Custom Search

2016-01-06

IMPIAN KE JEPANG

Mimpi itu harus ditanam, disiram, dan dirawat agar dapat tumbuh dan memberikan wangi yang diinginkan.

Sumber : www.pemaganganjepang.com

Beberapa bulan terakhir, saya hampir tergila-gila dengan hal-hal yang berbau J-Pop. Baik film, dorama, maupun musiknya. Bahkan, playlist saya berubah menjadi deretan lagu-lagu dari negeri Sakura tersebut. Beberapa aktor, aktris, dan penyanyi Jepang pun mulai familiar dalam otak saya. Bagaimana ini bisa terjadi?


Sebelumnya, saya hanya tertarik pada komik. Doraemon. Karakter kucing yang saya kenal sejak kecil. Lalu, Conan. Kisah detektif mungil yang selalu membuat saya belajar untuk menebak pelaku dari suatu kasus kejahatan. Walaupun banyak komik lain yang saya baca, tetapi hanya dua komik tersebut yang membuat kesan mendalam.

Saat masih SMA, saya bercita-cita ingin berkunjung ke Jepang. Kemajuan teknologi dan sains menjadi salah satu alasan untuk bisa menjejakkan kaki di sana. Sampai di bangku kuliah, saya terus menyimpan keinginan itu. Hanya sekedar menyimpan, dan saya tidak melakukan apa-apa untuk mewujudkannya.

Setelah lulus dan bekerja sebagai guru, saya baru mengetahui informasi tentang Monbugakusho. Pelatihan guru di Jepang yang seleksinya di selenggarakan setiap tahun. Persyaratan administrasi yang mewajibkan pengalaman mengajar selama 5 tahun membuat saya kembali menyimpan impian ke Jepang. Saya harus bersabar dan menunggu.

Selama masa menunggu, saya melanjutkan pendidikan pascasarjana. Dan dua tahun lalu saya berhasil lulus. Tepat di tahun kelima masa mengajar. Tetapi, terkait dengan administratif, saya lagi-lagi belum berhasil untuk mewujudkan mimpi mengunjungi negeri matahari terbit.

Ketika menempuh pendidikan pascasarjana, keinginan melakukan perjalanan ke Jepang semakin menggebu. Saya mulai membeli buku-buku yang menceritakan tentang Jepang. Mengikuti kuis-kuis yang memberikan hadiah ke Jepang. Bahkan, saya sering gugling wisata-wisata di Jepang dan menempel gambarnya di dinding. Dengan melihat gambar tersebut, saya berharap keinginan saya dapat terkabul.

Buku-buku tentang Jepang banyak menyertakan percakapan sederhana bagi para pelancong yang akan kesana. Meskipun dinyatakan sederhana, bagi saya percakapan tersebut tetap sulit. Terlebih lagi saya lemah dalam belajar bahasa. Akhirnya, saya berpikir untuk belajar bahasa Jepang melalui film. Saya berfikir, belajar melalui film akan lebih mudah dan menarik.

Saya yang awalnya menyukai film Korea, mulai belajar untuk menonton film Jepang. Awalnya, pengalihan tontonan itu saya lakukan jika teringat impian yang tersimpan. Namun, semakin lama saya benar-benar kecanduan dengan J-Pop. Bukan hanya pengalihan semata.

Kecanduan membuat saya mulai familiar dengan bahasa Jepang. Memahami sedikit demi sedikit. Semoga ini adalah tabungan yang nantinya akan membawa saya menciun wangi bunga Sakura. Aamiin.   


Artikel Terkait
123456789101112131415