Custom Search

2009-11-18

BERGURU KEPADA ANJING

Belajar tidak harus di sekolah atau di lembaga pendidikan formal. Belajar dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja, seperti yang didefinisikan oleh aliran kontruktivisme. Belajar adalah upaya penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif dan refleksi serta interpretasi. Dari definisi tersebut juga dapat dikatakan belajar tidak harus dari seorang guru, pendidik, ataupun seorang yang bergelar sarjana pendidikan. Kita dapat belajar dari siapapun. Presiden, pejabat, tukang parkir, gelandangan, tumbuhan, hewan, serta alam di sekitar kita.

 
Salah satu hewan yang dapat kita jadikan guru adalah anjing. Anjing adalah mamalia dalam susunan karnivora. Merupakan hewan piaraan pertama kali dan telah dipelihara semenjak 15.000 tahun lalu oleh manusia semasa hidup berburu. Anjing, seperti manusia adalah hewan social, dengan tabiat mudah dilatih, suka bermain, dan berupaya menyesuaikan dengan kehidupan dalam rumah manusia. Anjing telah hidup dan bekerja bersama manusia dalam banyak peranan sehingga mendapat mendapat gelar “Teman Terbaik Manusia”. Namun gelar tersebut tidak menjadikan manusia sadar untuk berguru kepada teman terbaiknya.

Tidak semua orang setuju dengan gelar anjing sebagai “Teman Terbaik Manusia”, karena oleh sebagian orang anjing dianggap sebagai hewan yang paling menjijikkan dan paling kotor. Bahkan anjing kerapkali dijadikan ungkapan untuk mengungkap dan mencaci seseorang. Dalam Islam sendiri menghukumi najis mughollazah (maha berat) bagi siapa saja yang menyentuhnya. Segala sesuatu tidak selamanya buruk dan tidak selamanya baik. Begitu pun anjing, dibalik kekotorannya, anjing memiliki sifat-sifat yang dapat kita teladani. Misalnya sifatnya yang setia dan tidak mendendam. 

Semua orang pasti setuju jika mengatakan anjing adalah hewan yang setia. Bagi anjing liar kesetiaan ditujukan pada pemimpin kelompok sedangkan anjing peliharaan kesetiaannya ditujukan pada sang majikan/tuan. Anjing menganggap majikannya adalah pemimpin kelompok. Semua yang diperintahkan majikan akan ia lakukan. Anjing juga tidak akan pernah meninggalkan majikannya, terlebih lagi jika sang majikan menganggap anjing sebagai sahabat.karena kesetiaannya pula ada beberapa anjing peliharaan yang ikut merasakan kesedihan yang mendalam saat ditinggal mati majikannya, sampai-sampai tidak berselera makan hingga dapat melupakan sang majikan. Begitulah kesetiaan anjing pada manusia.

Sifat tidak mendendam anjing dapat dilihat ketika ia dipukul kemudian diberi sesuatu, maka ia akan kembali dan mengambilnya tanpa merasa dendam. Selain itu sifat kerelaan anjing berada dimana saja, dan pergi dari tempat dimana ia di usir ke tempat lainnya juga dapat kita jadikan contoh.


Dari sifat-sifat yang melekat dalam diri anjing, kita dapat belajar bagaimana kita bisa setia dalam hal apapun tanpa mengharapkan imbalan/pamrih, bagaimana kita bisa menerima dan membuka tangan lebar-lebar jika seseorang yang telah berbuat salah kepada kita, memohon maaf dan berjanji tidak akan mengulangi, bagaimana kita berlapang dada menerima segala keputusan yang mengakibatkan kita berada ditempat yang tidak kita sukai. Mungkin ada baiknya jika kita mulai berguru kepada anjing tentang hal tersebut. Belajar bagaimana kesetiaan, kerelaan dan keikhlasan diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya kita dapat belajar dari apapun, siapapun, dan dimanapun. Belajar tidak hanya tertentu pada pelajaran di sekolah seperti matematika, ekonomi, kesenian, kimia, fisika, dan pelajaran sekolah lainnya. Namun belajar adalah suatu proses perubahan perilaku, hasil pengalaman yang sifatnya relative menetap seperti definisi dari aliran behaviorisme.


Malang, 10 Mei 2006
Artikel Terkait
123456789101112131415