Custom Search

2015-09-18

INI BATIKKU, MANA BATIKMU? : SUSAHNYA BELAJAR MEMBATIK

Yeay! Akhirnya saya punya kain batik produksi sendiri. Senang? Pastinya, apalagi setelah tahu kalau membatik itu susahnya minta ampun. Masih ingat kan, tulisan saya tentang susahnya belajar membatik. Terutama waktu mencanting. Nah, setelah mencoba begadang dan bersemangat 45 di pagi harinya, proses mencanting selesai juga. Rasanya? Lega banget walaupun pinggang dan punggung terasa kaku seperti robot. Maklum, waktu mencanting badan terlalu tegang karena takut hasilnya tidak sempurna. Tetapi, tetap saja hasil cantingan saya masih banyak yang meluber dan tidak tembus. Sedih deh, hiks.

Batik yang sudah dicanting. Masih terlihat bagus nih, hehehe.
Langkah selanjutnya, adalah mewarnai. Proses mewarnai dilakukan dengan mencolet, yaitu memberikan warna pada batik dengan menggunakan kuas. Hampir sama dengan melukis tetapi ini melukis di atas kain. Bagi saya, proses ini lebih mudah dibandingkan mencanting. Walaupun sama-sama memberikan hasil sakit punggung dan pinggang. Hehehe.

Untuk proses mewarnai, dibutuhkan batang bambu sebagai tempat membentang. Batang bambu ini kemudian diikat dan diselipkan karet elastis di beberapa bagian. Karet elastis ini kemudian direkatkan pada kain dengan menggunakan peniti besar. Ingat, kain harus dibentang dengan sangat kuat agar mempermudah proses mewarnai. 

Proses mewarnai dengan mencolet
 Warna yang saya pilih untuk batik yang saya buat adalah warna merah untuk strawberry, warna hijau untuk daun strawberry, warna biru dan ungu untuk daun dan garis, serta warna kuning untuk dasar kain. Proses mewarnai dimulai dari gambar pola, setelah sedikit kering baru memberi warna dasar. Jika setelah kering warnanya masih terlihat pucat, proses mewarnai dapat diulang hingga menghasilkan warna yang kuat sesuai selera.

Kain batik siap diberi warna dasar. Warna strawberrynya meluber. Hiks
Hasil mencanting yang tidak tembus akan menyebabkan warna meluber sehingga tercampur dengan warna lainnya. Begitu juga dengan gambar yang garisnya tidak tertutup, warnanya akan bercampur dengan warna lain. Seperti milik saya, warna merah strawberry meluber keluar karena proses mencanting yang tidak sempurna sehingga tidak tembus. Gagal deh melihat strawberry yang cantik dan segar. Huft.

Batik yang sudah diwarnai. Banyak warna yang meluber.

Batik dijemur agar warnanya kering dan menempel pada kain.
Setelah proses mewarnai selesai, kain dijemur atau dianginkan hingga kering. Kain yang sudah kering kemudian dilapisi dengan water glass. Water glass ini berfungsi untuk melekatkan warna pada batik sehingga tidak luntur. Proses memberi water glass dapat dilakukan dengan mencolet kain menggunakan kuas yang besar.  

Batik yang sudah diberi water glass

Seharusnya setelah diberi water glass kain langsung dijemur hingga water glass kering. Tetapi karena kain batik saya bermasalah dengan luberan warna akibat mencanting yang tidak sempurna, pak pelatih mengusulkan untuk disemprot terlebih dahulu alias menggunakan teknik smoke. Semprotan abstrak ini berfungsi untuk mengelabui luberan warna biar batiknya tetap kelihatan cantik. Hehehe. Warna yang digunakan untuk smoke adalah warna merah, sebab warna yang terlihat meluber adalah warna merah yang ada di strawberry.


Cara menggunakan teknik smoke adalah dengan melipat kecil-kecil kain yang sudah diwater glass. Sebelumnya, tutup botol tempat pewarna dilubangi dengan paku. Kain yang sudah dilipat kecil kemudian disemprot-semprot secara merata hingga berubah warna, sesuai selera empunya. Jika sudah selesai, kain dijemur kembali hingga water glass kering.

Batik dilipat kecil-kecil

Batik disemprot dengan warna merah. Udah mulai gelap kan warnanya?
Water glass yang kering akan membuat kain menjadi kaku. Oleh sebab itu, proses setelahnya adalah mencuci. Pada waktu mencuci, kain dikucek-kucek hingga water glassnya hilang dan kain lemas kembali. Kain kemudian dijemur kembali hingga kering.

Batik dijemur hingga kering sebelum direbus.
Selesai? Belum. Masih ada satu tahap lagi, yaitu tahap menghilangkan malam dari kain yang disebut dengan melorot. Caranya? Kain direbus dengan air yang sudah dicampur tepung tapioka. Tidak perlu banyak, cukup 2 sendok makan tepung tapioka kemudian dicairkan dan dicampur dengan air untuk merebus. Tunggu hingga air mendidih, kain kemudian dicelupkan. Diaduk-aduk sekitar 5-10 menit lalu ditiriskan. Selanjutnya, kain dicuci kembali untuk menghilangkan tepung yang menempel. Kain yang sudah bersih dari malam dan tepung ini kemudian dijemur hingga kering. Kain batik yang sudah kering, siap untuk dikirim ke tukang jahit, hehehe.    

Ini batikku, mana batikmu

   
Artikel Terkait
123456789101112131415