Custom Search

2016-05-22

SELAMAT DENMARK! SEMANGAT INDONESIA! : EDISI THOMAS CUP 2016

Sumber : cdn1-a.production.liputan6.static6.com

Pertandingan Bulutangkis Beregu Putra Thomas Cup 2016 yang berahir hari ini resmi dimenangkan oleh Denmark. Denmark menang dengan skor tipis 3-2 atas Indonesia. Kemenangan Denmark ditentukan oleh pertandingan pemain tunggal, sedangkan kemenangan Indonesia berasal dari pertandingan ganda. Artinya, seandainya Thomas Cup memainkan lebih banyak pertandingan ganda, mungkin Indonesia yang akan menang, bukan Denmark. Hm... berandai-andai boleh kan? Sebab sudah 14 tahun si Thomas enggan pulang ke Indonesia. Tahun ini ada kesempatan untuk pulang, sayang Denmark lebih dulu mengamankan tiket kepulangan thomas ke Indonesia. Huahuahua... *sedih*



Perhitungan di atas kertas, kekuatan pemain Denmark memang lebih unggul dibanding Indonesia. Pemain unggulan dengan banyak pengalaman dan usia matang menjadi faktor keunggulan Denmark. Sedangkan Indonesia, hanya ada tiga pemain senior, yaitu pasangan ganda Mohammad Ahsan-Hendra Setiawan dan Tommy Sugiarto. Pemain lain diisi oleh skuad muda, yang bahkan usianya berada di bawah 20 tahun. Seperti Jonatan Christie dan Anthony S.Ginting.  

Sumber : cdn0-a.production.liputan6.static6.com

Keputusan PBSI sebagai emak bapaknya bulutangkis di Indonesia untuk menurunkan pemain muda tentu memiliki tujuan. Salah satunya adalah regenerasi pemain. Setelah era keemasan Taufik Hidayat yang berlanjut pada Sony DK dan Simon Santoso, keberadaan pemain tunggal putra Indonesia di pentas Internasional seperti hilang tertelan kabut. Terputusnya regenerasi pemain ini tentu merugikan, sebab Indonesia adalah salah satu kiblat bulutangkis dunia. Bulutangkis juga menjadi satu-satunya cabang olahraga yang beberapa kali menyumbangkan medali Olimpiade bagi Indonesia.

Situasi krisis pemain tunggal putra dan perlunya regenerasi pemain kemudian mendapat angin segar pada tahun 2014. Pada gelaran piala Thomas 2014 terdapat nama Ihsan Maulana Musthofa sebagai anggota tim Thomas Indonesia. Ihsan yang saat itu belum genap berusia 19 tahun menjadi pemain termuda dan mendapat kesempatan sebagai pemain tunggal putra keempat setelah Tommy, Hayom, dan Simon. Pemilihan Ihsan dikatakan Rexy seabagi ajang pembinaan untuk diproyeksikan pada piala Thomas 2016. Sayangnya, pada pertandingan tersebut Ihsan tidak memiliki kesempatan untuk bermain.

Pembinaan terhadap pemain muda putra melalui kompetisi berlanjut pada ajang-ajang pertandingan selanjutnya. Bahkan tak jarang, pertandingan tim beregu putra hanya diisi oleh pemain muda. Seperti halnya pada Seagames 2015. Banyak masyarakat yang pesimis bahkan mencibir dengan keputusan PBSI untuk menurunkan skuad muda dalam pertandingan penting. Tapi, inilah kunci regenerasi. Para pemain muda ini butuh pengalaman bertanding untuk menjadi yang terbaik. Seperti halnya tangga, untuk berada di puncak kita harus diberi kesempatan untuk berjalan menaiki satu-persatu tangga. Tidak serta merta langsung berada di atas. Untuk itulah, para pemain muda diikutsertakan dalam berbagai pertandingan.

Kesempatan yang diberikan kepada para pemain muda bulutangkis putra ternyata membuahkan hasil. Keraguan dan rasa pesimis pecinta bulutangkis dijawab dengan prestasi. Ya, skuad muda bulutangkis putra pada ajang Seagames 2015 berhasil meraih medali emas. Dilanjutkan raihan medali emas pada ajang Pertandingan Kualifikasi Thomas Cup 2016 Zona Asia.

Prestasi tersebut membuat para pecinta bulutangkis Indonesia mulai melirik para pemain muda bulutangkis putra. Mereka bangga dan mulai percaya bahwa pemain muda ini mampu berprestasi. Salah satunya dengan mengharapkan mereka menjadi kampium pada perhelatan Piala Thomas Cup 2016.

Namun, sungguh disayangkan. Perjalanan prestasi yang ditorehkan pemain muda bulutangkis putra seperti Jonatan, Anthony, Ihsan, Angga, Ricky, Gideon, dan Kevin pada Seagames 2015, Kualifikasi Thomas Cup 2016, dan Penyisihan Thomas Cup 2016 harus berakhir di final.  Final ideal antara pemenang Kualifikasi Thomas Cup Zona Asia dan pemenang Kualifikasi Thomas Cup Zona Eropa berhasil dimenangkan oleh Denmark. Sang jawara baru Thomas Cup dari benua Eropa. Kemenangan Denmark diperoleh dari pertandingan terakhir antara Vittinghus dan Ihsan dengan hasil straigh set 21-16, 21-7.

Harapan dan kebanggaan yang disandangkan pada para pemain muda perlahan-lahan berubah menjadi kekecewaan, kekesalan, cibiran, dan pengandaian. Persis seperti yang saya tuliskan di awal, andaikan yang dipertandingkan lebih banyak ganda bukan tunggal, mungkin Indonesia yang akan memetik kemenangan.

Tapi, apa pentingnya pengandaian setelah pertandingan berakhir? Apakah jika kita merubah, hasilnya akan berbeda? Kita sama-sama tidak tahu.

Sama seperti pecinta bulutangkis yang lain, saya juga kecewa dengan kekalahan Indonesia. Merasa sedih. Harusnya bisa menang, mengapa harus kalah. Mengapa Ihsan yang diberi kepercayaan untuk menghasilkan poin pada partai penentuan tidak dapat memberikan hasil terbaik.

Sumber : scontent.cdninstagram.com
Setelah berpikir, ternyata saya belum dewasa. Seperti yang dikatakan dalam Quote di gambar atas. Kita yang sudah dewasa harus sadar bahwa pertandingan tidak selalu diselesaikan dengan kemenangan, tetapi yang penting adalah pembelajaran.

Saya ingat, ketika menonton pertandingan penentuan Vittinghus dan Ihsan, wajah Ihsan terlihat menanggung beban dan kecewa. Beban untuk menjadi jawara dan kecewa karena berkali-kali usahanya untuk mendapatkan poin gagal. Bahkan, dalam game kedua, kamera sempat menyorot wajah lelah dan putus asa Ihsan saat terjatuh ketika berusaha mengembalikan bola. Wajah itu terus ditampakkan hingga penyerahan medali. Senyum terpaksa yang diberikan Ihsan saat diberikan ucapan selamat menandakan betapa ia merasa sedih karena tidak bisa mengembalikan Thomas ke Indonesia.

Lalu, saya yang menyatakan diri sebagai orang dewasa apakah pantas untuk merasa kecewa yang berlebihan? Merasa belum saatnya pemain muda untuk diturunkan sebagai pemain inti pertandingan?

Jika demikian, kapan para pemain muda dapat belajar? khususnya belajar mengasah mental. Sebab, kekuatan mental tidak dapat dipelajari dari buku, melainkan dihasilkan dari pengalaman. Akhirnya, saya mengucapkan selamat kepada para pemain Tim Thomas Indonesia 2016 dan terima kasih atas perjuangan yang sudah diberikan. Khusus kepada para pemain muda, Jonatan, Anthony, Ihsan, Angga, Ricky, Gideon, dan Kevin, Selamat Belajar dan Selamat Berjuang Kembali untuk menjadi pemenang.

Sumber : badmintonindonesia.org











Artikel Terkait
123456789101112131415