Custom Search

2009-08-09

"ANDAIKAN SAYA PENDERITA HIV/AIDS"


Tidak pernah terbersit dalam benak saya, andaikan suatu saat saya termasuk salah seorang dari penderita HIV/AIDS. Bahkan mungkin juga bagi semua penderita HIV/AIDS. Tentu saja, tidak ada seorang pun yang akan sukarela menyumbangkan tubuhnya untuk menjadi sarang penyakit, terlebih lagi HIV/AIDS. Namun ketika hal itu terjadi, kita tidak bisa mengelak. Sebagai gantinya kita harus menerima dengan lapang dan berjuang untuk sembuh.

Selain itu, sebaiknya kita juga berusaha untuk tidak menutup diri dan menyembunyikan keberadaan penyakit HIV karena kekhawatiran adanya stigma dari masyarakat. Sebab cara itu akan berdampak negatif pada diri kita sebagai penderita. Kita tidak dapat melakukan pengobatan, dan perawatan secara maksimal. Pencegahan penularan HIV pada orang lain juga sulit dilakukan akibat ketidaktahuan mereka pada keadaan kita.


Kita harus berani menghadapi segala stigma yang dilakukan masyarakat dan terus mencoba memberi pengertian dan informasi tentang HIV/AIDS agar mereka dapat menerima kita dengan terbuka.
Stigma atau hukuman sosial memang rentan terjadi pada kasus HIV/AIDS. Banyak cara yang dilakukan antara lain tindakan pengasingan, penolakan, diskriminasi serta penerapan karantina terhadap orang-orang yang terinfeksi HIV/AIDS.

Seperti yang disoroti media beberapa waktu lalu. Balita yatim piatu yang teridentifikasi mengidap HIV diusir oleh masyarakat sekitarnya akibat kekhawatiran adanya penularan virus HIV tersebut. Cukup miris, tetapi itulah yang terjadi dalam masyarakat kita. Padahal HIV tidak serta merta menular begitu saja, seperti halnya penyakit influenza. HIV hanya dapat menular melalui cairan tubuh manusia seperti darah, air mani, dan cairan vagina. Dapat pula ditularkan melalui pemakaian jarum suntik, tato, atau tindik yang mengandung HIV, transplantasi organ yang teridentifikasi HIV serta dari ibu kepada anak yang dikandung, dilahirkan dan disusui.

Salah satu penyebab adanya stigma pada penderita HIV/AIDS seperti dalam kasus di atas adalah kurangnya informasi tentang HIV/AIDS sehingga masyarakat dibayangi kekhawatiran jika dalam lingkungannya terdapat penderita HIV/AIDS. Stigma HIV/AIDS sendiri dapat dibagi menjadi tiga kategori yaitu:

1. Stigma Instrumental AIDS, yaitu refleksi ketakutan dan keprihatinana atas hal-hal yang berhubungan dengan penyakit mematikan dan menular.
2. Stigma Simbolis AIDS, yaitu penggunaan HIV/AIDS untuk mengekspresikan sikap terhadap kelompok sosial atau gaya hidup tertentu yang dianggap berhubungan dengan penyakit tersebut.
3. Stigma Kesopanan AIDS, yaitu hukuman sosial atas orang yang berhubungan dengan isu HIV/AIDS atau orang yang positif HIV.

Semua kategori stigma cenderung membuat penderita HIV/AIDS kesulitan melakukan pengobatan, dan perawatan. Stigma juga berdampak negatif pada psikologis penderita sehingga banyak penderita HIV/AIDS yang akhirnya menutup diri dan menyembunyikan penyakit yang diderita. Keadaan ini membuat tingkat morbiditas dan mortalitas akibat HIV/AIDS semakin tinggi. Penyebaran HIV juga akan semakin luas dan sulit dikendalikan. Lalu bagaimana sebaiknya sikap kita sebagai non penderita untuk mengurangi kekhawatiran penularan HIV dan menerima keberadaan mereka dengan tangan terbuka?

Langkah awal yang dapat kita lakukan adalah dengan mencari informasi sebanyak mungkin tentang HIV/AIDS. Tahapan HIV/AIDS, penularan, pengobatan, perawatan, dan pencegahan. Hal ini untuk mengurangi kekhawatiran penularan HIV dan sebagai bekal untuk menentukan sikap terhadap penderita HIV/AIDS tanpa adanya stigma.

Setelah kita memiliki segala informasi tentang HIV/AIDS maka langkah selanjutnya adalah bagaimana menerima keberadaan mereka disekitar kita dengan tangan terbuka. Sulit memang, apalagi sampai saat ini belum ada obat yang benar-benar dapat mematikan HIV. Tak heran jika masyarakat merasa khawatir akan tertular HIV. Namun kekhawatiran tersebut tidak boleh berlebihan sehingga melakukan stigma pada penderita HIV/AIDS. Kita harus berusaha untuk bersikap anti stigma dengan tetap berhati-hati terhadap penularan HIV.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk bersikap anti stigma adalah dengan menanamkan pada diri kita kalimat "Andaikan saya seorang penderita HIV/AIDS". Jika kalimat tersebut tertanam kuat dalam diri kita, maka bukan tidak mungkin akan menimbulkan rasa empati pada penderita HIV/AIDS. Timbulnya rasa empati dapat mengurangi adanya stigma terhadap penderita HIV/AIDS. Sebab dalam benak kita akan selalu berkecamuk pertanyaan-pertanyaan, bagaimana perasaan mereka? Bagaimana penderitaan mereka? Bagaimana kehidupan mereka selanjutnya setelah menjadi penderita HIV/AIDS?. Jika demikian, kita akan dapat menerima dengan tangan terbuka keberadaan mereka.

Penerimaan yang terbuka bermanfaat bagi psikologis penderita HIV/AIDS dan merupakan poin penting untuk mencegah penyebaran HIV lebih luas.

Sebagai keluarga, teman, atau masyarakat di sekitar penderita HIV/AIDS, sewajarnya jika kita mendukung psikologis penderita untuk tetap optimis dan bersikap positif dalam menjalani hidup selanjutnya. Membantu proses pengobatan dan perawatan serta memberikan informasi tentang langkah-langkah yang sebaiknya dilakukan penderita HIV/AIDS untuk mencegah penularan HIV pada orang lain. Bukan malah melakukan stigma ataupun diskriminasi terhadap mereka.

Sekali lagi, tanamkan kalimat "Andaikan saya adalah penderita HIV/AIDS" pada diri kita untuk mengurangi dan mencegah adanya sikap yang mengarah pada stigma terhadap penderita HIV/AIDS.


Artikel Terkait
123456789101112131415