Custom Search

2012-12-14

MUNGKIN SAJA


Dua jam yang lalu aku merencanakan tidur. Aku pun berbaring dan mengambil posisi untuk tidur. Setengah jam berlalu, aku tak kunjung tidur. Padahal mulut berkali-kali menguap dan air mata penanda kantuk sudah membasahi bantal. Aku beranjak bangun. Mematikan lampu kamar dan menguncinya. Berharap bisa mengantarkan tidur pulasku. Tak lupa mengambil headset dan mengalunlah lagu-lagu sendu dari handphoneku.

Satu jam dari rencana tidurku. Pulas belum juga datang. Bahkan kantuk mulai menghilang. Aku bingung. Memang aku tidur bukan karena kantuk. Tetapi lebih karena lelahnya pikiran. Sejak bangun tidur pagi, pikiranku labil. Aku berusaha menetralisirnya dengan menghirup udara segar, dan lari pagi keliling kompleks. Memancing jantung untuk lebih cepat berdenyut dan mengatur pernapasan. Usahaku berhasil. Tapi tidak untuk waktu yang lama.

Siang hari, konsentrasiku kembali hilang. Tiba-tiba saja aku kehilangan fokus saat mengerjakan tugas. Aku pun istrahat sejenak. Makan dan merebahkan diri. Aku belum bisa tidur karena harus kembali ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas. Aku berusaha mengatur konsentrasi dan berangkat menuju perpustakaan dengan semangat konsentrasiku akan kembali.

Bertahan beberapa menit. Bukan hanya konsentrasi yang hilang tetapi juga semangat. Aku linglung dalam posisi tatapan kosong. Aku mengalihkan pada surfing. Membuka jejaring sosial. Mungkin ada yang bisa mengembalikan kekosonganku. Nyatanya hampa yang ku rasakan. Update status yang tak bermakna. Sekedar menghilangkan penat jiwa. Kekosonganku tak bergeming.

Aku kembali menekuri tugas, walau aku tahu tak membawa hasil maksimal. Setidaknya aku masih berusaha untuk tetap pada konsentrasiku. Pada keinginan menyelesaikan tanggungjawab yang kini ku emban. Hingga jam berkunjung usai. Aku pun pulang. Berjalan kaki. Lagi-lagi dalam usahaku untuk mengembalikan konsentrasi.

Petang menjelang. Rencana sudah tersimpan. Makan, mandi dan istirahat menenangkan hati. Dua kegiatan terealisasi sempurna. Namun tidak demikian dengan rencana akhir. Tidur yang ku harapkan akan mengistirahatkan pikiran dan tubuhku, tak jua datang. Aku lelah hanya berbalik kanan-kiri di atas ranjang. Terpaksa aku bangun. Menyalakan laptop. Menulis. Mungkin saja sebelum tidur, pikiranku harus kosong, karena kini terlalu banyak hal dalam otak yang seharusnya dibuang.

Akhirnya setelah dua jam dari rencana tidur, bukan lelap tidur yang ku dapatkan, melainkan satu halaman tulisan tentang kelabilan emosiku. Atau ini adalah demo otak dan saraf-saraf tanganku agar aku menulis, setelah sekian lama hanya berkutat dengan tugas? Mungkin saja!


Semarang, 141212, 08:47 PM
Artikel Terkait
123456789101112131415