Custom Search

2015-09-27

EKSTRAKURIKULER MEMBATIK

Kali ini, saya kembali bercerita tentang membatik. Tahun ini, kegiatan membatik menjadi salah satu kegiatan ekstrakurikuler wajib di sekolah tempat saya mengajar, yaitu SMAN 1 Sukapura. Khususnya, untuk siswa siswi kelas XI. Pembimbing kegiatan membatik bernama pak Pri, seorang pengawas sekolah yang tinggal di sekitar sekolah dan bertahun-tahun eksis dalam kegiatan membatik.  

Kegiatan ekstrakurikuler membatik ini mengajarkan siswa membatik dari proses awal mendesain, mencanting, hingga mewarnai. Waktu kegiatan dilaksanakan pada hari sabtu selama 2 jam. Pada pelaksanaannya, siswa harus berkelompok 2 hingga 3 orang untuk mengerjakan proyek awal membatik di kain sepanjang 2 meter.
 
Kegiatan mencanting
Setiap kelompok ini berusaha untuk mendesain batik sesuai dengan selera. Ada yang mendesain kain batik dengan maskot daerah Sukapura, seperti gunung Bromo, strawberry, anggur, wortel, dan mangga. Ada pula yang menggambar dengan bunga-bunga, ukiran batik, bahkan logo salah satu klub sepakbola. 
Kegiatan mendesain, mencanting, dan mewarnai dilakukan bersama-sama dan bergantian. Pada proses mencanting, banyak siswa yang mengeluh karena mencantingnya tidak tembus, kepanasan, atau malam yang bercecer di beberapa bagian kain. Akibat proses mencanting yang tidak sempurna, saat mewarnai banyak warna-warna yang meluber. Kekecewaan terlihat di wajah beberapa siswa yang melihat desain batiknya tidak sesuai dengan yang diinginkan. Tenang saja nak, namanya juga pengalaman pertama, tidak sempurna itu wajar. Iya kan? Hehehe.
 
Setiap kelompok mencanting bersama-sama


Persiapan untuk mewarnai batik

Siswa saling membantu mewarnai antar kelompok
Proses pewarnaan batik

Batik yang sudah diwarnai kemudian dilapisi dengan water glass

Keluhan siswa karena hasil yang tidak sempurna tidak melunturkan antusiasme mereka dalam membatik. Bahkan sebelum jam membatik dimulai, beberapa siswa meminta ijin untuk membatik. Padahal dalam jam pelajaran, beberapa siswa tersebut terlihat bermalas-malasan. Rupanya mereka lebih senang membatik daripada pelajaran, hahaha. Semoga nantinya mereka dapat menggunakan ketrampilan membatik ini dalam membangun kehidupan dan masyarakatnya kelak. Aamiin.   
Artikel Terkait
123456789101112131415