teman-teman yang sudah memiliki tumpukan buku sebagai hasil karya. Jadi, maklumlah kalau saya sedikit alay. Hihihi.

Buku yang terbatas ini kemudian saya seleksi untuk dibagikan. Sebelumnya saya unggah di media sosial, sebagai bagian ucapan terima kasih kepada pihak SP yang  telah membantu saya dalam mewujudkan mimpi memiliki sebuah buku solo non fiksi. Tidak disangka, postingan tersebut membuat beberapa teman bertanya dan membeli. Saya mengiyakan dan segera megirimkan keesokan harinya.

Ternyata, dampak posting itu belum berhenti. Chat di grup kuliah ramai karena teman-teman menginginkan buku Asyiknya Mengajar Fisika. Teman-teman meminta segera dikirimkan buku tersebut. Perasaan senang dan bingung pun menjadi satu. Sebab, tidak memungkinkan mengirim pada semua teman karena jumlah buku yang terbatas. Akhirnya saya memutuskan mencetak buku untuk kedua kalinya. Sebab lebih banyak jumlah pemesan buku dibandingkan dengan jumlah buku yang tersedia. Saya bahkan tidak memiliki arsip untuk dipamerkan karena memilih mengirimkan semua buku yang tersedia. Duh, nasib deh, hehehe.  

Buku siap kirim

Buku yang dicetak awal memang habis dan masih ada beberapa nama pemesan yang belum memiliki. Tetapi saya meyakini masih banyak kekurangan dalam buku Asyiknya Mengajar Fisika. Masih banyak bagian yang harus disempurnakan. Temasuk kemampuan menulis. Untuk itu, saya berharap buku Asyiknya Mengajar Fisika bukan karya terakhir. Saya masih ingin belajar menulis dan melanjutkan mimpi untuk kembali menulis naskah serta mencetaknya menjadi sebuah buku. Doakan ya dan semoga yang mendoakan juga bisa meraih mimpinya. Aamiin. 

Artikel Terkait
123456789101112131415